Satu bulan sebelum penangkapan
DI DEPAN meja belajarnya, jari-jemari Arvin tengah menaridi atas secarik kertas. Sebuah pesan akan rahasia besar yang selama ini ditutupi, akhirnya akan disampaikannya melalui surat yang akan diberikan oleh sang Burung Surga.
Hai, apa kabar, Burung Surgaku?
Burung surga atau burung cendrawasih adalah julukan yang pantas untuk kamu, Py. Kamu tahu? Cendrawasih memiliki bulu yang begitu indah, sehingga banyak orang yang menjulukinya sebagai burung surga. Bagiku, kecantikanmu bak bidadari surga yang telah berhasil membuatku terpesona dan ingin memilikimu. Tapi, aku sadar, Py, jika aku nggak pantas untuk mendapatkan semua itu. Karena, aku bukan cowok yang baik untukmu.
Melalui surat ini, aku juga ingin menyampaikan rahasia besarku ke kamu. Pasti kamu dan Awes masih bertanya-tanya, kan, siapa Wolf betina yang pernah kalian lihat pada rekaman CCTV waktu itu?
Dia adalah Mbak Wik.
Kini, seraya menulis, ingatan Arvin telah berhasil menembus batas waktu beberapa bulan yang lalu, di mana dirinya hampir tertangkap oleh Awes. Dan, saat itu pula, kali pertamanya mbak Wik tahu akan rahasia besarnya.
“JANGAN LARI! BERHENTI LO!” pekik Awes kencang, bersamaan dengan langkah yang kian cepat untuk mengejar Wolf yang berada di depan.
Arvin mendengkus kesal, ketika melihat sekilas ke belakang dan mengetahui jika jaraknya dengan Awes sudah cukup dekat.
“Sial!” Arvin langsung menambah kecepatan pada larinya, sehingga membuat deru napasnya kian memburu. Harapannya saat ini, ialah agar rapat orang tua murid segera selesai. Namun sialnya, rapat tersebut masih akan berakhir sekitar 15 menit lagi.
Awes mengepalkan kedua tangannya, ketika melihat orang itu menuruni anak-anak tangga. Segera, ia menambah kecepatan pada larinya dan turut menuruni anak-anak tangga dengan cepat, hingga tak sadar jika telah melangkahi gundakan dua anak tangga sekaligus.
Arvin kalut. Ia merasa kebingungan saat menemukan persimpangan koridor di depannya. Ke manakah arah yang harus ia tempuh sekarang? Namun, tak ingin dikuasai terus menerus oleh rasa kebingungan. Pada akhirnya, ia segera berbelok ke arah kiri, setelah sampai di lantai dasar. Ia kembali menoleh sekilas ke belakang, dan mengumpat kesal saat tahu Awes masih mengejarnya.
Namun, tak lama kemudian, Arvin menyeringai lebar. Dewi fortuna masih berpihak kepadanya. Kini, kedua netranya mendapati kerumunan para orang tua murid yang baru saja keluar dari ruang OSIS. Tanpa buang waktu, ia mempercepat larinya dan langsung masuk ke dalam kerumunan para ibu-ibu di hadapannya.
“Heh, Dek! Kalau jalan pakai mata, dong!” Ia pun tak mengindahkan suara makian dari seorang ibu yang tak sengaja ditabraknya. Fokusnya, kini hanya satu, yaitu menuju ke arah kantin dan mencari tempat untuk bersembunyi. Hingga tak sadar, dirinya telah menjatuhkan secarik kertas dari dalam saku jaketnya, ketika mengeluarkan tangan dari dalam sana.
Arvin menolehkan kepalanya ke belakang, dan tersenyum senang saat tak menemukan keberadaan Awes di belakangnya. Ia yakin jika saat ini cowok itu telah terjebak di dalam kerumunan atau mungkin saja tengah mendapati amukan serta makian dari para ibu-ibu. Membayangkannya saja, sudah membuatnya ingin tertawa lepas. Ia menggeleng, lalu kembali menolehkan kepalanya ke depan, ketika tak sengaja dirinya menabrak seseorang di depannya.
Buugh !
Nahas. Kecelakaan di antara keduanya pun tak dapat dihindarkan. Mereka sama-sama terjatuh di atas lantai. Kini, Arvin meringis, memegangi bokongnya yang terasa sakit akibat terbentur lantai. Sayangnya, ia tak menyadari jika masker yang menutupi wajahnya terlepas, hingga membuat orang yang berada di hadapannya terperangah, tak percaya.
“M-mas, Arvin.”
Arvin tergemap. Kedua netranya membeliak ketika mendapati Mbak Wik yang ada di hadapannya. Belum reda degup pada jantungnya, kini ia was-was saat mendengar suara seseorang berlari yang menggema dari arah koridor di belakangnya. Ia yakin jika orang itu, ialah Awes. Tanpa buang waktu, ia segera mengenakan maskernya kembali. Lalu, bangkit dan bersembunyi di balik stand milik Mbak Wik.
Sedangkan Mbak Wik termangu seraya bangkit dengan netra yang tak terlepas ke arah stand miliknya. “Jadi, Wolf adalah Mas Arvin,” batinnya.
Namun, ketika netranya mendapati Awes yang telah berada di ujung koridor. Ia memilih untuk kembali memasang earphone dan berpura-pura berdendang serta bergoyang seraya membersihkan meja.