Gue tahu kalian pasti penasaran apa yang bakal dilakuin seorang Januar Sanjaya di akad nikah gue. Sabar dulu, ya. Sebelum itu gue mau ajak kalian melanglang jauh ke masa sepuluh tahun lalu saat pertama kali bertemu Janu. Dalam prinsip akuntansi yang gue pelajari, ini disebut dengan historical cost principle, ketika sebuah nilai dicatat berdasar perolehan awal.
Waktu itu masuk tahun ajaran baru kenaikan kelas delapan. Teman sekelas gue berbeda karena sekolah memberlakukan sistem kelas berdasar peringkat. Karena saat kenaikan nama gue diumumkan sebagai murid peringkat satu berdasar ranking paralel, gue ditempatkan bersama tiga puluh murid lain yang memiliki nilai tertinggi. Murid yang memiliki selisih angka tipis dua digit dengan gue adalah Janu.
Asal tahu aja, selama jeda libur yang diberikan oleh pihak sekolah, jiwa kompetitif gue sukses dibuat meronta-ronta. Gue penasaran setengah mati manusia sejenis apa Janu yang nilai totalnya beda 10 poin. Begitu akhirnya bertemu muka, ternyata dia nggak seperti bayangan gue yang tampil culun dan kaku kayak stereotip cowok pintar di film. Janu ternyata sangat easy going dan terlihat semau gue. Seragamnya lecek, rambutnya kayak nggak disisir dan bagian paling ganggu itu suaranya toa banget kalau lagi ngomong. Bikin gue suka refleks berdecak ketika dia mulai bacot.
“Wah, ternyata elo Sanya Febria yang dapat peringkat satu paralel?” Kayak gini contohnya. Saking toanya dia ngomong, semua mata penghuni kelas langsung terhunjam ke gue.
Seakan belum cukup, gue dibuat syok dikit ketika Janu tiba-tiba membanting tasnya di meja, lalu duduk di sebelah gue. “Gue duduk di sebelah elo boleh ya!” Ada beberapa jenak gue mencoba menarik lalu menghembuskan napas lewat hidung dengan hitungan presisi buat menjaga kestabilan diri.
“Kenalin, gue Janu. Mulai sekarang kita bersaing sehat, ya!” katanya sambil mengulurkan tangan. Apa-apaan sih dia? Hari masih pagi, udara Jakarta masih terasa segar, tapi baru juga ketemu dia udah memproklamirkan diri bahwa kita akan terlibat sebuah persaingan. Siapa juga yang mau bersaing sama elo, coba?
“Oke.” Mau nggak mau gue membalas uluran tangannya.
“Oke doang nih? Gue tadi ngenalin diri lho, Nya,” ledeknya.
Ya ampun ini anak kenapa sih?!
“Iya, gue Sanya, salam kenal,” balas gue, murni demi memenangkan egonya.
Gue kembali menarik lalu menghembuskan napas.
“Lagi praktikin teknik pernapasan apa sih?” tanyanya.
Hah! Gue bingung setengah mati gimana jawabnya. Dari syok dikit, sekarang berubah jadi syok berat ketika tahu dia sesadar itu sama cara gue mengatur pernapasan.
“Woi, Janu, di sini juga elo rupanya. Kita sekelas lagi!” Saved by the bell! Gue nggak perlu menjawab pertanyaan aneh itu karena Janu langsung beralih fokus sama temannya.
Gue pikir Janu bakal berhenti membahas soal napas-napas tadi. Tapi ternyata nggak. Karena tepat setelah temannya yang bernama Iman itu bergerak duduk di deret kursi belakang, dia langsung melanjutkan pertanyaannya. Janu terlihat udah biasa menjadi observer karena bisa mengaitkan ke hal yang paling spesifik. “Lo ada asma ya?”
Pertanyaan itu membuat gue menatapnya nggak suka. Waktu itu gue langsung menunjukkan adanya batas transparan supaya dia nggak mengurusi masalah orang lain. Apalagi dalam cara bernapas.
“Karena gue ngelihat elo lagi ngelakuin teknik Buteyko. Setahu gue itu cara ngontrol napas buat yang punya asma,” lanjutnya sambil memraktikkan teknik tersebut yang membuat cuping dan lubang hidungnya bergerak.
“Janu, semua orang di kelas ini bernapas. Jangan digede-gedein, oke?” respons gue pada akhirnya daripada dia berisik terus. Gue sempet mendapati ekspresi nggak puas Janu pas dengar jawaban yang gue kasih. Tapi gue udah nggak peduli lagi. Mind your own business, dude!