WOMEN: A Quiet Storm No One Sees

AMANDA LAUDYA YASMINE
Chapter #25

CHAPTER 25 : "A Quiet Storm No One Sees"

BAB 73

(Perempuan Setelah Kata "Iya")

Ternyata rumah bisa terasa penuh oleh benda-benda, tetapi tetap kosong karena satu orang. Enam bulan telah berlalu sejak Morana dan Kaleo mengucapkan janji pernikahan mereka di bawah langit Bali yang cerah. Enam bulan yang seharusnya dipenuhi perjalanan berdua, makan malam panjang, atau pagi-pagi malas di rumah baru. Namun kehidupan rupanya tidak pernah benar-benar peduli pada hal-hal yang dianggap romantis oleh kebanyakan orang. Tidak ada bulan madu. Tidak ada perjalanan panjang setelah resepsi. Tidak ada masa-masa belajar hidup bersama seperti pasangan lain. Hanya ada koper yang belum sempat dibongkar sepenuhnya dan jadwal penerbangan yang datang terlalu cepat.

Apartemen mereka di Jakarta berdiri tenang di lantai dua puluh tiga sebuah gedung di pusat kota. Tidak besar, tetapi cukup untuk dua orang yang jarang memiliki waktu luang. Morana mengisi sebagian besar ruang dengan tanaman kecil, buku-buku, dan beberapa bingkai foto yang baru sempat dicetak setelah pernikahan. Sementara jejak Kaleo hadir dalam hal-hal sederhana yang tidak pernah ia pindahkan. Sikat gigi berwarna hitam di kamar mandi. Kemeja putih yang masih tergantung rapi di lemari. Mug kopi favoritnya di rak dapur. Jam tangan yang sengaja ditinggalkan di meja kerja karena katanya ia akan segera kembali. 

Namun tiga bulan terakhir, apartemen itu hanya dihuni satu orang

Suatu pagi, saat menyiapkan sarapan sebelum berangkat ke kantor, Morana tanpa sadar menata dua piring di atas meja makan. Satu di depannya. Satu lagi tepat di kursi seberang. Baru ketika ia hendak menuangkan kopi ke cangkir kedua, tangannya berhenti di udara. Ia menatap kursi kosong itu cukup lama, lalu mengembalikan piring tersebut ke dalam lemari dengan senyum tipis yang lebih mirip rasa pasrah daripada bahagia.

Aneh. Padahal baru tiga bulan. Namun rumah yang seharusnya menjadi awal dari kehidupan baru mereka justru lebih sering menjadi tempat Morana belajar merindukan seseorang. Saat itulah, entah mengapa, ingatannya melayang pada Tanaya. Dulu, ketika Prasetya beberapa kali harus keluar kota untuk pekerjaan berhari-hari, Morana kecil tidak pernah benar-benar menyadari apa pun. Bunda selalu tampak baik-baik saja. Tetap menyiapkan sarapan. Tetap mengantar mereka ke sekolah. Tetap tertawa ketika Gavin membuat rumah berantakan. Tetap mendengarkan cerita Morana setiap malam seolah tidak ada yang berbeda. Di mata Morana kecil, Bunda hanyalah perempuan yang memang selalu kuat.

Baru sekarang ia menyadari mungkin selama itu bukan karena Tanaya tidak pernah merasa sepi. Melainkan karena Tanaya memilih agar anak-anaknya tidak ikut merasakan sepinya. Morana masih ingat bagaimana dulu ia pernah bertanya dengan polos, "Bunda nggak sedih Ayah sering pergi?" Tanaya hanya tersenyum sambil mengusap rambutnya. "Sedih, Nak." "Tapi kalau orang yang kita sayang sedang berjuang, masa kita malah nambah bebannya?" Waktu itu Morana terlalu kecil untuk memahami maksud kalimat tersebut. Baginya, rindu hanyalah soal menunggu Ayah pulang membawa oleh-oleh dari luar kota.

Kini, berdiri sendirian di dapur apartemen yang masih dipenuhi aroma kopi, Morana akhirnya mengerti. Ternyata yang paling melelahkan bukan menunggu seseorang pulang. Melainkan menjalani hari-hari seperti biasa agar orang yang jauh di sana tidak pernah merasa sedang meninggalkan siapa pun. Tanpa sadar sudut bibir Morana terangkat pelan. "Oh... jadi begini rasanya, Bun..." gumamnya lirih. "Jadi selama ini Bunda juga sedang berjuang seperti ini." Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Morana tidak lagi melihat Tanaya hanya sebagai seorang ibu. Ia melihatnya sebagai seorang perempuan. Perempuan yang juga pernah muda. Pernah jatuh cinta. Pernah takut kehilangan. Pernah harus mengubur rindunya sendiri agar rumah tetap terasa hangat bagi orang-orang yang dicintainya. Dan untuk pertama kalinya pula, Morana benar-benar memahami bahwa menjadi dewasa sering kali bukan tentang menjadi lebih kuat daripada orang tua kita. Melainkan akhirnya menyadari... betapa kuatnya mereka selama ini.


Setelah kembali dari Harvard dan beberapa bulan bekerja di kantor pusat Axion Dynamics Jakarta, posisinya resmi naik menjadi Senior Organizational Development Specialist. Jabatan yang dulu terasa terlalu besar bahkan untuk dibayangkan kini tertulis jelas di kartu identitas karyawannya. Ia memimpin berbagai proyek transformasi organisasi, menyusun strategi pengembangan talenta, dan sering terlibat langsung dalam rapat bersama para direktur. Hari-harinya dipenuhi presentasi, evaluasi, dan diskusi yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Kadang, ketika berdiri di depan ruang rapat dengan puluhan orang memperhatikannya, Morana teringat pada dirinya sendiri beberapa tahun lalu. Perempuan yang gugup memegang pointer presentasi. Perempuan yang takut salah bicara. Perempuan yang berkali-kali mengulang materi di kamar karena khawatir terdengar bodoh. Kini ia berdiri di ujung meja panjang, memimpin diskusi, memutuskan arah proyek, dan menjawab pertanyaan direksi tanpa ragu. Bukan berarti rasa takut itu hilang sepenuhnya.

Hanya saja ia belajar bahwa keberanian tidak pernah datang sebelum seseorang melangkah. Keberanian justru muncul ketika seseorang tetap berjalan meski masih merasa takut. Dan tanpa disadari, Morana yang dulu selalu merasa tertinggal kini telah menjadi perempuan yang diikuti orang lain. Malam hari menjadi milik mereka.

Perbedaan waktu membuat jadwal video call tidak pernah benar-benar teratur. Kadang Morana baru pulang ketika matahari mulai terbit di Beirut. Kadang Kaleo menelepon ketika Jakarta sudah mendekati tengah malam. Tidak ada percakapan yang terlalu romantis. Tidak ada kata-kata puitis setiap hari. Sebagian besar hanya tentang hal-hal kecil yang tampaknya tidak penting.

Suatu malam Morana menangkap Kaleo sedang menyembunyikan sesuatu dari kamera.

“Apa itu?”

“Bukan apa-apa, sayang.”

“Kaleo.”

Laki-laki itu terlihat bersalah sebelum akhirnya mengangkat bungkus mi instan yang sudah kosong.

Morana langsung menghela napas panjang.

“Kamu makan itu lagi?”

“Ini keadaan darurat.”

“Keadaan darurat apanya? Kedutaan nggak punya makanan emangnya?”

“Aku sibuk.”

“Kamu selalu gitu, jawabannya sibuk terus.”

Kaleo tersenyum kecil seperti anak kecil yang tertangkap basah. Morana mengenal ekspresi itu dengan sangat baik. Bahkan dari ribuan kilometer jauhnya, ia tahu kapan suaminya berbohong, kapan sedang lelah, dan kapan hanya ingin dimarahi sebentar. 

Di malam lain, Morana menunjukkan pot kecil berisi tanaman monstera yang mulai tumbuh di balkon apartemen.

“Daunnya nambah satu.”

Kaleo tersenyum.

“Kamu berhasil dong artinya.”

“Aku bahkan nggak nyangka.”

Sebagai gantinya, Kaleo membalik kamera. Matahari terbit perlahan di balik bangunan Beirut. Langit berubah jingga. Kota perlahan terbangun. Tidak ada percakapan selama beberapa menit. Mereka hanya melihat pemandangan masing-masing. Jauh. Tetapi tetap hadir.

Memasuki bulan keenam pernikahan mereka, kantor pusat Axion Dynamics mengumumkan kunjungan langsung CEO global ke Jakarta. Seluruh karyawan regional diundang menghadiri Town Hall Meeting yang diselenggarakan di ballroom hotel terbesar di pusat kota. Morana datang seperti biasa. Mengenakan blazer abu-abu, membawa laptop, dan menyiapkan catatan untuk rapat. Ia mengira acara itu hanya berisi laporan kinerja perusahaan dan strategi bisnis tahunan. Ballroom dipenuhi ratusan karyawan.

Direksi duduk di barisan depan. Layar besar menampilkan berbagai pencapaian perusahaan selama beberapa tahun terakhir. CEO Axion Dynamics berbicara mengenai ekspansi, inovasi, dan transformasi organisasi. Semua terdengar seperti rapat perusahaan pada umumnya. Hingga sebuah slide baru muncul.

Regional People & Organizational Excellence Office — Southeast Asia

Ruangan langsung dipenuhi tepuk tangan. CEO menjelaskan bahwa Axon Dynamics akan membentuk kantor regional baru yang berfokus pada pengembangan organisasi, kepemimpinan, dan transformasi budaya perusahaan di Asia Tenggara. Basis utamanya berada di Singapura. Tim ini akan bekerja lintas negara dan memimpin berbagai perubahan strategis di kawasan. Morana mendengarkan sambil mencatat. Sampai namanya disebut.

“Ms. Morana Adhikara.”

Ia membeku.

Orang-orang di sekitarnya menoleh. Atasannya tersenyum. Rekan-rekannya mulai bertepuk tangan. Morana berdiri dengan bingung sebelum akhirnya berjalan menuju panggung. Lampu terasa terlalu terang. Langkahnya terasa terlalu pelan.

CEO itu tersenyum.

“Ketika Anda berangkat ke Harvard, kami berharap Anda kembali membawa ilmu. Kami tidak menyangka Anda juga membawa cara pandang baru.”

Ruangan hening.

“Kontribusi Anda terhadap pengembangan organisasi di Indonesia telah memberi dampak yang luar biasa. Karena itu, kami ingin menawarkan posisi Regional Organizational Development Lead untuk Asia Tenggara.”

Kalimat berikutnya terasa seperti petir.

“Base di Singapura.”

Suara tepuk tangan kembali memenuhi ruangan.

Morana berdiri diam.

Ia mendengar namanya dipanggil. Mendengar ucapan selamat. Mendengar suara kamera dan tepuk tangan. Tetapi pikirannya terasa kosong. Ada begitu banyak emosi yang datang bersamaan hingga ia tidak mampu memilih mana yang harus dirasakan lebih dulu. Setelah acara selesai, orang-orang mengelilinginya. Rekan kerjanya memeluknya. Atasannya menepuk bahunya dengan bangga.

Direktur HR tersenyum.

“Kamu pantas mendapatkannya.”

“Kami sudah tahu ini akan terjadi.”

“Kamu luar biasa.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Morana benar-benar merasa usahanya dihargai. Semua malam lembur. Semua ketakutan. Semua perjuangan yang pernah ia lalui seperti menemukan jawabannya hari itu. Ia bahagia. Sangat bahagia.

Namun di tengah keramaian itu, satu nama terus muncul di kepalanya.

Bukan Singapura.

Bukan kantor regional.

Bukan jabatan baru.

Melainkan Beirut.

Malam itu apartemen terasa lebih sunyi dari biasanya. Morana meletakkan surat promosi di meja lalu menghubungi Kaleo. Sambungan video muncul beberapa detik kemudian. Wajah laki-laki itu terlihat lelah, tetapi matanya langsung berubah ketika melihat amplop di tangan Morana.

“Apa itu?”

Morana memperlihatkan surat tersebut.

Kaleo membaca perlahan.

Kemudian senyum itu muncul.

Senyum yang begitu tulus sampai membuat dada Morana terasa sesak.

“Kamu diterima?”

Morana mengangguk.

Regional Lead.”

Kaleo tertawa kecil.

“Aku tahu kamu bisa.”

Tidak ada keraguan.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada kekhawatiran.

Hanya kebanggaan yang begitu jelas terlihat.

Namun Morana justru bertanya dengan suara pelan.

“Kalau aku ambil…”

Ia menelan napas.

“…kita bakal tinggal di tiga negara.”

Jakarta.

Singapura.

Beirut.

Sunyi memenuhi layar.

Kaleo memandangnya cukup lama. Seolah sedang mencari kata-kata yang tepat. Lalu akhirnya ia tersenyum lagi.

“Aku bangga sama perempuan yang lagi aku lihat sekarang.”

Hanya itu.

Tidak ada permintaan agar Morana menolak.

Tidak ada kalimat tentang pengorbanan.

Tidak ada tuntutan.

Dan justru karena itulah air mata Morana jatuh.

Bukan karena jawabannya.

Melainkan karena selama ini Kaleo tidak pernah sekali pun meminta dirinya mengecil agar hubungan mereka tetap nyaman. 

Tidak pernah menyuruhnya berjalan lebih lambat. Tidak pernah merasa terancam oleh mimpinya. Setelah panggilan berakhir, apartemen kembali hening. Suara pendingin ruangan terdengar pelan. Lampu kota Jakarta terlihat dari jendela besar ruang tamu. Morana membuka laptopnya. Di sisi kiri layar terdapat dokumen kontrak promosi yang harus dijawab dalam waktu dua minggu. Di sisi kanan terdapat kalender digital. Tiga tanggal sudah ia lingkari.

Ulang tahun pernikahan pertama mereka.

Jadwal cuti Kaleo.

Rapat regional pertama di Singapura.

Ketiganya berada pada minggu yang sama.

Morana menatap layar cukup lama. Selama bertahun-tahun ia selalu berpikir bahwa suatu hari ia harus memilih. Karier atau cinta. Ambisi atau keluarga. Pekerjaan atau pernikahan. Dunia seolah selalu menempatkan perempuan di persimpangan itu. Namun malam ini ia menyadari sesuatu. Masalahnya bukan memilih pekerjaan atau suami. Masalahnya bukan memilih Singapura atau Beirut.

Masalahnya adalah kehidupan tidak pernah bertanya apakah seseorang siap menjalani semuanya sekaligus. Tidak ada waktu yang sempurna. Tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar. Hanya ada keputusan-keputusan yang harus diambil oleh orang yang terus bertumbuh. Morana berdiri di balkon apartemen. Jakarta masih hidup meskipun hari sudah larut. Lampu kendaraan bergerak seperti aliran cahaya yang tidak pernah berhenti. Angin malam membawa suara kota yang samar-samar terdengar dari bawah. Ia mendongak ke langit.

Mungkin pada saat yang sama Kaleo juga sedang melihat langit yang berbeda dari balkon kedutaan di Beirut. Dipisahkan ribuan kilometer. Dipisahkan zona waktu. Dipisahkan pekerjaan yang sama-sama mereka cintai. Laptop di ruang tamu masih menyala. Kontrak promosi belum ditandatangani. Tidak ada keputusan malam itu. Tidak ada jawaban. Tidak ada akhir yang pasti. Hanya seorang perempuan yang berdiri di antara mimpi yang telah ia perjuangkan seumur hidup dan cinta yang baru saja ia pelajari untuk dijaga.  Dan untuk pertama kalinya, Morana tidak merasa harus memilih salah satunya. Dulu aku mengira menjadi perempuan berarti belajar memilih antara mimpi dan cinta. Kini aku mengerti, menjadi perempuan berarti cukup berani memeluk keduanya, meski tahu bahuku mungkin tidak akan pernah benar-benar ringan lagi.


Malam itu Morana tidak membuka kembali surat promosi tersebut. Ia justru membuka laptop kantor dan menyusun satu dokumen baru. Bukan surat pengunduran diri. Bukan pula formulir penerimaan jabatan. Melainkan proposal yang bahkan tidak pernah terpikirkan beberapa jam sebelumnya. Ia menuliskan satu per satu gagasan yang selama ini memenuhi kepalanya: pembentukan tim regional berbasis Jakarta, sistem kerja lintas negara dengan rotasi berkala, serta kepemimpinan hybrid yang memungkinkan proyek Asia Tenggara tetap berjalan tanpa harus memindahkan seluruh hidupnya ke Singapura. Berkali-kali ia menghapus kalimat, lalu menulis ulang. Bukan karena ragu terhadap kemampuannya, tetapi karena untuk pertama kalinya ia sedang memperjuangkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kenaikan jabatan. Ia sedang memperjuangkan hak seorang perempuan untuk tidak selalu diminta meninggalkan salah satu bagian dari hidupnya. 

Keesokan paginya Morana berdiri di depan ruang direksi dengan map biru di tangannya. Jantungnya tetap berdebar, sama seperti hari pertama ia presentasi bertahun-tahun lalu di Surabaya. Bedanya, kali ini ia tidak datang untuk membuktikan bahwa dirinya layak dipromosikan. Ia datang untuk mengajukan satu pertanyaan yang selama ini hampir tidak pernah diajukan siapa pun.

"Apakah kesuksesan harus selalu diukur dari seberapa jauh seseorang meninggalkan rumahnya?"

Ruangan itu hening beberapa saat. Tidak ada yang langsung menjawab. CEO Axion Dynamics hanya menatap proposal di hadapannya dengan serius. Morana tahu permintaannya mungkin ditolak. Mungkin dianggap terlalu idealis. Namun anehnya, ia justru merasa jauh lebih tenang dibanding semalam. Karena apa pun hasilnya nanti, ia akhirnya berhenti menerima dunia sebagaimana adanya. Untuk pertama kalinya, ia mencoba ikut mengubahnya.

Sore harinya, saat matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung Jakarta, ponsel Morana kembali bergetar. Nama Kaleo muncul di layar, diikuti sebuah pesan singkat.

"Udah selesai rapat?"

Morana mengembuskan napas pelan sebelum membalas.

"Baru keluar."

Beberapa detik kemudian balasan datang.

"Gimana hasilnya?"

Morana menatap layar cukup lama.

Jarinya berhenti di atas papan ketik.

Entah mengapa, hari itu ia tidak ingin terdengar sekuat biasanya.

"Belum ada keputusan."

"Kayaknya mereka masih mempertimbangkan proposal yang aku ajukan."

"Aku nggak tahu bakal diterima atau malah dianggap terlalu idealis."

Kali ini balasan Kaleo tidak langsung datang.

Morana membayangkan laki-laki itu mungkin sedang berjalan keluar dari ruang rapat, atau baru selesai menghadiri briefing di Kedutaan Besar Indonesia di Beirut.

Beberapa saat kemudian, layar ponselnya kembali menyala.

"Aku boleh jujur?"

Morana tersenyum kecil.

"Sejak kapan kamu pernah nggak jujur?"

"Kalau sama kamu?"

"Nggak pernah bisa."

Senyum Morana semakin lebar.

"Yaudah. Jujur aja."

Kaleo membalas.

"Aku nggak terlalu peduli mereka nerima atau nolak."

Morana mengernyit.

"Loh?"

"Kok gitu?"

"Harusnya kamu orang pertama yang dukung aku dong."

"Aku memang dukung."

"Justru karena itu."

Morana membaca ulang kalimat itu.

Masih belum mengerti.

"Maksudnya?"

Beberapa detik berlalu sebelum tiga titik kecil kembali muncul di layar.

"Yang aku perjuangkan bukan jabatanmu, Sayang."

"Yang aku perjuangkan..."

"..."

"perempuan yang dulu jatuh cinta sama pekerjaannya."

Napas Morana tertahan.

Ia tidak membalas.

Kaleo melanjutkan.

"Dulu waktu pertama kali aku kenal kamu..."

"Kamu selalu marah kalau ada sistem yang nggak adil."

"Selalu kesel kalau perempuan dianggap harus memilih."

"Selalu bilang kalau dunia kerja seharusnya bisa lebih manusiawi."

"Hari ini..."

"aku lihat perempuan itu berdiri di depan direksi dan berani mengatakan hal yang sama."

Lihat selengkapnya