Wolf : Si Pencuri

Rosiana Quraisin
Chapter #40

EPILOG

Dua Tahun Kemudian

“HAI, mata raishuu.” (Ya, sampai bertemu minggu depan)

“Hai, arigatou gozaimasu,” (Ya, terima kasih banyak) sahut seluruh siswa kepada sensei yang telah memberikan ilmunya kepada mereka. Setelah itu, para mahasiswa pun segera merapikan buku-buku mereka dan memasukkannya ke dalam tas.

Begitu pula Arvin, cowok itu memasukkan semua buku-buku yang bertuliskan huruf campuran antara Kanji dan Hiragana pada sampul yang berserakan di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas ransel. Setelah itu, segera beranjak dari duduknya dan melangkahkan kedua kakinya keluar kelas.

Setengah berlari, Arvin menyusuri koridor Kampus yang masih ramai oleh para Mahasiswanya. Sekilas, ia menilik ke arah arloji di pergelangan tangannya. Masih ada waktu satu jam untuk bisa sampai di rumah. Ia pun segera mempercepat langkahnya. Pasalnya, ia telah membuat janji dengan sang ibu tercinta untuk makan malam bersama di rumah. Dan, ia tak ingin sampai datang terlambat, karena tertinggal oleh kereta.

“Konnichiwa.” Arvin tersenyum dan membungkukkan sedikit tubuhnya saat bertemu dengan dosen yang melintas di koridor. Sepertinya, dua tahun lamanya berada di negara sakura ini, ia sudah bisa beradaptasi dengan baik. Kendati begitu, tetap saja terkadang ia merindukan tanah air yang merupakan tanah kelahirannya.

Arvin kembali melangkahkan kedua kakinya setelah sang dosen pergi dari hadapannya. Sayangnya, terlalu tergesa-gesa, hingga netranya tak melihat seorang cewek yang akan melintas di persimpangan koridor Kampus. Nahas. Arvin menabraknya, hingga menyebabkan semua buku-buku yang dibawa oleh cewek itu terjatuh di atas lantai.

Arvin tergemap. Segera, ia memunguti satu persatu buku-buku yang berceceran di atas lantai. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mengambil sebuah buku ilmu kedokteran nan tebal yang tergeletak agak jauh. Lalu, sepasang flat shoes berwarna merah itu berdiri tepat di depan buku yang hendak diraihnya.

Arvin tercenung. Ia segera meraih buku itu dan bangkit. Lalu, menyodorkan buku tersebut seraya membungkukkan tubuhnya. “Gomennasai,” ucapnya tulus.

Cewek itu segera menerima bukunya. “Ah, iie. Daijyoubu.”

Arvin kembali menegakkan tubuhnya, bersamaan dengan itu netranya tertegun ketika menemukan cewek cantik berhijab yang saat ini berada di hadapannya. Cukup lama menatap wajah ayu itu. Hingga ia merasakan sesuatu berdesir lembut di rongga dadanya. Ya, Tuhan, ada apa dengan dirinya?

Cewek itu mengernyit bingung, ketika mendapati Arvin yang hanya mematung di tempat, menatapnya. Ia pun melambaikan tangannya di depan wajah cowok itu, seraya berkata, “Sumimasenga.”

Arvin tergemap. Lambaian tangan cewek itu berhasil menyadarkannya. Kikuk. Ia menyeringai lebar. Entah kenapa, kini ia merasakan kedua pipinya memanas. Buru-buru, ia kembali membungkukkan tubuhnya dan meminta maaf supaya cewek itu tak menyadarinya.

Lihat selengkapnya