WOMEN: A Quiet Storm No One Sees

AMANDA LAUDYA YASMINE
Chapter #3

CHAPTER 03 : "Raga yang Diciptakan, tanpa Memilih"

BAB 7

(Aturan yang Tidak Tertulis)

Usia tiga belas tahun datang tanpa banyak peringatan. Tidak ada suara lonceng, tidak ada tanda khusus yang memberitahu seseorang bahwa masa kanak-kanaknya telah berakhir. Suatu hari Morana masih merasa dirinya adalah anak kecil yang senang menghabiskan sore dengan buku cerita dan pensil warna, tetapi di hari-hari berikutnya dunia mulai memperlakukannya dengan cara yang berbeda.

Awalnya perubahan itu datang melalui kalimat-kalimat sederhana. Kalimat yang terdengar biasa, kalimat yang tidak pernah dimaksudkan untuk menyakiti, tetapi entah mengapa selalu berhasil meninggalkan bekas. “Duduknya yang rapi, Morana.” “Jangan ketawa terlalu keras.” “Kamu sudah besar sekarang.” “Perempuan harus bisa menjaga diri.” Morana mendengar semuanya seperti orang yang mendengar hujan turun di kejauhan, pelan, berulang, dan semakin lama semakin sulit diabaikan. Ia tidak pernah benar-benar mempertanyakan kalimat-kalimat itu sebelumnya, tetapi semakin bertambah usia, semakin sering ia bertanya-tanya mengapa sebagian aturan hanya ditujukan kepadanya.

Suatu sore sepulang sekolah, Gavinel berlari keluar rumah bersama teman-temannya sambil membawa bola sepak. “Main dulu ya!” serunya. Dari dalam rumah, Tanaya hanya berteriak, “Jangan pulang malam!” Gavinel menjawab cepat sebelum menghilang di ujung jalan bersama tawa yang masih terdengar beberapa menit kemudian. Sementara itu Morana, yang sedang membantu melipat pakaian, hanya memperhatikannya dari balik jendela. “Bunda, aku boleh ikut ke taman sama teman-teman?” tanyanya pelan. Tanaya menoleh sebentar lalu menjawab, “Besok saja ya. Sudah sore.” Morana mengangguk tanpa membantah. Ia sudah terlalu terbiasa untuk membantah. Namun untuk pertama kalinya muncul pertanyaan kecil yang mengganggu pikirannya. Mengapa Gavinel boleh? Mengapa aku tidak?

Pertanyaan itu terus mengikutinya selama berminggu-minggu. Saat Gavinel pulang dengan lutut kotor setelah bermain. Saat ia sendiri diminta membantu menyambut tamu. Saat Gavinel dimaklumi ketika bersikap ceroboh. Saat dirinya diminta lebih dewasa, lebih sopan, lebih mengerti, dan lebih banyak mengalah. Kadang-kadang Morana merasa ada daftar aturan yang tidak pernah ditulis di mana pun, tidak pernah ditempel di dinding, dan tidak pernah dijelaskan secara langsung. Namun semua orang tampak mengetahuinya, termasuk dirinya.

Malam itu keluarga besar Lesmana kembali berkumpul. Seperti biasa, ruang tamu dipenuhi percakapan orang dewasa yang saling bersahutan tentang pekerjaan, pendidikan, dan masa depan anak-anak mereka. Morana duduk di salah satu sudut sambil mendengarkan sampai seseorang bertanya tentang cita-citanya. “Kalau Morana mau jadi apa nanti?” Morana tersenyum kecil. Pertanyaan itu seharusnya sederhana, tetapi entah mengapa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

“Aku suka menggambar,” jawabnya. Beberapa orang tersenyum dan mengangguk. “Wah, bagus.” Morana melanjutkan dengan lebih berani. “Mungkin aku mau jadi ilustrator.” Untuk sesaat ruangan menjadi hening. Kemudian seseorang tertawa kecil. “Buat hobi sih boleh.” “Kerjaan yang lebih jelas lah.” “Kamu pintar. Sayang kalau cuma dipakai gambar-gambar.” “Dokter gigi kayak bundanya juga bagus.” “Atau ikut perusahaan ayahnya.” Morana tetap tersenyum, setidaknya ia mencoba. Namun perlahan senyum itu terasa berat karena untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu. Orang-orang selalu bertanya tentang mimpinya, tetapi mereka tampaknya sudah memiliki jawaban mereka sendiri.

Malam itu ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk, tersenyum, dan membiarkan percakapan berlanjut tanpa dirinya. Ketika acara selesai dan rumah kembali sepi, Morana berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Saat melewati ruang kerja yang pintunya sedikit terbuka, ia melihat Gavinel duduk sendirian. Anak laki-laki itu menunduk dengan mata merah. Morana berhenti. Jarang sekali ia melihat adiknya seperti itu.

“Vin?” panggilnya pelan.

Gavinel segera mengusap wajahnya. “Kenapa?”

“Kamu habis nangis?”

“Enggak.”

Jawaban itu datang terlalu cepat, terlalu dipaksakan. Morana mengenal adiknya cukup baik untuk tahu bahwa itu bohong. Beberapa detik berlalu sebelum Gavinel akhirnya berbicara. “Tadi Ayah marah.” Morana diam mendengarkan. “Katanya aku harus lebih serius belajar.” Suara Gavinel terdengar jauh lebih kecil dari biasanya. “Aku capek, Kak.” Kalimat itu membuat Morana membeku. Untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari. Selama ini ia selalu mengira Gavinel lebih bebas, lebih beruntung, dan memiliki lebih sedikit aturan. Namun malam itu ia melihat beban yang berbeda, beban yang selama ini tersembunyi.

“Katanya laki-laki harus kuat,” lanjut Gavinel sambil tertawa kecil. Tawa itu terdengar lebih mirip luka daripada hiburan. “Padahal aku juga takut gagal.”  Morana tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya duduk di samping adiknya dalam diam. Untuk pertama kalinya mereka tidak merasa seperti kakak dan adik yang saling iri, melainkan dua anak yang sedang berusaha memenuhi harapan yang terlalu besar untuk usia mereka. 

Malam semakin larut. Ketika akhirnya kembali ke kamar, Morana berdiri di depan cermin. Wajah yang menatap balik terlihat berbeda dibanding beberapa tahun lalu lebih dewasa, lebih tenang, namun juga lebih lelah. Perlahan ia menyadari sesuatu. Mungkin tidak ada yang benar-benar bebas. Setiap orang hanya hidup di dalam sangkarnya masing-masing. Sebagian dibuat dari harapan, sebagian dibuat dari ketakutan, dan sebagian lagi dibuat dari cinta yang tidak pernah tahu cara menunjukkan dirinya dengan benar. Di usia tiga belas tahun, Morana mulai memahami bahwa tumbuh dewasa bukan hanya tentang mengenali siapa dirinya. Tumbuh dewasa juga berarti belajar menemukan dirinya di tengah begitu banyak suara yang terus mengatakan harus menjadi siapa ia nantinya.

BAB 8 

(Perempuan di Balik Kaca)

Usia lima belas tahun datang bersamaan dengan gerbang baru yang harus Morana lewati. Setelah bertahun-tahun berada di lingkungan yang sama, kini ia berdiri di halaman sebuah sekolah menengah atas yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan. Seragam putih abu-abu yang dikenakannya masih terasa asing. Koridor-koridor panjang dipenuhi wajah baru, suara tawa yang belum dikenalnya, dan kelompok-kelompok pertemanan yang tampak sudah terbentuk bahkan sebelum tahun ajaran dimulai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Morana merasa menjadi orang biasa.

Di sekolah lamanya, hampir semua orang mengenalnya sebagai siswi berprestasi. Guru-guru mengenal namanya. Teman-teman mengenal nilainya. Bahkan orang tua murid sering menjadikannya bahan perbandingan untuk anak mereka. Namun di tempat yang baru ini, semua orang datang membawa cerita hebat masing-masing. Ada juara olimpiade tingkat provinsi, atlet nasional, ketua organisasi pelajar, hingga siswa-siswi yang tampak begitu percaya diri seolah dunia memang diciptakan untuk mereka. Di tengah keramaian itu, Morana tiba-tiba merasa kecil.

Hari-hari pertamanya di SMA berjalan seperti kebanyakan siswa baru. Ia belajar menghafal letak ruang kelas, menyesuaikan diri dengan jadwal yang lebih padat, dan mengenal teman-teman baru. Namun tanpa ia sadari, ada sesuatu yang perlahan berubah dalam dirinya. Jika dulu ia lebih sering memperhatikan nilai dan prestasi, kini perhatiannya mulai tertuju pada hal-hal lain yang sebelumnya tidak pernah dianggap penting.

Lihat selengkapnya