BAB 4
(Tepuk Tangan yang Dicari)
Usia tujuh tahun adalah usia ketika seorang anak mulai mengenal dunia yang lebih luas daripada rumahnya sendiri. Bagi sebagian anak, dunia itu berarti teman baru, permainan baru, dan petualangan kecil yang menyenangkan. Namun bagi Morana, dunia berarti sesuatu yang berbeda, yaitu ‘Penilaian’.
Hari pertamanya masuk sekolah dasar dimulai dengan seragam putih merah yang masih sedikit kebesaran. Rambutnya dikepang rapi oleh Tanaya. Sepatu hitam mengkilap yang baru dibeli ayahnya terasa sedikit kaku di kaki kecilnya.
“Belajar yang rajin ya.”
Pesan itu selalu menjadi kalimat terakhir yang didengarnya sebelum berangkat.
Bukan “selamat bermain”.
Bukan “semoga kamu suka sekolah disini”.
Melainkan “belajar yang rajin”.
Morana tidak pernah memikirkan kalimat itu terlalu dalam.
Setidaknya belum.
Hari-hari pertama sekolah terasa menyenangkan. Ia menemukan banyak teman baru. Ia menyukai perpustakaan kecil yang berada di ujung koridor sekolah. Ia juga menyukai pelajaran menggambar lebih dari pelajaran apa pun. Sejak kecil, Morana selalu tertarik pada warna. Ia bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk mengisi sebuah gambar dengan pensil warna. Baginya, selembar kertas kosong terasa seperti dunia baru yang bisa ia ciptakan sesuka hati.
Saat anak-anak lain berlarian mengejar teman-temannya ketika jam istirahat, Morana sering duduk di pojok kelas sambil menggambar.
Kadang ia menggambar rumah impiannya.
Kadang ia menggambar taman penuh bunga.
Kadang ia menggambar keluarganya.
Lengkap dengan ayah, bunda, dirinya, dan Gavinel yang selalu digambar paling kecil.
Guru kelasnya beberapa kali memuji hasil gambarnya.
“Bagus sekali, Morana.”
“Kamu berbakat ya.”
“Warnanya cantik sekali.”
Setiap mendengar pujian itu, mata Morana selalu berbinar. Ia pulang membawa buku gambarnya dengan bangga. Berharap seseorang di rumah akan melihatnya dengan cara yang sama.
Suatu sore, Morana berlari menuju ruang kerja ayahnya sambil membawa sebuah gambar yang baru saja selesai ia buat. Di gambar itu terdapat sebuah keluarga kecil yang sedang berdiri di bawah langit berwarna jingga. Ia menghabiskan hampir dua hari untuk menyelesaikannya. “Ayah, lihat!” Prasetya menerima kertas itu sekilas. “Hm, bagus.” Lalu kembali mengetik di laptopnya. Hanya itu.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada senyum bangga.
Tidak ada perhatian lebih dari beberapa detik.
Morana berdiri diam beberapa saat sebelum akhirnya berjalan keluar ruangan sambil membawa kembali gambarnya. Saat itu ia belum merasa sedih. Hanya sedikit kecewa. Namun kejadian seperti itu terjadi berkali-kali. Ketika ia menunjukkan gambar baru. Jawabannya selalu sama.
“Bagus.”
Ketika ia bercerita tentang lomba mewarnai di sekolah. Jawabannya hanya anggukan singkat. Ketika ia menunjukkan hasil kerajinan tangannya. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan. Sementara itu, Morana mulai menyadari sesuatu. Orang-orang dewasa tampak jauh lebih antusias ketika membicarakan hal lain.
Nilai.
Ranking.
Prestasi.
Piala.
Suatu malam saat acara keluarga berlangsung, salah satu sepupunya membawa piagam lomba matematika tingkat kota. Seluruh ruangan langsung dipenuhi pujian.
“Wah hebat sekali!”
“Pinter banget ya.”
“Calon orang sukses nih.”
“Kebanggaan keluarga.”
Morana ikut bertepuk tangan. Namun diam-diam ia menunduk melihat buku gambar yang sedang dipangkunya. Tidak ada yang pernah memuji gambarnya seperti itu. Tidak ada yang pernah membicarakannya selama berhari-hari. Tidak ada yang pernah terlihat begitu bangga. Untuk pertama kalinya, Morana mulai bertanya-tanya. Apakah hal yang aku suka tidak cukup penting? Apakah menggambar hanya permainan anak kecil? Apakah yang kusukai tidak akan pernah membuat siapa pun bangga? Malam itu, sebelum tidur, ia membuka kembali buku gambarnya.