BAB 40
(Ruang yang Tidak Ramah)
Mendapat pekerjaan pertama ternyata tidak terasa seperti adegan dalam film. Tidak ada musik kemenangan. Tidak ada momen ketika dunia tiba-tiba terasa lebih cerah. Tidak ada keajaiban yang datang setelah bertahun-tahun belajar. Yang ada hanyalah sebuah email yang masuk pada hari Selasa pukul 09.17 pagi. Saat itu Morana sedang duduk di kamar kosnya dengan rambut yang masih berantakan dan secangkir kopi yang bahkan belum sempat disentuh. Ia hampir mengabaikan notifikasi itu. Hampir. Sampai matanya menangkap nama perusahaan yang tertera di layar.
Axion Dynamics
Tangannya langsung membeku. Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat. Perusahaan itu bukan perusahaan kecil. Bukan startup yang baru berdiri. Bukan perusahaan yang asal membuka lowongan. Axion Dynamics adalah salah satu perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan yang berkembang paling cepat dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan yang bahkan tidak pernah benar-benar ia harapkan akan menerimanya karena proses seleksinya terkenal sulit.
Dan Morana sudah terlalu sering berharap. Terlalu sering kecewa. Terlalu sering menerima email penolakan. Maka kali ini ia membuka email itu tanpa ekspektasi apa pun. Lalu membaca isinya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sampai akhirnya ia sadar bahwa kalimat itu tidak berubah. "Selamat. Anda dinyatakan lolos dan diterima sebagai Human Resource Development Staff di Axion Dynamics." Selama beberapa detik Morana hanya menatap layar. Diam. Benar-benar diam. Sampai akhirnya air matanya jatuh. Bukan karena sedih. Bukan karena terharu. Melainkan karena lelah.
Karena akhirnya ada satu pintu yang terbuka setelah berkali-kali ditutup di depan wajahnya. Ia langsung menelepon Tanaya. Lalu Prasetya. Lalu grup Core Four. Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Morana tidur tanpa dihantui pertanyaan tentang masa depannya. Namun ternyata mendapatkan pekerjaan hanyalah awal dari cerita yang jauh lebih panjang. Hari pertama bekerja datang lebih cepat dari yang ia kira. Pagi itu Morana berdiri cukup lama di depan cermin. Merapikan kemeja putihnya. Merapikan rambutnya.
Merapikan kartu identitas sementara yang tergantung di lehernya. Lalu menarik napas panjang. Ia gugup. Sangat gugup. Tetapi juga bahagia. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak lagi masuk ke sebuah kampus, melainkan sebuah perusahaan. Sebuah tempat yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan. Gedung Axion Dynamics menjulang tinggi di tengah kota Surabaya. Dinding kaca. Lobby modern. Layar digital besar yang menampilkan berbagai proyek teknologi perusahaan. Semuanya terlihat profesional. Cepat. Mewah. Dan sedikit menakutkan. Morana menunduk melihat kartu identitas yang kini resmi menggantung di lehernya.
Di sana tertulis:
Morana Pertiwi Lesmana
Human Resource Development Staff
Entah kenapa melihat namanya di sana membuat semuanya terasa nyata. Ia benar-benar bekerja sekarang. Bukan mahasiswa. Bukan peserta magang. Bukan lagi seseorang yang sedang menunggu masa depan datang. Masa depan itu sudah tiba. Dan sekarang ia berada di dalamnya. Minggu pertama berjalan cukup baik. Ia belajar banyak hal baru. Tentang proses rekrutmen. Tentang pelatihan karyawan. Tentang pengembangan sumber daya manusia. Tentang dunia kerja yang jauh lebih kompleks dibanding teori yang pernah ia pelajari di bangku kuliah.
Morana menikmati semuanya. Sampai akhirnya ia mengikuti rapat divisi pertamanya. Dan di situlah semuanya mulai berubah. Ruangan rapat itu cukup besar. Dinding kaca. Meja panjang. Layar presentasi. Dua belas orang berada di dalamnya: delapan laki-laki dan empat perempuan. Awalnya Morana tidak memikirkan apa pun. Sampai rapat dimulai. Dan ia mulai memperhatikan. Perlahan. Tanpa sadar. Seorang manajer perempuan sedang menjelaskan sesuatu. Baru beberapa kalimat, salah satu rekan laki-laki langsung memotong. Ia berhenti, lalu melanjutkan. Dipotong lagi. Lalu lagi. Dan lagi. Anehnya tidak ada yang terlihat terganggu. Seolah hal itu normal. Seolah memang seperti itu cara rapat berlangsung. Morana mengernyit, tetapi memilih diam. Mungkin hanya kebetulan, pikirnya.
Sampai hal yang sama terjadi kepada perempuan lain. Lalu perempuan lain lagi. Dan lagi. Beberapa minggu kemudian Morana mulai menyadari pola yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Perempuan yang harus berbicara lebih panjang untuk mendapatkan pengakuan yang sama. Perempuan yang harus menjelaskan lebih rinci agar dianggap kompeten. Perempuan yang harus bekerja lebih keras untuk dianggap layak berada di ruangan yang sama. Hal-hal kecil. Hal-hal yang tidak pernah tertulis. Tetapi selalu ada.
Suatu sore, setelah rapat yang melelahkan, seorang senior HR bernama Laras, Laraswati Gabriela Prameswari, seorang HR Business Partner yang sudah hampir delapan tahun bekerja di Axion Dynamics. Usianya mungkin sekitar tiga puluh lima tahun, tetapi pembawaannya membuatnya terlihat jauh lebih matang. Ia tidak banyak bicara, tidak pernah berusaha menjadi pusat perhatian, dan hampir selalu tampil sederhana dengan rambut yang diikat rapi serta setumpuk dokumen di tangannya. Namun entah kenapa, setiap kali Laras berbicara dalam rapat, seluruh ruangan mendengarkan. Ada wibawa yang tidak bisa dijelaskan dalam dirinya, wibawa yang lahir bukan dari jabatan, melainkan dari tahun-tahun panjang yang ia habiskan untuk membuktikan kemampuannya di tempat yang tidak selalu ramah bagi perempuan yang duduk di sampingnya di pantry.
Perempuan itu sudah bekerja hampir delapan tahun di Axion Dynamics. Cerdas. Tegas. Dan sangat dihormati. Laras memperhatikan ekspresi Morana beberapa saat.
Lalu tersenyum kecil.
"Kaget?"
Morana menoleh.
"Kaget apa, Mbak?"
Laras terkekeh pelan.
"Budaya kantornya."
Morana terdiam.
Karena ternyata seseorang akhirnya mengatakannya.
Laras menyesap kopinya, lalu berkata santai,
"Kalau mau didengar di sini, kamu harus kerja dua kali lebih keras."
Morana langsung tertawa refleks, mengira itu hanya candaan khas karyawan lama. Namun Laras tidak tertawa.
Tidak sama sekali.
Perempuan itu hanya menatapnya.
Tenang.
Lelah.
Seolah kalimat itu lahir dari pengalaman yang terlalu panjang.
Dan saat itulah senyum Morana perlahan menghilang.
Karena untuk pertama kalinya ia sadar.
Laras tidak sedang bercanda.
Semakin lama bekerja, semakin banyak hal yang mulai ia lihat.
Seorang kandidat perempuan ditanya saat wawancara:
"Sudah menikah?"
"Ada rencana menikah dalam waktu dekat?"
"Kalau punya anak nanti bagaimana?"
Padahal kandidat laki-laki yang diwawancarai sebelumnya tidak mendapatkan satu pun pertanyaan serupa.
Morana mulai merasa tidak nyaman. Sangat tidak nyaman. Karena sebagai HR, ia berada cukup dekat untuk melihat semuanya. Namun masih terlalu baru untuk mengubah apa pun. Lalu ada seorang supervisor perempuan dari divisi lain. Kompeten. Prestasinya tinggi. Memimpin tim dengan baik. Namun ketika posisi manajer dibuka, yang dipromosikan justru laki-laki dengan pengalaman lebih sedikit. Alasannya sederhana. Katanya. Lebih stabil. Lebih siap memimpin. Lebih cocok. Kalimat yang terdengar netral. Namun entah kenapa selalu mengarah pada orang yang sama.
Kemudian ada cerita lain. Perempuan yang kariernya berhenti di posisi tertentu selama bertahun-tahun. Bukan karena tidak mampu. Bukan karena tidak berprestasi. Melainkan karena perusahaan diam-diam menganggap mereka akan menikah, akan hamil, akan mengambil cuti, akan sibuk dengan keluarga. Seolah masa depan mereka sudah diputuskan bahkan sebelum mereka sempat memilihnya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke dunia kerja, Morana merasa marah. Bukan marah yang meledak-ledak. Bukan marah yang terlihat. Melainkan marah yang diam. Marah yang tumbuh pelan di dalam dada. Karena ia melihat begitu banyak perempuan hebat. Begitu banyak perempuan cerdas. Begitu banyak perempuan yang bekerja luar biasa keras. Namun tetap harus membuktikan diri berkali-kali hanya untuk mendapatkan tempat yang sama.
Malam itu, setelah pulang kerja, Morana duduk sendirian di apartemennya. Laptop masih menyala. Lampu kota Surabaya terlihat dari balik jendela. Dan untuk pertama kalinya sejak bekerja di Axion Dynamics, ia memahami sesuatu. Dulu ia mengira setelah lulus kuliah, perjuangan akan selesai. Dulu ia mengira dunia profesional akan lebih adil karena semua orang dinilai berdasarkan kemampuan. Dulu ia mengira kerja keras selalu cukup. Namun ternyata tidak. Karena ada ruangan-ruangan yang memang tidak dibangun untuk mendengar suara perempuan. Dan yang lebih menyakitkan, sering kali ruangan itu bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang melakukannya.
Morana memandangi pantulan dirinya di kaca jendela.
Lalu mengingat kalimat Laras.
"Kalau mau didengar di sini, kamu harus kerja dua kali lebih keras."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki dunia kerja, Morana mulai bertanya-tanya. Jika perempuan memang harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan tempat yang sama, berapa banyak perempuan sebelum dirinya yang sudah melakukannya diam-diam?
Tanpa tepuk tangan.