BAB 25
(Patung yang Disanjung)
Semester dua berjalan lebih cepat daripada yang Morana bayangkan. Di sela-sela tugas kuliah, praktikum, dan tumpukan jurnal yang tidak pernah benar-benar habis, organisasi perlahan mengambil porsi yang semakin besar dalam kehidupannya. Jika beberapa bulan sebelumnya ia masih merasa asing dengan dunia kepanitiaan dan rapat hingga larut malam, kini semuanya mulai terasa biasa. Bahkan tanpa disadari, sebagian besar waktunya justru dihabiskan untuk urusan organisasi dibandingkan hal-hal lain.
Awalnya Morana menikmati semuanya. Ia menyukai kesibukan itu. Menyukai perasaan ketika sebuah ide perlahan berubah menjadi program kerja nyata. Menyukai proses berdiskusi dengan banyak orang yang memiliki latar belakang berbeda. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam dunia angka, ranking, dan olimpiade, ia merasa sedang belajar sesuatu yang tidak bisa ditemukan di buku mana pun. Karena organisasi membuatnya belajar tentang manusia. Dan manusia selalu lebih rumit daripada teori.
Saat itu organisasi mereka sedang mempersiapkan salah satu acara terbesar fakultas. Sebuah program yang melibatkan ratusan peserta, beberapa pemateri eksternal, serta persiapan yang tidak bisa dianggap main-main. Sejak awal Morana dipercaya menjadi wakil ketua pelaksana. Jabatan yang terdengar keren. Meski kenyataannya jauh lebih melelahkan. Hampir setiap hari ia harus mengecek proposal, menghubungi divisi-divisi yang mulai kewalahan, memperbaiki kesalahan administrasi, menyusun ulang timeline, hingga menjadi tempat mengadu bagi panitia yang tiba-tiba kehilangan semangat kerja. Sementara itu, ketua pelaksana mereka adalah seorang mahasiswa laki-laki yang cukup terkenal di fakultas.
Pandai berbicara.
Pandai membangun relasi.
Pandai tampil di depan banyak orang dan dosen.
Dan yang paling penting, ia selalu terlihat seperti orang yang pantas berada di posisi tersebut.
Morana sebenarnya tidak memiliki masalah pribadi dengannya. Mereka bekerja dengan cukup baik. Hanya saja semakin lama, ia mulai menyadari sesuatu yang terasa mengganggu. Ketika ada rapat penting, orang-orang akan mencari Morana untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Ketika proposal harus direvisi mendadak tengah malam, Morana yang mengerjakannya. Ketika salah satu divisi mengalami konflik internal, Morana yang diminta turun tangan. Ketika ada panitia yang mendadak menghilang seminggu sebelum acara, Morana yang harus mencari solusi. Namun ketika semua berjalan lancar, nama yang paling sering disebut justru bukan dirinya. Awalnya ia tidak terlalu memikirkannya. Lagipula, bukankah organisasi memang tentang kerja tim? Bukankah yang terpenting adalah acara berhasil terlaksana? Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan pemikiran itu.
Sampai suatu hari menjelang acara berlangsung. Morana baru saja menyelesaikan revisi rundown untuk ketiga kalinya dalam satu minggu. Matanya terasa perih akibat terlalu lama menatap layar laptop. Ia bahkan belum sempat makan malam ketika salah satu panitia mengirim pesan berisi perubahan mendadak dari pemateri. Dengan napas panjang, ia kembali membuka laptopnya. Di saat yang sama, grup besar kepanitiaan tiba-tiba ramai. Seseorang mengunggah desain promosi terbaru. Di dalamnya terdapat foto ketua pelaksana lengkap dengan ucapan apresiasi atas kerja kerasnya selama mempersiapkan acara. Puluhan komentar langsung bermunculan.
"Keren banget, Kak."
"Salut sama ketuanya."
"Hebat bisa ngurus acara sebesar ini."
Morana membaca semuanya dalam diam. Tidak marah. Belum. Hanya merasa aneh. Karena bahkan dirinya sendiri tidak pernah benar-benar peduli siapa yang mendapat pujian. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya.
Apakah orang-orang benar-benar tahu siapa yang bekerja di balik semua ini?
Atau mereka hanya melihat siapa yang berdiri paling depan?
Pertanyaan itu terus tinggal di kepalanya hingga hari pelaksanaan acara tiba.
Acara berlangsung hampir seharian penuh. Semua orang berlarian ke sana kemari. Ada masalah teknis. Ada perubahan jadwal mendadak. Ada pemateri yang terlambat datang. Ada peserta yang kebingungan. Ada panitia yang hampir menangis karena kelelahan. Dan seperti biasa, Morana berpindah dari satu masalah ke masalah lainnya tanpa sempat duduk lebih dari lima menit. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali minum air. Namun ketika acara akhirnya selesai dan seluruh panitia berkumpul untuk sesi dokumentasi, semua orang tampak bahagia. Tertawa. Berfoto. Merayakan keberhasilan mereka. Morana ikut tersenyum. Sampai salah satu peserta yang baru dikenalnya berkata dengan santai,"Untung ketuanya keren ya. Makanya acaranya lancar." Kalimat itu sebenarnya sederhana. Mungkin bahkan tidak bermaksud buruk.Namun entah mengapa membuat Morana terdiam beberapa detik. Karena untuk pertama kalinya sejak bergabung dalam organisasi, ia merasa lelah bukan karena pekerjaannya. Melainkan karena menjadi seseorang yang tidak terlihat.
Malam itu, setelah seluruh rangkaian acara selesai, Morana kembali ke kamar kos dengan tubuh yang terasa remuk. Ia menjatuhkan tasnya ke lantai lalu duduk di tepi ranjang tanpa menyalakan lampu. Ponselnya masih dipenuhi ucapan selamat dari panitia.
Pesan-pesan apresiasi.
Foto-foto acara.
Unggahan media sosial.
Semua terlihat sempurna.
Namun anehnya, ia tidak merasakan kebahagiaan yang seharusnya datang setelah sebuah keberhasilan.
Ia justru teringat pada masa SMA. Saat memenangkan olimpiade. Saat namanya dipanggil ke atas panggung. Saat orang-orang tahu siapa yang bekerja keras untuk pencapaian itu. Kini semuanya berbeda.
Semakin dewasa, semakin ia sadar bahwa dunia tidak selalu memberi penghargaan kepada orang yang bekerja paling keras. Kadang dunia hanya memperhatikan mereka yang berdiri di tempat paling terlihat. Morana memejamkan mata perlahan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memahami bahwa menjadi hebat dan terlihat hebat adalah dua hal yang sangat berbeda. Dan sayangnya, dunia sering kali lebih mudah mengingat yang kedua daripada yang pertama.
BAB 26
(Core Four)
Semester tiga datang tanpa terasa. Jika dua semester pertama terasa seperti masa bertahan hidup, maka semester ketiga menjadi masa ketika Morana mulai benar-benar menemukan ritmenya sendiri. Ia masih sibuk. Masih sering pulang malam karena rapat organisasi. Masih harus bergelut dengan tugas, praktikum, laporan, dan berbagai kegiatan kampus yang seolah tidak pernah habis.
Namun berbeda dengan Morana tahun pertama yang sering menangis sendirian di kamar kos, Morana sekarang mulai belajar menikmati semuanya. Ia mulai mengenal banyak orang, mulai berani berbicara di depan forum, mulai berani mengemukakan pendapat ketika tidak setuju. Dan yang paling penting, ia mulai memiliki lingkaran pertemanan yang terasa seperti rumah di tengah kehidupan perantauan yang kadang begitu melelahkan.
Mereka berempat bertemu secara tidak sengaja. Awalnya hanya karena satu kelompok tugas. Kemudian satu kepanitiaan. Lalu satu organisasi. Sampai akhirnya tanpa disadari mereka selalu bersama ke mana pun pergi. Syahla, Nia, Amel, dan Morana. Empat perempuan dengan kepribadian yang sangat berbeda, tetapi entah bagaimana selalu berhasil menemukan jalan pulang satu sama lain.
Syahla adalah orang yang paling sering membuat Morana bertanya-tanya bagaimana satu manusia bisa memiliki energi sebanyak itu. Hampir setiap semester namanya muncul dalam berbagai program pertukaran mahasiswa, konferensi, atau kegiatan internasional. Akun media sosialnya dipenuhi foto bandara, seminar, dan sertifikat yang jumlahnya membuat mahasiswa lain kehilangan semangat hidup. Namun anehnya, di balik semua pencapaian itu, Syahla justru orang yang paling santai di antara mereka. Ketika orang lain panik menghadapi nilai jelek, Syahla hanya akan mengangkat bahu sambil berkata, “Kalau gagal ya daftar lagi.” Kalimat yang sederhana. Tetapi sering kali cukup untuk membuat tiga sahabatnya ingin melempar buku ke arahnya.
Berbeda dengan Syahla, Nia adalah pusat gravitasi kelompok mereka. Tidak ada yang tahu sejak kapan peran itu terbentuk. Yang jelas, setiap kali mereka pergi bersama, Nia selalu menjadi orang yang memastikan semua orang sudah makan, semua orang sudah sampai kos dengan selamat, semua orang membawa payung ketika hujan, dan semua orang mengerjakan tugas tepat waktu. Nia adalah tipe orang yang bisa berteman dengan siapa saja. Penjaga kantin mengenalnya. Petugas perpustakaan mengenalnya. Satpam fakultas mengenalnya. Bahkan tukang fotokopi dekat kampus mengenalnya. Entah bagaimana perempuan itu selalu berhasil membuat dirinya diterima di mana pun ia berada.
Sementara Amel adalah kebalikan dari semuanya. Amel adalah orang yang paling lembut, paling sensitif, dan paling mudah menangis. Namun ia juga yang paling peka. Ia bisa mengetahui suasana hati seseorang hanya dari cara orang itu mengucapkan kata “iya”. Sering kali Amel menyadari ada sesuatu yang salah jauh sebelum orang tersebut mengakuinya sendiri. Termasuk Morana. Ada banyak hari ketika Morana datang ke kampus dengan senyum biasa, lalu Amel tiba-tiba bertanya, “Kamu kenapa?” Dan Morana selalu heran bagaimana perempuan itu bisa tahu.
Awalnya mereka tidak pernah memiliki nama khusus untuk kelompok kecil mereka. Mereka hanya empat mahasiswa yang terlalu sering makan bersama, belajar bersama, mengerjakan tugas bersama, bahkan mengeluh bersama. Sampai suatu sore setelah kelas berakhir, mereka duduk di salah satu kafe dekat kampus sambil menunggu hujan reda. Syahla baru saja bercerita tentang program exchange berikutnya. Amel sedang mengeluhkan tugas yang menurutnya tidak manusiawi. Sementara Morana sibuk memperbaiki revisi proposal organisasi. Di tengah kekacauan itu, Nia tiba-tiba bersandar di kursinya sambil menatap mereka satu per satu.
“Kalau Syahla hilang, kita nggak punya koneksi internasional.”
Syahla langsung tertawa. Amel ikut terkekeh.
“Lalu kalau Mora hilang?”
Nia menunjuk Morana.
“IPK kelompok turun.”
“Eh.”
Morana protes.
Namun tiga orang lainnya justru mengangguk setuju.
Amel kemudian menambahkan sambil tertawa kecil.
“Kalau aku hilang?”
“Kita kehilangan hati nurani.”
Jawab Syahla cepat.
Mereka semua tertawa.
Lalu perlahan pandangan mereka beralih kepada Nia.
“Kalau Nia hilang?”
Untuk pertama kalinya perempuan itu terlihat berpikir. Beberapa detik kemudian ia menyeringai.
“Kalian nggak bisa makan.”
Ruangan langsung dipenuhi gelak tawa.
Karena tidak ada satu pun yang bisa menyangkal kebenaran kalimat tersebut.
Nia adalah orang yang selalu mengingatkan jadwal makan, selalu memesankan makanan ketika mereka lupa, selalu membayar lebih dulu ketika salah satu dari mereka belum menerima kiriman uang bulanan, dan selalu memastikan semua orang baik-baik saja. Dan sejak sore itu, tanpa rapat, tanpa voting, tanpa kesepakatan resmi, nama Core Four lahir begitu saja. Nama yang awalnya hanya bercanda. Namun perlahan menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti. Karena semakin dewasa, Morana mulai memahami bahwa persahabatan tidak lagi diukur dari seberapa sering seseorang menghubungimu setiap hari. Tidak diukur dari jumlah foto bersama atau jumlah pesan yang dikirim. Melainkan dari siapa yang tetap bertahan ketika hidup mulai terasa berat.
Dan di tengah segala perubahan yang terjadi dalam hidupnya, Morana bersyukur karena setidaknya kali ini ia tidak harus berjalan sendirian. Ia pernah kehilangan ritme dengan Inka. Pernah merasa sendirian di kota yang asing. Pernah mempertanyakan dirinya sendiri berulang kali. Namun kini, di semester tiga yang penuh kesibukan itu, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya. Bukan prestasi. Bukan penghargaan. Bukan pencapaian akademik. Melainkan tiga orang yang perlahan berubah menjadi keluarga.
Dan tanpa Morana sadari, Core Four akan menjadi salah satu alasan terbesar mengapa ia mampu bertahan menghadapi badai-badai yang jauh lebih besar di masa depan.
Beberapa minggu setelahnya, Core Four menjadi bagian yang hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Morana. Mereka belajar bersama, makan bersama, mengeluh bersama, bahkan terkadang hanya duduk berjam-jam di perpustakaan tanpa benar-benar berbicara. Namun anehnya, keheningan bersama mereka tidak pernah terasa canggung. Justru terasa nyaman. Seperti rumah.
Suatu malam setelah rapat organisasi yang berakhir lebih lama dari biasanya, mereka memutuskan mencari makan di sebuah warung penyetan yang masih buka dekat kampus. Sudah hampir pukul sembilan malam. Syahla sibuk menceritakan rencana program exchange berikutnya. Nia sedang membantu Amel menghitung pengeluaran bulanannya yang kembali berantakan. Sementara Morana hanya duduk sambil mendengarkan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa cukup tenang.
Sampai tiba-tiba Amel yang duduk di sebelahnya menatap tangannya.
"Kamu pernah jatuh ya?"
Morana mengernyit.
"Hm?"
Amel menunjuk bagian lengan kirinya. Bekas luka tipis yang hampir memudar itu masih terlihat jika diperhatikan dengan saksama.
Morana terdiam beberapa detik.
"Oh, ini."