Worst Friend Forever

abbasarap
Chapter #3

Two - The Emergency Entry

Setelah mengenal Janu selama beberapa minggu, gue memosisikan dia sebagai teman sebangku yang artinya obrolan kita terbatas seputar pelajaran dan hal-hal lingkupnya berada di area sekolah. Sejak duduk di sekolah dasar, gue emang memberi batasan pada pertemanan. Makanya banyak yang bilang kalo gue anaknya kurang asyik karena nggak mau diajak main ke rumah teman atau jalan rame-rame ke mal saat weekend.

Seperti yang udah pernah gue singgung sebelumnya, gue tuh males ngobrol. Sekali ngomong ya langsung ke intinya aja, nggak perlu belok kanan apalagi kiri. Buat gue berteman dekat dan mengetahui kehidupan di luar sekolah itu mendistraksi. Perlu banget lho setiap manusia punya pengendalian internal untuk meminimalisir gangguan eksternal.

Tapi ada satu peristiwa yang membuat gue sedikit melunak soal nilai pertemanan ini. Peristiwa yang membuat posisi Janu bergeser dari teman sebangku menjadi lebih daripada itu. Peristiwa yang membuat gue merobohkan benteng pertahanan dan terbuka tentang sesuatu yang seharusnya tetap gue rahasiakan.

Waktu itu pelajaran Biologi masuk pada bab mengenai Struktur dan Jaringan Tumbuhan. Pak Lukman sebagai guru membentuk kelompok praktikum berisi dua orang buat mengamati jaringan epidermis dan stomata pada tanaman hias Adam Hawa yang memiliki nama binomial tradescantia spathacea.

Karena mikroskop milik sekolah jumlahnya terbatas, untuk melakukan pengamatan para siswa harus antre dengan yang lain. Beruntung gue dan Janu duduk di deret bangku depan sehingga dapat kesempatan praktik lebih awal. Pas jalan dari kelas ke laboratorium yang jaraknya nggak begitu jauh, Janu ngide buat ngerjain hasil praktik di kantin begitu giliran kita selesai. Karena sedang datang bulan dan permasalahan hormon bikin nafsu makan meningkat, gue auto menyetujui ajakan tersebut.

“Tenang aja entar gue yang traktir. Bill on me,” kata Janu sambil menaik-naikkan alisnya.

“Makasih. Semoga elo nggak nagih balas budi,” balas gue. Waktu itu gue ngerasa jawaban yang gue kasih hanya bentuk dari ketegasan. Tapi pas sekarang diingat lagi, kayak, arogan banget nggak, sih, gue jadi orang?

“Iya, iya, nggak ada maksud apa-apa kok.” Untung Janu responsnya santai.

Sesampainya di laboratorium, Pak Lukman langsung membagikan mikroskop cahaya. Begitu dibagikan situasi sempat sedikit huru-hara. Sambil membawa mikroskop penuh kehati-hatian, antar kelompok berebut nyari titik terbaik ngedapatin pantulan sinar matahari. Untungnya kaki gue mampu bergerak gesit menemukan sudut yang mendapat pantulan sinar matahari paling banyak sehingga bisa segera memulai praktik.

Namun hal di luar prediksi tiba-tiba terjadi. Efek datang bulan membuat perut mendadak nyeri. Gue yang baru tahap ngebuka bungkus silet dan siap melakukan sayatan langsung kehilangan fokus sehingga ujung tajam silet tersebut malah menggores jari gue sampai mengeluarkan darah. Sigap didera hal di luar kontrol, gue berderap menuju wastafel untuk mencuci jari sebelum membebatnya dengan gulungan tisu sebagai bentuk pertolongan pertama. Namun saat membuka keran dan air nggak mengucur, sementara darah mulai menetes ke lantai dan rok, gue diserang kepanikan. Saking paniknya gue jadi lupa bagaimana cara mengatur napas dengan benar.

Tanpa bicara apa-apa ke Janu yang sedang sibuk fokusin lensa mikroskop untuk melihat stomata, gue berlari ke luar laboratorium menuju area taman yang letaknya bersebelahan. Kebetulan gue pernah melihat petugas sekolah menyiram tanaman menggunakan selang yang terhubung ke garden faucet. Namun sebelum sampai ke sana, langkah gue jadi sempoyongan disebabkan dada mendadak terasa sesak.

Jangan sekarang, jangan sekarang, jangan sekarang…, batin gue sambil bersandar di tembok untuk mengatur pernapasan. Gue langsung menutup mulut rapat, menarik udara pendek-pendek menggunakan lubang hidung, lalu mengembuskannya. Menarik udara lagi, lalu mengembuskannya. Tapi bukannya mereda berkat teknik Buteyko yang udah dipelajari sampai hapal di luar kepala, gue malah merasakan dada seperti ditekan.

“Kenapa?” Janu tiba-tiba aja muncul di samping gue dengan raut muka bingung. Ketimbang menjawab, gue malah menjauhinya. Sikap tersebut membuat cowok itu mengikuti gue. “Nya, elo kenapa? Jari berdarah, tuh!”

“Jan-gan de-dekat-dekat,” kata gue terbata-bata.

“Nya, jangan gila. Sini biar gue tolongin!” Janu bergerak maju ke arah gue.

Gue yang panik, bingung dan takut bercampur jadi satu perlahan kehilangan kendali atas tubuh gue. Kaki seketika berubah seperti jeli yang lembek sehingga melenyapkan daya topang. Beruntung jarak Janu yang begitu dekat membuatnya sigap menangkap badan gue supaya nggak jatuh ke rerumputan.

“Sanya, elo kenapa, woy?!” Suara Janu terdengar kencang begitu berhasil menegakkan badan gue.

Lihat selengkapnya