Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #35

34 - Burung Surga

HARI ini mendung, sedikit berangin. Awes terduduk di kursi terdepan yang merupakan milik Yoga. Satu-satunya kursi yang sudah lama tak berpenghuni semenjak ditinggal pergi oleh sang pemiliknya.

Awes menopang kepala dengan tangan kiri, seraya menatap gumpalan awan berwarna kelabu. Tak ada rasa sedih, amarah, maupun sebuah letupan emosi. Hanya rasa hampa yang saat ini menemani. Ia merenung dan mengingat kembali kebersamaan dengan kedua sahabatnya. Hingga, tak sadar jika sebuah senyum telah terbit di sudut bibir, ketika mengingat kenangan indah itu.

Berbeda halnya dengan Happy yang berada di seberang kiri Awes, cewek itu tampak begitu gusar. Hampir beberapa menit ia menunggu panggilannya terangkat, sayangnya sama sekali tak ada tanda suara dari Arvin yang mengangkat panggilannya. Apakah sesuatu telah terjadi kepada Arvin, hingga cowok itu tak mengangkat panggilan darinya? Mendadak, Happy merasa takut sendiri.

Pasalnya, sudah hampir tiga hari ini setelah kejadian malam itu, Arvin tak terlihat batang hidungnya. Berkali-kali, Happy mencoba menghubungi, tetapi tak ada kabar yang didapati. Kini, Happy mencoba menenangkan diri. Namun, entah kenapa dadanya semakin berdebar tak henti.

Pandangan Awes kini menjelajah ke arah penjuru kelas. Ia tersenyum, ketika mendapati teman-temannya yang tampak begitu fokus menekuri buku-buku ilmu pengetahuan alamnya. Namun, keningnya mengerut saat melihat wajah gusar Happy.

Awes mendesah pelan. Ia tahu betul apa yang tengah dipikirkan oleh cewek itu saat ini. Ia pun memilih untuk bangkit dari duduknya dan menghampiri Happy.

“Kamu kenapa? Lagi mikirin Arvin?” tanya Awes seraya duduk di samping kanan Happy yang kosong.

Happy melenggut. “Sudah tiga hari dia nggak masuk sekolah dan nggak ada kabar, Wes. Aku takut terjadi sesuatu sama dia.”

“Aku tadi baru ketemu Arvin. Dia ada di kelasnya.”

Happy membeliak. “APA? Ka-kamu serius, Wes? Dia sudah masuk sekolah?” tanyanya takjub, tak percaya.

Awes melenggut. “Hhmm … Bagaimana kalau kita ke kelasnya dan ajak dia ke kantin?”

Happy tertegun. Ia bisa melihat ketulusan yang terpancar dari binar mata Awes. Mungkinkah cowok itu sudah bisa memaafkan Arvin? Semoga saja. Sebab, itu merupakan harapannya saat ini, bisa melihat kedua sahabatnya kembali bersama lagi.

Happy tersenyum. Ia pun menganggukkan kepala. Lalu, keduanya sama-sama bangkit dari duduk mereka untuk melangkahkan kaki keluar kelas. Namun, langkah keduanya harus terhenti di depan pintu kelas, ketika netra mereka mendapati dua orang Polisi yang baru saja memasuki kelas XI IPS 1 yang merupakan kelas Arvin.

Kali ini, Happy tercengung. Pandangannya beralih menatap Awes yang berada di samping kirinya. Sedangkan Awes juga melakukan hal yang sama. Tatapan mereka saling bertemu.

Happy menggeleng lemah. “Jangan bilang kalau Arvin–”

“Ayo, cepat! Kita ke sana, Py!” Tanpa buang waktu, Awes segera menarik pergelangan tangan Happy, mengajak cewek itu berlari untuk menuju ke kelas Arvin di mana telah ramai oleh para siswa yang berkerumun.

“Permisi! Permisi!” Awes mencoba untuk menerobos kerumunan bersama Happy yang mengekori di belakangnya.

Namun, sesampainya di barisan terdepan, mereka tercekat saat menemukan kedua Bapak berseragam itu merangkul pundak Arvin untuk membawanya keluar kelas.

Bagai gerimis, hati Happy mendadak terasa teriris ketika melihat pemandangan di depannya. Di mana sang Ayah sendirilah yang saat ini tengah merangkul Arvin.

“Tunggu, Yah!” Happy berusaha menghadang sang Ayah yang akan membawa sahabatnya keluar. “Ke-kenapa Ayah membawa Arvin?” tanyanya panik. Entah kenapa saat ini bibirnya terasa begitu kelu hanya sekadar ingin berucap saja.

“Ayah mendapatkan laporan dari salah satu temanmu, kalau Arvin adalah Wolf,” terang Adam yang berhasil membuat degup jantung Happy seakan berhenti berdetak.

Lihat selengkapnya