WOMEN: A Quiet Storm No One Sees

AMANDA LAUDYA YASMINE
Chapter #10

CHAPTER 10 : "Terasa Berbeda"

BAB 28 

(Rasa yang Berubah)

Libur semester selalu terdengar menyenangkan ketika masih menjadi siswa SMA. Dulu Morana selalu menghitung hari menuju liburan. Tidak ada tugas, tidak ada ujian, tidak ada alarm pagi yang memaksanya bangun sebelum matahari terbit. Yang ada hanya rumah, keluarga, dan rasa nyaman yang sudah ia kenal sejak kecil. Namun kali ini berbeda. Ketika kereta yang membawanya dari Surabaya akhirnya memasuki Stasiun Tuntang Semarang dan udara khas Jawa Tengah menyambutnya, Morana justru merasakan sesuatu yang aneh. Bukan senang. Bukan sedih. Hanya... asing. Padahal provinsi ini adalah rumahnya. Tempat ia tumbuh. Tempat seluruh kenangan masa kecilnya berada. Namun entah kenapa, setelah berbulan-bulan hidup sendiri di Surabaya, semuanya terasa sedikit berbeda.

Tanaya menyambutnya paling pertama. Memeluknya erat sambil mengeluh karena Morana terlihat lebih kurus. Prasetya datang beberapa menit kemudian dan menanyakan kabar kuliah seperti biasa. Gavin bahkan hampir membuat koper kakaknya jatuh karena terlalu bersemangat membantu membawakan barang. Semuanya masih sama. Persis sama. Namun Morana tetap merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Seolah ada bagian dari dirinya yang tertinggal di Surabaya. Atau mungkin sebaliknya. Ada bagian dari dirinya yang tidak lagi cocok berada di sini.

Hari-hari pertama berlalu cukup menyenangkan. Tanaya memasak hampir semua makanan favoritnya. Gavin terus bercerita tentang kehidupan sekolahnya yang tidak pernah kehabisan drama. Bahkan Prasetya terlihat lebih santai dibanding biasanya. Namun semakin lama Morana berada di rumah, semakin sering ia menyadari perbedaan-perbedaan kecil yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan. Hal-hal sederhana. Hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Tetapi cukup untuk membuatnya berpikir. Suatu sore, misalnya. Morana baru saja keluar dari kamar ketika Tanaya bertanya dari ruang keluarga.

"Mau ke mana?"

"Ke kafe sebentar."

"Sama siapa?"

Morana sempat terdiam.

Pertanyaan itu sebenarnya biasa. Sangat biasa. Namun setelah hampir satu tahun tinggal sendiri di Surabaya, ada bagian dari dirinya yang tidak lagi terbiasa menjelaskan setiap langkah yang akan diambil. Disaat berada di bangku SMA, sudah menjadi keharusan baginya dan laki-lakinya itu, untuk belajar dan berbincang bersama dari satu cafe ke cafe yang lainnya.

"Sama teman."

"Teman siapa?"

Morana tersenyum tipis.

"Teman kuliah, Bun."

"Jam berapa pulang?"

"Nggak tahu."

Tanaya langsung mengernyit.

"Nggak tahu gimana?"

Morana tertawa kecil untuk meredakan suasana.

Namun di dalam hati, ia mendadak sadar.

Di Surabaya, tidak ada yang bertanya kapan ia pulang. Tidak ada yang menanyakan ia pergi dengan siapa. Tidak ada yang mengingatkannya membawa jaket ketika hujan turun. Semua keputusan ada di tangannya sendiri.  Dan sekarang, ketika kembali ke rumah, ia seperti sedang memakai pakaian lama yang ukurannya sudah tidak lagi pas. Bukan karena buruk. Hanya karena ia telah tumbuh.

Perasaan itu semakin kuat beberapa hari kemudian ketika Morana memutuskan untuk merapikan kamarnya. Kamar itu masih sama seperti saat ia meninggalkannya. Rak buku di sudut ruangan. Meja belajar dekat jendela. Deretan medali dan piala yang memenuhi lemari kaca. Foto-foto lama yang masih tertempel rapi di dinding. Seolah waktu berhenti bergerak sejak hari keberangkatannya ke Surabaya. Morana berdiri cukup lama di depan lemari kaca. Matanya menelusuri satu per satu piala yang pernah ia perjuangkan dengan begitu keras.

Juara olimpiade.

Juara cerdas cermat.

Penghargaan akademik.

Sertifikat nasional.

Dulu benda-benda itu adalah dunia.

Dulu ia percaya bahwa seluruh hidupnya bergantung pada pencapaian-pencapaian tersebut. Namun sekarang, saat melihatnya kembali, ia tidak merasakan apa pun selain nostalgia. Bukan karena pencapaian itu tidak penting. Melainkan karena dirinya sudah berubah. Piala-piala itu bercerita tentang Morana yang lama. Tentang gadis yang mengukur harga dirinya dari ranking dan prestasi. Tentang gadis yang selalu takut gagal. Tentang gadis yang terus berlari karena takut tertinggal. Sementara dirinya yang sekarang sedang berjuang memahami hal-hal yang jauh lebih rumit.

Tentang identitas.

Tentang kehilangan.

Tentang hubungan.

Tentang masa depan.

Tentang dirinya sendiri.

Beberapa malam setelah kepulangannya ke Salatiga, Morana tanpa sengaja membuka media sosial Inka. Sudah lama ia tidak benar-benar mengikuti kabar sahabatnya itu. Bukan karena mereka bertengkar atau berhenti peduli. Mereka hanya sama-sama sibuk menjalani kehidupan yang semakin hari semakin kompleks. Unggahan terbaru Inka menampilkan seorang perempuan dengan jas koas putih yang sedikit kusut, rambut yang diikat seadanya, dan lingkar mata yang jauh lebih jelas dibanding saat mereka masih duduk di bangku SMA. Namun senyumnya tetap sama. Senyum yang dulu selalu membuat Morana percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Di bawah foto itu tertulis singkat:

"Jaga malam ketiga minggu ini. Semoga masih hidup."

Morana tertawa kecil.

Kalimat itu sangat Inka.

Namun setelah beberapa detik, senyumnya perlahan memudar.

Karena untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari betapa jauhnya mereka sudah berjalan. Dulu mereka menghabiskan hampir setiap hari bersama. Belajar olimpiade. Bertukar catatan. Mengeluh tentang guru. Membicarakan masa depan yang saat itu terasa begitu jauh. Kini masa depan itu sudah datang. Dan mereka berdiri di tempat yang berbeda.

Inka sedang belajar menyelamatkan tubuh manusia.

Sementara dirinya sedang belajar memahami isi kepala manusia.

Dua jalan yang sama-sama tidak mudah.

Dua jalan yang dulu tidak pernah mereka bayangkan akan membawa mereka sejauh ini.

Morana membuka ruang obrolan mereka. Pesan terakhir dari Inka terkirim hampir dua minggu lalu. "Maaf baru balas. Habis jaga. Besok ada visite pagi."  Tidak ada percakapan panjang setelah itu. Tidak ada cerita seperti dulu. Tidak ada keluhan tentang dosen atau foto makanan kantin yang dikirim tengah malam. Hanya jeda-jeda panjang yang kini terasa semakin normal. Dulu hal seperti itu mungkin akan membuat Morana sedih.Namun sekarang tidak.

Karena kini ia mengerti bahwa ada hubungan-hubungan yang tidak lagi membutuhkan percakapan setiap hari untuk membuktikan bahwa mereka masih ada. Mereka hanya berjalan berdampingan dari kejauhan.

Sama-sama lelah.

Sama-sama tumbuh.

Sama-sama berusaha bertahan di kehidupan yang pernah mereka impikan ketika masih berusia tujuh belas tahun.

Dan mungkin, itulah bentuk persahabatan yang paling dewasa. 

Malam harinya, Morana duduk sendirian di balkon rumah sambil memandangi lampu-lampu kota Salatiga yang berkelap-kelip dari kejauhan. Dingin khas kota itu masih sama seperti yang ia ingat. Langitnya masih sama. Jalan-jalannya masih sama. Rumah-rumah di sekitarnya masih sama. Namun untuk pertama kalinya, ia memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Mungkin rumah bukanlah tempat yang selalu tetap. Mungkin rumah juga ikut berubah bersama orang-orang yang tinggal di dalamnya. Atau mungkin yang berubah hanyalah dirinya. 

Karena setelah hidup sendiri selama berbulan-bulan, mengambil keputusan sendiri, menghadapi masalah sendiri, menangis sendiri, dan bangkit sendiri, Morana tidak lagi menjadi gadis yang meninggalkan kota ini beberapa waktu lalu. Ia masih anak Prasetya dan Tanaya. Masih kakak Gavin dan masih Morana. Tetapi juga bukan Morana yang sama. Dan mungkin itulah bagian paling membingungkan dari tumbuh dewasa.

Kita menghabiskan begitu banyak waktu merindukan rumah, lalu suatu hari menyadari bahwa rumah yang kita rindukan sebenarnya adalah versi lama dari diri kita sendiri. Malam itu Morana memandangi langit cukup lama. Lalu tersenyum kecil. Karena untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa menjadi dewasa bukan hanya tentang menemukan tempat baru untuk pulang. Tetapi juga belajar menerima bahwa beberapa tempat yang dulu terasa paling akrab mungkin tidak akan pernah terasa sama lagi. Dan itu bukan kesalahan siapa pun. Itu hanya tanda bahwa hidup terus berjalan.

BAB 29 

(Anak Pertama)

Beberapa hari sebelum kembali ke Surabaya, Tanaya memutuskan membersihkan gudang belakang rumah. Seperti biasa, keputusan itu lebih terdengar seperti perintah daripada ajakan. Gavin mendapat tugas menyapu lantai, Prasetya memindahkan rak-rak lama, sementara Morana kebagian memilah kardus yang sudah bertahun-tahun tidak tersentuh.

Awalnya ia mengerjakannya tanpa antusiasme. Sampai matanya tertuju pada sebuah kardus tua yang terselip di sudut ruangan. Debu menutupi hampir seluruh permukaannya. Di bagian depan tertulis sebuah nama dengan spidol hitam yang mulai memudar.

PRASETYA M. LESMANA.

Entah kenapa Morana langsung tertarik. Ia menarik kardus itu keluar perlahan lalu membukanya. Yang ia temukan bukan laporan perusahaan. Bukan dokumen kantor. Bukan pula berkas-berkas bisnis seperti yang ia bayangkan. Melainkan kehidupan lain dari seseorang bernama Prasetya Lesmana. Kehidupan yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Ada foto-foto lama, piagam lomba, sertifikat organisasi, catatan kuliah, proposal penelitian, bahkan beberapa sketsa rancangan yang dipenuhi coretan tangan. Morana mengambil salah satu foto.

 Seorang laki-laki muda berdiri bersama beberapa temannya di depan sebuah bangunan kampus. Tubuhnya lebih kurus, rambutnya lebih panjang, dan senyumnya terlihat jauh lebih bebas dibanding pria yang setiap hari ia lihat mengenakan kemeja rapi dan menghadiri rapat perusahaan. Untuk pertama kalinya Morana melihat ayahnya sebagai seseorang yang pernah muda. Seseorang yang pernah memiliki mimpi. Seseorang yang belum menjadi ayah, belum menjadi direktur, belum menjadi sosok yang seolah selalu tahu jawaban dari segala hal.

Ia terus membuka isi kardus itu satu per satu. Semakin lama, semakin banyak hal yang membuatnya terkejut. Prasetya ternyata pernah aktif dalam berbagai organisasi teknologi saat kuliah. Pernah memenangkan kompetisi inovasi nasional. Pernah memimpin tim riset mahasiswa. Pernah menjadi pembicara muda dalam forum teknologi. Dan ternyata jauh sebelum menjadi Wakil Direktur Astra Aeronautics, ayahnya pernah menjadi seseorang yang sangat idealis.

Seseorang yang percaya bahwa ia bisa mengubah dunia. Di dasar kardus itu terdapat sebuah map biru tua. Map itu terlihat jauh lebih rapi dibanding dokumen lain. Morana membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat proposal bisnis, rencana pengembangan teknologi, analisis pasar, sketsa produk, daftar investor potensial, catatan rapat, dan puluhan halaman lain yang semuanya mengarah pada satu hal. Sebuah perusahaan. Perusahaan yang tidak pernah berdiri.

Morana membaca lembar demi lembar dengan rasa penasaran yang semakin besar. Nama perusahaan itu bahkan sudah ada. Logo sederhananya juga sudah dibuat. Struktur organisasinya tersusun rapi. Semua terlihat begitu serius. Begitu nyata. Seolah hanya tinggal menunggu waktu sebelum benar-benar diwujudkan. Namun perusahaan itu tidak pernah ada. Morana membalik halaman terakhir. 

Di sana terdapat catatan tangan kecil milik Prasetya. "Proyek dihentikan. Seluruh anggota sepakat mengambil jalur karier masing-masing." Hanya satu kalimat. Namun entah kenapa terasa sangat menyedihkan. Malam harinya, rasa penasaran itu tidak juga hilang. Hingga akhirnya ketika semua orang sudah masuk ke kamar masing-masing, Morana menemukan dirinya duduk berdua dengan Prasetya di teras rumah. Udara malam Salatiga terasa dingin. Lampu-lampu rumah tetangga mulai padam satu per satu. Untuk beberapa saat mereka hanya diam. Sampai akhirnya Morana membuka percakapan.

"Ayah."

"Hm?"

"Dulu Ayah pernah mau bikin perusahaan sendiri?"

Prasetya yang sedang memegang cangkir kopi langsung menoleh. Ada ekspresi terkejut yang sangat singkat sebelum akhirnya menghilang.

"Kamu nemu kardus itu ya."

Morana mengangguk.

Prasetya tersenyum kecil.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia memikirkan semua itu.

"Dulu Ayah dan beberapa teman kuliah punya mimpi besar."

"Mimpi apa?"

Lihat selengkapnya