WOMEN: A Quiet Storm No One Sees

AMANDA LAUDYA YASMINE
Chapter #1

CHAPTER 01 : "Tanah yang Dipijak"

BAB 1 

(Gelombang Nadi)

Angin malam berembus kencang, menggoyangkan dedaunan yang saling berbisik di bawah langit kelabu. Hujan turun perlahan, membasahi tanah yang telah lama menanti. Di tengah gemuruh alam yang tak kunjung reda, tepatnya di bangunan besar yang menjadi sudut kota kecil tersebut terdengar tangisan pertama seorang bayi perempuan yang baru saja lahir ke dunia. “Selamat ya bapak ibu, Anaknya sudah lahir dan berjenis kelamin perempuan, sesuai dengan hasil Sonogram kala itu..”. “Huh” batin keluh laki- laki  bertubuh tinggi besar dengan mata yang berputar 180 derajat menghadap lantai ruang bedah,  dan sedang berada tepat di samping istrinya yang sedang bertarung dengan maut tersebut. Dirinya segera menaikkan bola matanya dan berkata “Terimakasih dok” sebagai balasannya untuk dokter itu. Kecupan kecil berhasil tersemat pada dahi lembut sang istri yang baru saja melahirkan seorang bayi dari belahan jiwanya sendiri, “Selamat ya mas, kamu sudah jadi ayah..” tutur sang istri tercinta untuk pria itu.

“Selamat Pras, sekarang kamu sudah jadi ayah!, berbuat dan bertuturlah menjadi ayah yang baik untuk anak perempuan pertama mu ini, jangan pernah menyakitinya, karena kamu adalah sosok laki-laki pertama yang harus dia percayai nanti..” ucap seorang laki- laki yang sudah menginjak usia 65 tahun kepada anak laki- laki pertamanya, Prasetya Mulya Lesmana seorang Wakil Direktur Perusahaan Dirgantara dan Teknologi Astra Aeronautics yang tepat berpusat di Kota Salatiga, Jawa Tengah. “Iya bapakk..” ujarnya pada sang ayah, wajah tampang tersebut dibalut dengan ekspresi murung dan seperti tidak terima atas kenyataan. Pada dasarnya wakil direktur tersebut menginginkan anak pertama berjenis kelamin ‘Laki-Laki’, dengan harapan dapat menjadi penerusnya kelak di perusahaan. “Kamu sudah tentukan namanya pras?” “Kemarin aku sama Naya udah nentuin sih, namanya Morana Pertiwi Lesmana..” “Waw, nama yang cantik pras.., semoga anaknya tumbuh menjadi cantik dan pemberani” “Amiin bu.. semoga ya”, begitulah obrolan singkat seorang ibu dan anak laki-laki nya terkait cucu pertama mereka yang hadir untuk melengkapi kelima anggota keluarga tersebut.

Flashback

3 bulan sebelumnya 

“Mas bagaimana dengan ‘Morana Pertiwi Lesmana’ ?”;

“Nama yang bagus sayang…”

Morana artinya seorang perempuan yang lahir dari keteguhan, sosok yang 

menyimpan banyak rahasia di balik tatapan tenangnya. Sementara Pertiwi  berarti 

tanah air, bumi yang menjadi tempat segala kehidupan bertumbuh dan berakar, 

harapannya sih mas nanti dia akan tumbuh menjadi perempuan yang kuat, penuh 

kasih, dan tak pernah kehilangan cahayanya”

“Baguss sayang”

Percakapan tersebut diakhiri dengan air mata yang tak sempat jatuh menuju lantai dari sepasang sejoli yang akan menjadi orang tua di 3 bulan kemudian ini. Mereka tak pernah menyangka dari seorang pasangan anak SMA yang sama-sama berambisi untuk mendapatkan 2 almamater berwarna biru tua dan coklat karung goni yang menjadi top 3 universitas di Indonesia kala itu, dan berhasil menjadi pasangan serasi dengan gelar S.T dan S.KG, hingga berlanjut menjadi M.T dan Sp.PM yang resmi menjadi pasangan suami istri dibawah ballroom Hotel Garuda Yogyakarta, yang kini menjadi Grand Mercure Yogyakarta Adi Sucipto. Pasangan serasi dan ambisius ini sangat menginkan anak mereka memiliki cita-cita dan jabatan yang tentunya lebih dari dirinya di masa depan. Tanaya yang merupakan seorang dokter gigi spesialis penyakit mulut yang direbutkan menjadi narasumber seminar dari satu event ke event yang lainnya, dan begitu pula suaminya, Prasetya yang namanya sudah di kenal luas di semua kalangan perusahaan teknologi dan pengembangan di indonesia, akan berjanji untuk mendidik anaknya menjadi pintar dan sukses dimasa depan. Dan ingatlah hanya dua kata ini yang ada di otak pasangan ini, PINTAR dan SUKSES. 

Flashback Cut

Di kamar pasien ber AC, yang memiliki cat tembok berwarna putih tulang dan bernomor 15 tepatnya di lantai 2, terdengar percakapan kecil yang manis. 

“Nanti kalau kamu sibuk urus pasien, biar ibu aja sini yang urus cucu ibu” 

“Hahah iya ibu, aman ajaa” 

Omong-omong nanti kamu tetap bekerja nay?”

“Iya bu, tidak mungkin aku ninggalin karir aku..”

“Bener ibu setuju.., tapi kamu harus bisa bagi waktu kamu ya.., jadi ibu itu berat.., 

jangan terlalu banyak ambil jobs seminar, biar kamu ga terlalu capek juga..”

“Ah ibu, iya tenang ajaa”

BAB 2

(Celah yang Tak Terlihat)

Tiga tahun berlalu sejak tangisan pertama Morana memenuhi rumah keluarga Lesmana. Di usia tiga tahun, Morana adalah anak yang ceria. Ia suka berlari tanpa alas kaki di halaman rumah, mengejar kupu-kupu yang hinggap di antara bunga-bunga yang ditanam ibunya. Tawa kecilnya sering memenuhi sudut rumah yang megah itu. Namun bahkan di usia yang masih terlalu muda untuk memahami dunia, Morana mulai mengenal kata yang tak pernah diajarkan secara langsung kepadanya. ‘Harapan’

“Kamu harus duduk yang manis, Morana.”

“Jangan lari-lari terus, nanti kulitmu makin gelap.”

“Kamu perempuan, jangan berisik.”

“Kamu harus belajar lebih sopan.”

“Kamu anak pertama keluarga Lesmana.”

“Kamu harus tampil cantik, gaboleh kotor kayak gini ya..”

“Kalau menangis terus, siapa yang mau suka sama kamu nanti?”

“Harus lebih baik lagi.” 

Kalimat-kalimat itu datang silih berganti seperti hujan yang tak pernah berhenti. Morana tidak mengerti mengapa ia tidak boleh berlari terlalu cepat.  Tidak mengerti mengapa ia harus selalu tersenyum ketika tamu datang. Tidak mengerti mengapa semua orang tampak kecewa saat ia menangis atau marah. Tidak mengerti mengapa fisik yang ia miliki selalu dianggap kurang sempurna. Ia hanyalah anak kecil, yang tak juga mengerti mengapa harus dilahirkan. Tetapi dunia di sekelilingnya sudah menuntutnya menjadi sesuatu yang bahkan belum ia pahami. 

Suatu sore, Morana duduk di ruang tamu bersama beberapa anggota keluarga besar. Dengan bangga, ia menunjukkan gambar yang baru saja dibuatnya. Lembar kertas itu penuh coretan warna-warni yang menurutnya sangat indah.

“Lihat, Ayah!”

Prasetya yang duduk di atas kursi kerja berwarna hitam legam tersebut, hanya melirik sekilas.

“Bagus.”

Lalu kembali menatap layar komputernya.

Senyum Morana perlahan memudar.

Tak lama kemudian, seorang perempuan muda dengan karir gemilangnya bertanya sambil tertawa kecil.

“Morana nanti mau jadi apa?”

“Mau jadi pelukis tante!”

Ruangan seketika dipenuhi tawa orang dewasa.

Lihat selengkapnya