BAB 52
(Musim yang Pernah Ada)
Sudah hampir tiga tahun sejak terakhir kali Morana mendengar nama itu diucapkan secara langsung. Tiga tahun sejak rumah sakit. Tiga tahun sejak malam yang mengubah begitu banyak hal dalam hidupnya. Tiga tahun sejak ia memutuskan pergi. Dan seperti yang selalu dilakukan waktu, semuanya perlahan bergerak menjauh. Luka berubah menjadi kenangan. Tangisan menjadi cerita. Nama yang dulu mampu membuat dadanya sesak kini hanya sesekali muncul dalam pikirannya, seperti hujan yang datang sebentar lalu pergi.
Hari itu Morana berada di Yogyakarta. Axion Dynamics mengirim beberapa perwakilan untuk menghadiri seminar nasional tentang Human Capital dan Organizational Development yang dihadiri berbagai perusahaan besar dari banyak kota. Sebagai Organization Development Analyst, Morana menjadi salah satu peserta yang mewakili perusahaan.Seminar tersebut berlangsung di sebuah hotel besar di pusat kota, dipenuhi orang-orang dengan jas formal, kartu identitas yang menggantung di leher, serta percakapan tentang karier, strategi bisnis, dan masa depan industri. Dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Morana beberapa tahun lalu. Dunia yang ia bangun kembali dengan susah payah setelah kehilangan begitu banyak hal.
Pagi itu ia bahkan tidak memikirkan masa lalu. Pikirannya lebih sibuk pada presentasi yang harus ia bawakan siang nanti, laporan yang belum selesai, dan email-email yang menunggu balasan ketika ia kembali ke Surabaya. Seperti biasa. Seperti kehidupan orang dewasa pada umumnya. Sampai sesi makan siang dimulai. Morana berdiri di dekat meja kopi ketika tanpa sengaja melihat seorang perempuan beberapa meter di depannya. Awalnya ia hanya merasa wajah itu sangat familiar. Namun otaknya membutuhkan beberapa detik untuk mengenalinya. Dan ketika akhirnya ia berhasil, langkah Morana langsung terhenti.
Perempuan itu juga terlihat membeku sebelum perlahan tersenyum. Senyum yang pernah sangat ia kenal. Senyum yang dulu sering menyambutnya ketika ia berkunjung ke Yogyakarta saat masih menjadi mahasiswa. "Mora?" Jantung Morana berdegup sedikit lebih cepat. Bukan karena cinta. Bukan karena luka. Hanya karena ada beberapa orang yang, meski sudah bertahun-tahun tidak ditemui, tetap mampu membawa kita kembali pada versi diri kita yang lama. "Ibu Angkasa."
Perempuan itu segera berdiri dan tanpa banyak bicara memeluknya. Pelukan yang hangat. Pelukan yang membuat Morana tiba-tiba teringat begitu banyak hal yang selama ini terkubur rapi. Mereka akhirnya duduk bersama di sebuah sudut restoran hotel. Awalnya percakapan berjalan ringan. Tentang pekerjaan, keluarga, kehidupan, dan bagaimana waktu ternyata bergerak jauh lebih cepat dibanding yang pernah mereka bayangkan. Sampai akhirnya nama itu muncul. Tidak terhindarkan. Tidak mungkin dihindari.
"Angkasa sudah membaik."
Kalimat itu diucapkan begitu pelan, tetapi cukup membuat Morana terdiam. Selama beberapa detik ia hanya menatap cangkir kopi di depannya, mencoba menerima kenyataan bahwa setelah bertahun-tahun akhirnya ia mendengar kabar itu. Kabar yang dulu begitu ingin ia dengar. "Kondisinya jauh lebih baik sekarang." Morana mengangguk pelan. Tenggorokannya mendadak terasa kering. "Terapinya masih berjalan. Tapi sudah jauh berbeda dibanding dulu." Perempuan itu tersenyum. Senyum yang kali ini terlihat lebih ringan. Lebih damai. Sebagai seorang ibu yang akhirnya bisa bernapas setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan. Morana ikut tersenyum. Tulus. Sungguh tulus.
Dan untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu. Ia tidak lagi menunggu Angkasa kembali. Ia hanya ingin Angkasa baik-baik saja. Itu saja. "Syukurlah, Tante." Perempuan itu mengangguk. Setelah beberapa saat terdiam, ia berkata pelan, "Dia sudah ingat banyak hal sekarang." Morana tidak langsung memahami maksudnya sampai kalimat berikutnya keluar. "Termasuk kamu." Waktu seperti berhenti selama beberapa detik. Morana membeku. Jari-jarinya perlahan mengencang di sekitar cangkir, tetapi ia tidak mampu berkata apa-apa.
Perempuan di depannya tersenyum tipis, seolah memahami apa yang sedang terjadi di dalam kepala Morana. "Hal pertama yang dia tanyakan waktu mulai pulih bukan kuliahnya." Morana menunduk. "Dia nggak nanya organisasi." Perempuan itu tersenyum sedih. "Dia nggak nanya nilai." Napas Morana terasa berat. "Dia nanya kamu." Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, nama Angkasa kembali terasa seperti sesuatu yang hidup. Bukan luka. Bukan kenangan. Melainkan seseorang yang pernah sangat berarti. Morana menatap meja, berusaha menahan sesuatu yang tiba-tiba memenuhi dadanya. "Dia tanya kenapa kamu nggak pernah datang lagi." Suara perempuan itu semakin pelan. "Dia pikir kamu sibuk."
Morana menunduk lebih dalam karena tiba-tiba ia teringat anak laki-laki berusia lima tahun yang pernah memandangnya dengan bingung di rumah sakit. Anak laki-laki yang tidak tahu siapa dirinya. Yang bahkan tidak tahu hidupnya sendiri. "Awalnya tante nggak tahu harus jawab apa." Perempuan itu tertawa kecil meski matanya mulai berkaca. "Tapi akhirnya tante ceritain semuanya." Morana perlahan mengangkat kepala. "Semuanya?" "Semuanya." Tentang rumah sakit. Tentang perpisahan. Tentang keputusan Morana. Tentang tahun-tahun yang hilang. Tentang perempuan yang memilih pergi karena tidak lagi tahu harus bertahan dengan cara apa. Semua. "Dia nangis."
Kalimat itu membuat dada Morana terasa sesak. Bukan karena berharap sesuatu. Bukan karena ingin kembali. Tetapi karena akhirnya seseorang mengetahui seluruh cerita yang selama ini hanya ia simpan sendiri. "Dia nangis lama sekali." Perempuan itu tersenyum sedih. "Dan itu pertama kalinya dia benar-benar memahami apa yang terjadi." Morana memejamkan mata sesaat lalu menghela napas panjang, melepaskan sesuatu yang selama ini tanpa sadar masih ia bawa. Setelah beberapa saat, perempuan itu kembali berbicara. Kali ini tentang seseorang yang dulu pernah menjadi sumber begitu banyak prasangka. "Nadira juga sempat datang beberapa kali." Morana terdiam. Nama itu sudah lama sekali tidak ia dengar. Perempuan itu tersenyum kecil. "Nadira anak baik." Morana tidak menyela. "Dia banyak membantu Angkasa waktu kondisinya mulai memburuk."
Sedikit demi sedikit, potongan-potongan cerita yang selama ini tidak pernah lengkap mulai menemukan tempatnya. "Ternyata gosip kampus memang suka berlebihan." Perempuan itu tertawa pelan. "Nadira memang menyukai Angkasa." Morana menatapnya, terkejut. Namun perempuan itu melanjutkan sebelum ia sempat berpikir terlalu jauh. "Tapi Angkasa tidak pernah bersama dia." Sunyi. "Tante rasa Nadira hanya mencoba membantu seseorang yang sedang tenggelam." Perempuan itu tersenyum sedih. "Dan pada akhirnya dia juga tidak bisa menyelamatkannya."
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Morana memahami semuanya. Tentang foto-foto itu. Tentang gosip-gosip itu. Tentang nama yang selalu muncul bersamaan dengan Angkasa. Ternyata tidak ada pengkhianatan. Tidak ada perselingkuhan. Tidak ada cerita besar seperti yang selama ini dibayangkan orang-orang. Hanya banyak orang yang terlambat menyadari bahwa seseorang sedang hancur perlahan. Dan ketika mereka akhirnya sadar, semuanya sudah terlambat. Anehnya, kenyataan itu tidak membuat Morana marah. Tidak membuatnya menyesal. Tidak membuatnya ingin mengulang waktu.
Karena semuanya sudah selesai.
Benar-benar selesai.
Ketika waktu makan siang hampir berakhir, mereka akhirnya berdiri dan kembali pada kehidupan masing-masing. Sebelum pergi, ibu Angkasa memegang tangan Morana dengan erat, sama seperti terakhir kali mereka bertemu di rumah sakit bertahun-tahun lalu. Namun kali ini tidak ada tangisan. Tidak ada kepanikan. Tidak ada kehancuran. Hanya ketenangan yang datang setelah badai selesai. "Dia ingat kamu, Mora." Morana diam. Angin dari pintu lobi berhembus pelan, membawa aroma hujan yang mulai turun di luar. Perempuan itu tersenyum. Dan berkata pelan, "Tante rasa dia akan selalu ingat." Untuk sesaat Morana menatap lantai. Kemudian ia tersenyum. Senyum yang kecil, namun tulus. "Saya juga, akan selalu ingat, Tante." Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, nama Angkasa tidak lagi terasa seperti luka yang belum sembuh. Ia hanyalah seseorang yang pernah hadir. Pernah dicintai. Pernah kehilangan arah. Pernah menjadi rumah. Dan seperti banyak hal indah lainnya dalam hidup, tidak semua yang pernah kita cintai ditakdirkan untuk tinggal. Beberapa hanya datang untuk mengajarkan kita cara bertahan ketika akhirnya mereka pergi.
BAB 53
(Arsip Terakhir)
Hidup ternyata memiliki cara yang aneh dalam mengarsipkan seseorang. Kadang bukan melalui foto wajahnya, bukan melalui pesan-pesan panjang yang pernah dikirim, dan bukan pula melalui hadiah atau benda-benda yang sengaja disimpan. Melainkan melalui hal-hal kecil yang bahkan tidak pernah kita sadari. Sebuah lagu. Sebuah jalan. Sebuah aroma kopi. Sebuah kota. Atau sebuah langit sore yang pernah dilihat bersama.
Beberapa hari setelah kembali dari Yogyakarta, kehidupan Morana kembali berjalan seperti biasa. Ia kembali menghadiri rapat, menyusun laporan, mengejar tenggat waktu, dan menghabiskan sebagian besar harinya di kantor Axion Dynamics. Tidak ada yang berubah, setidaknya dari luar. Namun jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang terasa lebih tenang setelah pertemuannya dengan ibu Angkasa. Bukan karena semua luka tiba-tiba hilang, bukan karena kenangan mendadak lenyap, melainkan karena akhirnya tidak ada lagi pertanyaan yang selama bertahun-tahun terus hidup di kepalanya.
Angkasa hidup.
Angkasa membaik.
Angkasa mengingatnya.
Dan entah mengapa, jawaban-jawaban sederhana itu terasa cukup.
Malam itu hujan turun perlahan di Surabaya. Morana baru saja selesai bekerja ketika ia memutuskan membereskan galeri ponselnya yang sudah terlalu penuh. Awalnya hanya hal biasa. Menghapus tangkapan layar yang tidak penting, membersihkan dokumen lama, dan memindahkan foto-foto pekerjaan ke penyimpanan lain. Sampai tanpa sengaja ia menemukan sebuah folder lama. Folder yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia buka. Folder yang bahkan hampir terlupakan keberadaannya.
Yogyakarta
Morana membeku.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia melihat nama itu. Tangannya berhenti bergerak dan layar ponsel terasa jauh lebih berat dibanding seharusnya. Perlahan ia membukanya. Dan seketika bertahun-tahun kenangan seperti tumpah keluar dari sana. Tidak ada foto romantis. Tidak ada foto berpegangan tangan. Tidak ada foto yang memperlihatkan dua orang yang sedang jatuh cinta. Yang ada justru hal-hal sederhana. Foto jalan menuju Fakultas Hukum. Foto halte kampus. Foto langit sore yang berwarna jingga. Foto secangkir kopi yang pernah dikirim seseorang saat begadang mengerjakan tugas. Foto rak buku. Foto trotoar yang basah setelah hujan. Foto kota yang dulu terasa begitu jauh dari Surabaya.