WOMEN: A Quiet Storm No One Sees

AMANDA LAUDYA YASMINE
Chapter #22

CHAPTER 22 : "Figur yang Tidak Bisa di Baca"

BAB 64

(Wajah dan Nama yang Membekas)

Selama bertahun-tahun, ada satu mimpi yang tidak pernah benar-benar Morana ceritakan kepada siapa pun. Mimpi itu lahir jauh sebelum ia mengenal cinta, sebelum ia mengenal kehilangan, bahkan sebelum ia memahami seperti apa dunia orang dewasa bekerja. Saat masih duduk di bangku SMP, ketika teman-temannya menempel poster idola di dinding kamar, Morana justru menempel foto-foto kampus dari majalah pendidikan yang ia kumpulkan diam-diam. Di antara semuanya, ada satu nama yang selalu membuatnya berhenti lebih lama dari yang lain. Harvard. Nama yang terdengar begitu jauh hingga terasa mustahil, namun entah mengapa selalu berhasil membuat jantungnya berdebar setiap kali membacanya.

Dulu, ketika ia pernah mengatakannya saat makan malam, respon yang ia terima tidak seperti yang dibayangkan. Ayahnya tertawa kecil dan mengatakan bahwa anak SMP memang suka bermimpi terlalu tinggi. Beberapa anggota keluarga lain menganggapnya lucu. Tidak jahat, tidak meremehkan secara terang-terangan, hanya cukup untuk membuat seorang anak memahami bahwa mimpinya dianggap tidak realistis. Setelah malam itu, Morana tidak pernah membicarakannya lagi. Ia tetap belajar, tetap tumbuh, tetap menjalani hidup sebagaimana mestinya. Namun diam-diam, nama itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat. 

Dari mulut yang pernah mengucapkannya menjadi sudut hati yang tidak lagi berani berharap terlalu keras. Karena itulah ketika surat penerimaan itu akhirnya benar-benar datang bertahun-tahun kemudian, Morana hanya duduk diam di depan layar laptop selama beberapa menit. Tidak menangis. Tidak berteriak. Tidak melakukan apa pun selain memandangi namanya yang tercetak di sana. Harvard Graduate School of Education. Master of Education. Sesuatu yang dulu terasa seperti mimpi seorang anak perempuan yang terlalu banyak membaca kini tiba-tiba berubah menjadi kenyataan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Morana tidak bertanya apa yang orang lain harapkan darinya. Tidak bertanya apa yang seharusnya ia lakukan. Tidak bertanya apakah keputusan ini akan menyenangkan semua orang. Ia hanya menutup laptopnya perlahan, tersenyum kecil, lalu berkata pada dirinya sendiri dengan suara yang nyaris tidak terdengar, "Aku rasa kali ini aku akan benar-benar memilih diriku sendiri kembali."


Cambridge, Massachusetts, menyambut Morana dengan udara yang jauh lebih dingin daripada yang pernah ia bayangkan. Salju tipis menumpuk di tepi jalan, orang-orang berjalan cepat dengan tangan tersimpan di dalam saku mantel, dan langit musim dingin tampak pucat hampir setiap hari. Sudah hampir empat bulan sejak ia meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi di Harvard Graduate School of Education. Empat bulan sejak pertama kali ia memilih sesuatu tanpa mempertimbangkan apakah keputusan itu akan membuat semua orang senang. Anehnya, meskipun kota ini terasa asing, Morana tidak pernah merasa sehidup ini. Untuk pertama kalinya, masa depannya benar-benar berada di tangannya sendiri.

Kehidupan di Harvard jauh berbeda dari yang selama ini ia bayangkan. Tidak ada mahasiswa jenius yang selalu tahu jawaban untuk segalanya. Tidak ada orang yang hidupnya sempurna. Yang ada hanyalah orang-orang dari berbagai negara yang sama-sama berusaha memahami dunia dengan caranya masing-masing. Di kelas, Morana bertemu guru dari Kenya, peneliti dari Jepang, konsultan pendidikan dari Jerman, hingga psikolog anak dari Brasil. Setiap orang membawa cerita yang berbeda. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Morana merasa menjadi seseorang yang kecil di tengah dunia yang sangat besar. Aneh, tetapi menyenangkan.

Sore itu, setelah menyelesaikan seminar kampus, Morana menerima pesan dari salah satu mahasiswa Indonesia yang baru dikenalnya. Sebuah acara jaringan profesional mahasiswa Indonesia akan diadakan malam itu di salah satu gedung konferensi dekat kampus. Awalnya ia tidak berniat datang. Hari itu sudah cukup panjang, dan ia lebih memilih pulang ke apartemen kecilnya lalu tidur lebih awal. Namun setelah berpikir beberapa menit, ia akhirnya mengiyakan. Tidak ada alasan khusus selain rasa bosan yang tiba-tiba muncul.

Gedung tempat acara berlangsung dipenuhi orang Indonesia dari berbagai latar belakang. Ada mahasiswa pascasarjana, peneliti, profesional muda, bahkan beberapa pejabat yang sedang bertugas di Amerika Serikat. Morana berdiri di dekat meja minuman sambil memperhatikan keramaian di sekelilingnya. Suara bahasa Indonesia yang bercampur bahasa Inggris memenuhi ruangan. Entah mengapa, setelah berbulan-bulan hidup di luar negeri, mendengar bahasa ibunya kembali terasa menenangkan.

"Mbak Morana, sini."

Salah satu peserta melambai dari kejauhan.

Morana menghampiri kelompok kecil itu sambil tersenyum sopan.

"Mbak baru pertama datang?"

"Iya."

"Pas banget. Nanti ada pembicara yang cukup terkenal."

"Siapa?"

Mahasiswa itu terlihat antusias.

"Kaleo Maheswara Adiprana."

Morana mengernyit pelan.

Nama itu terdengar tidak asing.

Sangat tidak asing.

Seolah pernah lewat di hidupnya beberapa kali, meski ia tidak benar-benar ingat dari mana. Beberapa menit kemudian, pembicara yang dimaksud akhirnya naik ke atas panggung. Ruangan perlahan menjadi lebih tenang. Morana ikut menoleh bersama peserta lain. Dan untuk sesaat, ia hanya memandang tanpa memberikan reaksi apa pun. Laki-laki itu tinggi. Jauh di atas rata-rata. Mengenakan setelan gelap yang sederhana namun rapi. Tidak ada aksesori mencolok. Tidak ada senyum besar yang dibuat-buat. Tidak ada usaha untuk terlihat menarik. Anehnya, justru karena itulah hampir semua mata tertuju kepadanya.

Kesan pertama Morana bukan kagum.

Bukan pula tertarik.

Justru sebaliknya.

Menyebalkan.

Entah kenapa.

Laki-laki itu berbicara dengan tenang, cepat, dan sangat terstruktur. Setiap jawaban terdengar seolah sudah dipikirkan jauh sebelum pertanyaan selesai diajukan. Tidak banyak basa-basi. Tidak banyak humor. Tidak berusaha membuat orang menyukainya. Dan itu membuat Morana langsung tidak nyaman. Sebagai seseorang yang terbiasa membaca orang lain, ia biasanya bisa menangkap motif seseorang hanya dari beberapa menit percakapan. Namun kali ini ia tidak mendapatkan apa-apa.

Saat sesi tanya jawab berlangsung, beberapa peserta mulai mengajukan pertanyaan. Sebagian bertanya tentang diplomasi, sebagian tentang pendidikan internasional, sebagian lagi tentang karier global. Kaleo menjawab semuanya dengan efisien. Tidak panjang. Tidak berlebihan. Tidak ada usaha untuk terdengar menginspirasi. Bahkan ketika peserta lain tertawa karena lelucon kecil yang ia lontarkan, ekspresinya hampir tidak berubah. Dan entah mengapa hal itu semakin mengganggu Morana. Laki-laki ini seperti tidak membutuhkan validasi siapa pun. Seolah pendapat orang lain tidak pernah menjadi faktor dalam cara ia menjalani hidup.

Acara selesai sekitar satu jam kemudian. Orang-orang mulai bergerak mendekati pembicara untuk berkenalan. Morana sebenarnya berniat langsung pulang. Namun salah satu panitia yang mengenalnya sebagai mahasiswa Harvard memperkenalkannya kepada beberapa tamu penting yang hadir malam itu. Tanpa sempat menolak, ia sudah berdiri di dalam lingkaran percakapan kecil yang sama dengan laki-laki tadi. Untuk pertama kalinya, jarak mereka hanya beberapa langkah.

"Morana Pertiwi Lesmana."

Ia mengulurkan tangan dengan sopan.

Laki-laki itu menerima jabat tangannya.

Tatapannya tenang.

"Halo."

"Halo."

Hanya itu.

Tidak ada sesuatu yang istimewa.

Tidak ada momen dramatis seperti di novel-novel yang sering dibaca orang.

Namun beberapa detik kemudian, laki-laki itu sedikit mengernyit, seolah sedang mengingat sesuatu.

"Kita pernah bertemu?"

Morana hampir tertawa.

"Kurasa tidak."

Laki-laki itu mengangguk pelan.

"Mungkin."

Dan percakapan itu berakhir begitu saja.

Namun ketika Morana berjalan meninggalkan gedung malam itu, ada satu hal yang terus mengganggunya sepanjang perjalanan pulang. Bukan karena ia terkesan. Bukan karena ia tertarik. Justru karena sebaliknya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mempelajari manusia, mengamati perilaku, dan membaca ekspresi orang lain, ia bertemu seseorang yang tidak bisa ia pahami sama sekali. Dan hal yang paling membuatnya kesal adalah kenyataan bahwa laki-laki itu tampaknya tidak peduli apakah dirinya dipahami atau tidak.

Sementara itu, beberapa lantai di atas aula yang mulai kosong, Kaleo berdiri di dekat jendela sambil menerima panggilan kerja yang belum sempat ia jawab. Percakapannya singkat. Efisien. Sama seperti biasanya. Namun sebelum meninggalkan ruangan, pandangannya sempat jatuh ke arah pintu keluar tempat seorang perempuan baru saja pergi beberapa menit lalu. Morana Pertiwi Lesmana. Nama itu akhirnya memiliki wajah. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun melihatnya muncul di berbagai sudut kehidupan yang tidak saling berhubungan, Kaleo tahu satu hal yang tidak diketahui Morana malam itu: mereka memang pernah bertemu. Berkali-kali. Hanya saja selama ini, yang mengingat selalu dirinya seorang.

BAB 65

(Batas Tipis Membencinya)

Pagi di Cambridge selalu terasa berbeda dibanding pagi yang pernah Morana kenal sebelumnya. Udara musim dingin menggigit pelan kulit wajahnya saat ia berjalan menyusuri trotoar menuju kampus. Orang-orang bergerak cepat dengan mantel tebal dan secangkir kopi di tangan. Tidak banyak yang saling menyapa. Tidak banyak yang peduli pada kehidupan orang lain. Dan entah mengapa, Morana menyukai itu. Di kota ini, tidak ada yang bertanya kapan ia menikah, tidak ada yang bertanya mengapa ia masih sendiri, dan tidak ada yang memandang hidupnya seperti teka-teki yang harus diselesaikan. Semua orang terlalu sibuk menjalani hidup masing-masing.

Namun sejak acara beberapa malam lalu, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya. Bukan tugas kuliah, bukan penelitian, dan bukan presentasi yang harus ia siapkan minggu depan. Melainkan seseorang. Dan kenyataan itu sendiri sudah cukup membuat Morana kesal. Karena biasanya ia tidak pernah memikirkan orang yang baru ditemuinya satu kali, terlebih laki-laki, terlebih laki-laki yang bahkan tidak membuat kesan menyenangkan.

Saat sedang membaca jurnal di perpustakaan sore itu, pikirannya kembali melayang pada acara malam itu. Pada seorang diplomat yang terlalu tenang, terlalu rapi, dan terlalu sulit dibaca. Morana menghela napas pelan lalu menutup laptopnya. Sudah hampir sepuluh menit ia membaca paragraf yang sama tanpa benar-benar memahami isinya. Dan ia membenci kenyataan bahwa penyebabnya adalah seseorang bernama Kaleo Maheswara Adiprana.

Malam harinya, Nathania kembali menghubunginya melalui panggilan video. Layar laptop menampilkan wajah sahabatnya yang masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu di Indonesia.

"Lo kenapa?"

Morana mengernyit. "Apa?"

"Itu muka orang lagi kesel."

"Aku lagi biasa aja."

"Bohong," Nathania langsung menyela. "Kalau lagi biasa aja lo nggak mungkin buka laptop sambil melototin layar kayak dosen pembimbing."

Morana memutar mata. "Ada orang nyebelin."

"Nah." Nathania langsung bersandar lebih nyaman. "Ini baru menarik."

"Bukan menarik."

"Pasti laki-laki."

"Bukan itu poinnya."

"Berarti bener laki-laki."

Morana menghela napas panjang. Kadang-kadang ia merasa Nathania terlalu mengenalnya. Beberapa menit kemudian ia akhirnya menceritakan tentang Kaleo. Tidak banyak, hanya secukupnya. Tentang pertemuan pertama mereka, tentang acara mahasiswa Indonesia, dan tentang kesan pertama yang menurutnya sangat tidak menyenangkan. Nathania mendengarkan dengan ekspresi yang semakin lama semakin sulit disembunyikan.

"Kenapa senyum-senyum?"

Lihat selengkapnya