WOMEN: A Quiet Storm No One Sees

AMANDA LAUDYA YASMINE
Chapter #16

CHAPTER 16 : "Batang Hidup Kesepian"

BAB 46 

(Percakapan yang Tertinggal)

Ada masa ketika Morana percaya bahwa beberapa hal akan selalu sama. Persahabatan, misalnya. Dulu ia berpikir bahwa selama mereka tetap saling menyayangi, semuanya akan baik-baik saja. Tidak peduli sejauh apa jarak memisahkan, sesibuk apa kehidupan masing-masing, atau berapa tahun berlalu. Karena bukankah sahabat sejati selalu menemukan jalan untuk kembali? Setidaknya itulah yang dulu ia percayai.

Namun kehidupan setelah lulus kuliah ternyata memiliki caranya sendiri untuk mengubah banyak hal tanpa meminta izin kepada siapa pun. Perubahannya tidak besar, tidak dramatis, tidak datang dalam bentuk pertengkaran atau perpisahan. Justru sebaliknya. Perubahan itu datang begitu pelan hingga hampir tidak terasa, sampai suatu hari Morana menoleh ke belakang dan menyadari bahwa semuanya sudah berbeda.

Malam itu ia baru saja pulang kerja. Hari hampir menunjukkan pukul sembilan ketika ia membuka pintu apartemennya. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian menghadiri rapat dan menyelesaikan laporan yang seakan tidak pernah habis. Ia meletakkan tas di atas sofa, melepas sepatu, lalu menjatuhkan diri ke kursi dekat jendela. Di luar, lampu-lampu Kota Surabaya berpendar seperti bintang-bintang kecil yang tersebar di antara gedung dan jalan raya. Indah, tetapi terasa jauh. Sama seperti banyak hal dalam hidupnya belakangan ini.

Ponselnya bergetar pelan. Notifikasi grup. Refleks, Morana langsung membukanya. Core Four. Nama grup itu masih sama sejak tahun pertama kuliah. Foto profilnya pun tidak pernah berubah, yaitu foto berempat yang diambil ketika mereka masih mahasiswa baru. Wajah-wajah yang lebih muda, senyum yang lebih lepas, dan mata yang belum mengenal terlalu banyak kegagalan. Morana menatap foto itu beberapa detik sebelum membuka ruang obrolannya. Sunyi.

Pesan terakhir berasal dari tiga hari lalu. Nia mengirim sebuah stiker dan tidak ada yang membalas. Sebelumnya, Syahla mengirim foto pemandangan musim gugur dari Belanda hampir seminggu lalu. Inka hanya memberi reaksi hati, lalu percakapan berakhir begitu saja. Morana tersenyum kecil. Senyum yang terasa pahit. Karena ia masih ingat bagaimana grup itu dulu.

Dulu satu jam saja cukup untuk menghasilkan ratusan pesan. Kadang ia meninggalkan ponselnya sebentar lalu kembali menemukan tiga ratus notifikasi yang belum terbaca. Mereka membicarakan apa saja seperti dosen, tugas, drama organisasi, makanan kantin, film, meme, mantan, calon mantan, bahkan orang yang belum sempat menjadi apa-apa. Apa pun bisa menjadi bahan obrolan. Apa pun bisa membuat mereka tertawa sampai tengah malam. Dulu mereka selalu tahu apa yang sedang terjadi dalam hidup satu sama lain.

Sekarang berbeda.

Kadang Morana bahkan tidak tahu di negara mana Syahla sedang berada. Kadang ia baru mengetahui kabar terbaru Amel dari unggahan media sosial. Kadang pesan Inka baru dibalas tiga hari kemudian karena jadwal jaga yang tidak manusiawi. Kadang Nia menghilang selama seminggu karena tenggelam dalam pekerjaan. Dan yang paling menyedihkan, semua itu terasa normal.

Morana menghela napas pelan lalu tanpa sadar mulai menggulir percakapan lama. Januari. Februari. Maret. Tahun lalu. Dua tahun lalu. Tiga tahun lalu. Senyumnya perlahan muncul. Di sana tersimpan foto-foto yang bahkan sudah ia lupakan. Video Syahla yang tersesat saat KKN. Voice note Amel yang menangis karena revisi skripsi. Puluhan foto makanan yang dikirim Nia setiap kali merasa stres. Dan Inka. Tuhan. Inka pernah mengirim begitu banyak pesan hingga rasanya mustahil percaya bahwa sekarang mereka bisa tidak berbicara selama berminggu-minggu.

Morana tertawa kecil ketika menemukan sebuah foto lama. Foto mereka berempat yang diambil di depan gedung fakultas. Wajah mereka berantakan, mata sembab, pakaian kusut, tetapi semuanya tersenyum lebar karena hari itu mereka baru saja menyelesaikan ujian yang terasa seperti akhir dunia. Dulu mereka benar-benar percaya bahwa itu adalah masa tersulit dalam hidup. Lucu sekali. Karena sekarang mereka tahu bahwa kehidupan setelah kampus ternyata jauh lebih rumit, jauh lebih sepi, dan jauh lebih membingungkan.

Ponselnya kembali bergetar. Pesan baru masuk ke grup. Kali ini dari Inka.

"Baru selesai jaga 24 jam. Aku mau pingsan."

Morana langsung tersenyum, seperti refleks, seperti kebiasaan lama yang belum hilang.

"Tidur sana, dokter."

Beberapa menit kemudian Nia di group chat core four muncul.

"Kalau aku pingsan di meeting besok, tolong jangan lupa kirim bunga."

Syahla ikut membalas.

"Aku lagi di bandara. Kalian masih aja dramatis."

Morana tertawa pelan. Untuk beberapa menit, grup itu kembali hidup. Tidak seramai dulu, tidak selama dulu, tetapi cukup untuk membuat hatinya terasa hangat. Cukup untuk membuatnya merasa bahwa mereka masih ada, meskipun kini hidup masing-masing bergerak ke arah yang berbeda.

Namun seperti banyak hal indah lainnya, momen itu tidak berlangsung lama. Setengah jam kemudian obrolan kembali sepi. Inka tidur. Nia menghilang karena pekerjaan. Syahla harus naik pesawat. Dan Amel bahkan belum sempat membalas satu pesan pun. Morana menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya meletakkannya di samping. Apartemen kembali sunyi. Hanya ada suara pendingin ruangan dan kendaraan dari kejauhan. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Morana menyadari sesuatu. Mungkin masalahnya bukan karena mereka berubah. Bukan karena mereka tidak lagi peduli. Bukan karena persahabatan mereka memudar. Mereka hanya sedang hidup. Sesederhana itu. Masing-masing sedang berjuang di medan perang yang berbeda. Inka dengan rumah sakit dan pasien-pasiennya. Syahla dengan mimpi-mimpinya yang membawanya melintasi berbagai negara. Nia dengan dunia kerja yang terus menuntut lebih banyak. Amel dengan kehidupan baru yang sedang ia bangun. Dan dirinya sendiri, dengan segala hal yang masih berusaha ia pahami.

Tiba-tiba Morana teringat sesuatu. Dulu ketika masih kuliah, mereka sering bercanda bahwa suatu hari nanti mereka akan tinggal berdekatan, bekerja di kota yang sama, sering bertemu, liburan bersama, dan menjadi bibi untuk anak-anak satu sama lain. Mereka menyusun masa depan seperti anak kecil yang menggambar rumah di atas awan, yakin bahwa semuanya mungkin dan hidup akan berjalan sesuai rencana. Namun kenyataannya tidak ada satu pun yang benar-benar terjadi. Dan anehnya, itu tidak membuat persahabatan mereka gagal. Hanya berbeda.

Lebih dewasa.

Lebih sunyi.

Lebih jarang diucapkan.

Tetapi tetap ada.

Morana kembali membuka grup itu dan mengetik sebuah pesan singkat.

"Kangen kalian."

Tidak ada yang langsung membalas.

Satu menit.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lihat selengkapnya