Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #38

37 - Hukuman

“TUHAN tengah menghukummu dengan kacaunya perasaan. Tuhan juga tengah menghukummu dengan berbagai cobaan. Dan, mungkin ini adalah hukuman yang pantas untuk kau jadikan perubahan.”

***

SENJA telah merangkak ke peraduan yang hanya menyisakan dingin dan pekatnya malam. Detak jarum jam pun telah bergerak mengikuti porosnya waktu yang terus berjalan.

Always gelisah. Netranya tak henti menatap ke arah jarum jam yang saat ini menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah terlalu malam baginya untuk mengantarkan Happy pulang ke rumahnya. Terlebih, dengan kondisi mereka yang masih mengenakan seragam sekolah.

Sudah tiga jam lamanya, mereka rela menunggu dokter Pratama keluar dari ruangan, yang saat ini tengah melakukan operasi pada pasiennya. Entah kenapa, suasana ruang tunggu Rumah Sakit Pratama terasa begitu sepi. Sehingga, hanya suara detak jarum jam yang menemani. Keduanya pun sama-sama berada dalam sunyi dengan semrawutnya pikiran yang semakin tak terkendali.

“Py, sudah malam. Aku antar kamu pulang, ya? Besok kita ke sini lagi.” Awes angkat suara, hingga berhasil memecah keheningan di antara keduanya.

Happy yang duduk di sebelah kanan Awes, menggeleng. “Aku masih mau menunggu om Pratama keluar, Wes.”

“Kamu sudah bilang ke bundamu kalau kamu pulang malam?” tanya Awes sedikit khawatir.

Happy mengangguk. “Tadi, aku sudah kirim pesan ke bunda.”

Awes melenggut. Perasaan lega mulai mendekapnya. Pasalnya, ia tak ingin dituduh menculik Happy oleh Kirana akibat membawa pergi anak gadisnya pulang hingga larut malam.

Kini, Awes bersedekap dengan menengadahkan kepala pada sandaran kursi. Entah kenapa ia sangat yakin jika Arvin masih berada di Jakarta. Namun, detik berikutnya, netranya membeliak ketika melihat Pratama yang baru saja keluar dari ruang operasi.

Awes dan Happy segera bangkit dari duduk mereka dan langsung berlari mengejar Pratama. Sedangkan Awes berhasil meghadang jalan pria berkulit putih itu.

“Tunggu, Om!” cegah Awes yang sudah berdiri di depan Pratama. Mengurut dada, untuk menetralisis napasnya yang memburu supaya kembali normal.

“Awes. Happy?” Pratama tercengung saat melihat dua teman anaknya yang saat ini telah berada di depannya. “Kalian sedang apa di sini?”

“Maaf, Om. Jika saya sedikit lancang. Saya hanya ingin menanyakan keberadaan Arvin kepada Om,” sahut Awes dengan napas yang masih tersengal.

Pratama mengernyit. Namun, tak lama kemudian sudut bibirnya terangkat keatas. Pria itu juga menatap tajam ke arah Awes dan Happy bergantian. “Kalian nggak pantes berteman dengan seorang pencuri seperti dia! Saat ini, anak itu sedang dihukum dan nggak ada yang boleh untuk menemuinya! Mengerti? Jadi, sekarang kalian pulang saja!” pungkasnya tegas terakhir kali sebelum berlalu pergi.

“Tapi, Om–” Awes berniat untuk mengejar, tetapi Happy sudah lebih dulu mencegahnya dengan menggamit pergelangan tangan Awes.

Awes terpegun. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Happy yang menggeleng, mencoba untuk memberitahunya supaya tak mengejar.

“Kita pulang saja,” ucap Happy bergetar.

Lihat selengkapnya