WOMEN: A Quiet Storm No One Sees

AMANDA LAUDYA YASMINE
Chapter #20

CHAPTER 20 : "Berbagai Pilihan"

BAB 58 

(Pertanyaan Retoris)

Perumahan keluarga Lesmana selalu punya cara yang sama untuk menyambut Morana setiap kali ia pulang, seolah tidak ada waktu yang benar-benar lewat di tempat itu. Gerbang tinggi, halaman yang terlalu rapi, dan rumah besar yang berdiri seperti sesuatu yang tidak hanya dihuni, tetapi juga dijaga citranya. Begitu mobil berhenti, ia sudah bisa mendengar suara percakapan dari dalam bahkan sebelum pintu dibuka sepenuhnya, seperti hidup di dalam rumah itu sudah lebih dulu berjalan tanpa menunggunya masuk. “Morana sudah datang,” suara itu terdengar dari dalam, diikuti langkah-langkah ringan dan senyum yang muncul seperti refleks sosial yang sudah dilatih bertahun-tahun. Ia masuk dengan tenang, melepas sepatu, lalu memberi salam singkat, “Siang,” tanpa tambahan apa pun, karena di rumah ini, kehadiran sudah cukup untuk menjadi bagian dari percakapan yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Di ruang tengah, beberapa anggota keluarga sudah duduk dengan posisi yang seolah sudah ditentukan masing-masing. Tidak ada kekacauan, tidak ada suara yang tumpang tindih secara berlebihan, hanya percakapan yang mengalir dengan ritme yang terasa terstruktur, seperti semua orang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan. “Kerja kamu masih sama kan, Morana?” tanya salah satu kerabat sambil tersenyum kecil. “Iya, masih,” jawabnya singkat. Belum sempat percakapan itu berhenti di sana, suara lain masuk dengan nada yang lebih ringan tapi membawa arah yang sama, “Kamu tuh kerja terus ya, capek nggak? Perempuan jangan terlalu diforsir, nanti susah sendiri loh.” Morana tersenyum kecil, bukan karena setuju atau tidak setuju, tapi karena kalimat itu sudah terlalu sering terdengar untuk terasa baru. “Capek sih, tapi masih bisa diatur,” jawabnya pelan.

Percakapan kemudian mengalir ke arah yang seolah lebih santai, tapi selalu punya inti yang sama di baliknya. “Sekarang teman-teman kamu sudah pada serius loh, Morana,” kata salah satu tante,iya itu adalah Pranindya Sekar Lesmana yang sambil mengaduk teh. “Iya,” jawab Morana lagi, karena tidak ada jawaban lain yang benar-benar diminta darinya. Di meja makan, suara sendok dan piring terdengar di sela percakapan yang terus berjalan. “Kamu itu sebenarnya sudah bagus semuanya, karier juga oke,” suara lain masuk, sedikit lebih lembut, “cuma ya satu hal itu aja yang belum.” Kalimat itu tidak selesai, tapi tidak perlu diselesaikan. Semua orang di meja itu tahu maksudnya, termasuk Morana. “Nikah,” lanjut seseorang akhirnya, seolah menyimpulkan sesuatu yang sudah disepakati bersama tanpa pernah benar-benar didiskusikan.

Morana tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap makanannya sebentar sebelum berkata pelan, “Kalau belum siap gimana?” Suasana sempat melambat sepersekian detik, bukan diam yang penuh konflik, tapi diam yang muncul karena pertanyaan itu tidak termasuk dalam alur percakapan yang biasa. Lalu seseorang tertawa kecil, “Ya bukan soal siap atau nggak siap sih, Morana. Itu kan memang tahap hidup.” Morana menatap mereka sebentar, lalu mengangguk pelan, “Tahap hidup siapa?” tanyanya lagi, lebih pelan dari sebelumnya. Kali ini tidak ada jawaban langsung. Hanya senyum kecil, dan kalimat, “Kamu ngerti lah maksudnya,” sebelum percakapan kembali bergeser ke topik lain seperti tidak ada yang baru saja terganggu.

Sore menjelang malam, rumah itu kembali tenang dengan caranya sendiri. Morana duduk di ruang tamu, membiarkan suara televisi dari ruang lain menjadi latar yang tidak perlu ia ikuti. Di tangannya tidak ada apa-apa, hanya waktu yang berjalan tanpa ia isi. Ia memikirkan percakapan tadi bukan sebagai sesuatu yang menyakitkan secara langsung, tapi sebagai sesuatu yang terlalu sering terjadi sampai ia baru sadar bahwa tidak pernah ada ruang di dalamnya untuk benar-benar bertanya balik. Semua pertanyaan yang datang kepadanya tidak pernah benar-benar menunggu jawaban, hanya menunggu kepatuhan dalam bentuk yang lebih halus. Dan untuk pertama kalinya, Morana tidak buru-buru menertawakan, tidak buru-buru membenarkan, dan tidak buru-buru menghapus rasa itu dari kepalanya. Ia hanya duduk lebih lama dari biasanya, menyadari bahwa ada banyak hal dalam hidupnya yang tidak pernah benar-benar ditanyakan untuk dijawab hanya untuk memastikan bahwa ia tetap berjalan di jalur yang sudah lama dianggap benar oleh orang lain. 

Di sela diam itu, pikirannya bergerak ke arah yang tidak pernah benar-benar ia ucapkan keras-keras. Ada masa ketika ia pernah membayangkan hidup tanpa menikah sama sekali. Bukan sebagai bentuk pemberontakan, tapi sebagai kemungkinan yang terasa lebih jujur pada dirinya sendiri. Hidup yang tidak perlu disesuaikan dengan orang lain, tidak perlu masuk ke dalam struktur yang sudah ditentukan, hidup yang cukup berdiri sebagai dirinya sendiri. Bahkan ketika ia sempat mencoba membayangkan versi lain, kalau pun ia menikah ia sering berhenti di satu titik yang sama: tidak ingin memiliki anak. Childfree, bukan karena dingin, tapi karena ada ketakutan yang tidak pernah bisa ia jelaskan dengan mudah kepada siapa pun. 

Ketakutan itu tidak datang dari satu sumber saja, tapi dari potongan-potongan kecil yang ia lihat dan dengar selama hidupnya. Tentang hubungan yang tidak selalu aman, tentang pasangan yang berubah setelah pernikahan, tentang kekerasan yang tidak selalu terlihat dari luar, tentang perempuan yang kehilangan suaranya di dalam rumahnya sendiri. Ada rasa takut yang tidak pernah sepenuhnya ia akui, tapi selalu ada di belakang kepalanya setiap kali kata “nikah” disebut terlalu mudah, seolah itu adalah tujuan yang otomatis menyelesaikan segalanya. Ia juga takut diselingkuhi, takut kepercayaan yang ia berikan tidak dijaga, takut ulang dari cerita-cerita yang pernah ia dengar tapi tidak pernah benar-benar ingin ia alami sendiri.  Dan di antara semua itu, ada satu hal yang paling diam-diam ia pegang: keinginan untuk tetap punya kendali atas hidupnya sendiri. Bukan berarti menolak semua orang, bukan berarti menutup diri dari kemungkinan mencintai atau dicintai, tapi keinginan untuk tidak kehilangan dirinya di dalam pilihan yang katanya “harus”. Ia ingin, jika suatu hari ia memilih, itu benar-benar pilihan, bukan sesuatu yang sudah diputuskan lebih dulu oleh lingkungan, keluarga, atau waktu. Malam itu, di ruang tamu yang mulai redup, Morana akhirnya menyadari bahwa yang selama ini ia sebut “wajar” mungkin tidak pernah benar-benar wajar untuk dirinya, hanya sesuatu yang terlalu sering diulang sampai terdengar seperti kebenaran.

BAB 59

(Suara yang Melirih)

Ada banyak hal yang dipikirkan perempuan sebelum tidur, dan anehnya sebagian besar bahkan belum terjadi. Morana sering menyadari itu ketika malam datang terlalu tenang. Ketika pekerjaan sudah selesai, notifikasi mulai berkurang, dan dunia akhirnya memberi ruang bagi pikirannya untuk berbicara lebih keras. Bukan tentang hal-hal besar seperti mimpi atau ambisi, melainkan hal-hal yang terasa sederhana tapi terus muncul berulang kali. Tentang masa depan. Tentang keputusan. Tentang hidup yang bahkan belum dijalani, tetapi sudah dituntut untuk direncanakan. Kadang ia merasa menjadi perempuan berarti selalu memikirkan beberapa kemungkinan sekaligus, seolah hidup tidak pernah memperbolehkan mereka berjalan dalam satu jalur saja.

Siang itu, saat makan bersama Amelia dan Nathania, percakapan yang awalnya hanya tentang pekerjaan berubah arah seperti banyak percakapan perempuan lainnya. Tidak ada yang merencanakan topik itu muncul. Topik itu selalu datang sendiri. “Kemarin aku ketemu tanteku,” kata Nathania sambil memainkan sedotannya. “Terus?” tanya Morana. Nathania tertawa pendek. “Ditanya kapan nikah.” Amelia langsung mengangkat alis. “Lagi?” “Iya. Terus habis itu ditanya, ‘jangan terlalu milih ya, nanti keburu umur.’” Ketiganya tertawa kecil. Tapi tidak ada yang benar-benar merasa itu lucu.

Amelia kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kalau aku beda lagi.” “Apa?” tanya Morana. “Mama bilang kalau aku terus ngejar promosi, nanti laki-laki takut sama aku.” Morana terdiam sesaat. Kalimat itu terasa begitu akrab sampai tidak terasa aneh lagi. Padahal kalau dipikirkan, memang aneh. “Kenapa ya,” gumam Amelia pelan, “kalau perempuan punya mimpi besar selalu dianggap harus mengorbankan sesuatu?” Tidak ada yang langsung menjawab. Karena mereka semua pernah memikirkan pertanyaan yang sama.

Percakapan itu membuat Morana teringat pada ibunya. Pada perempuan-perempuan generasi sebelumnya yang tumbuh dengan dunia yang berbeda. Tanaya pernah bercerita bahwa di usianya sekarang, sebagian besar temannya sudah memiliki anak yang beranjak remaja. Saat itu banyak perempuan menikah bukan karena sudah siap, melainkan karena memang waktunya dianggap sudah tiba. “Dulu tidak banyak yang berpikir mau atau tidak,” kata ibunya suatu kali. “Yang dipikirkan cuma kapan.” Dan Morana sering bertanya-tanya, apakah generasi sebelumnya lebih tenang karena pilihan mereka lebih sedikit, atau justru lebih lelah karena tidak pernah diberi kesempatan memilih.

Beberapa hari kemudian, saat menghadiri acara keluarga, Morana duduk cukup lama bersama salah satu tantenya. Perempuan itu sudah berusia hampir enam puluh tahun dan memiliki tiga anak yang semuanya sudah berkeluarga. Di mata banyak orang, hidupnya sempurna. Tapi ketika percakapan mereka menjauh dari topik-topik biasa, tante itu tiba-tiba berkata, “Kalau bisa mengulang hidup, mungkin aku ingin bekerja lebih lama.” Morana menoleh. “Menyesal?” tanyanya hati-hati. Perempuan itu tersenyum tipis. “Bukan menyesal. Cuma kadang penasaran sama hidup yang tidak sempat tante pilih.”

Lihat selengkapnya