“A-NAK SE-TAN!!!”
Itulah satu-satunya umpatan yang terpikirkan saat melihat Januar Sanjaya memasuki halaman rumah gue. Pria yang baru genap berusia dua puluh lima tahun itu datang memakai padu padan kemeja batik lengan panjang warna hijau lumut dengan celana kain hitam. Kopiah yang tersemat di kepalanya sedikit miring. Besar kemungkinan karena dipakai dadakan.
Masih terekam kuat di ingatan kalau beberapa bulan lalu Janu ngomong bakal berulah di pernikahan gue sama Rody. Waktu itu nada bicaranya kasual banget.
“Inget kata-kata gue ya, Nya. Gue bakal rusuh di nikahan lo sama Rody. Enak aja elo mau nikah duluan sementara gue masih jomblo gini,” seloroh Janu sambil memotong bola bakso di mangkuknya menjadi empat bagian. Lalu, potongan itu dimasukin ke mulutnya satu persatu pakai garpu kayak bocah. Emang boleh ya ngancem anak orang sesantai itu?