Setiap bangun pagi, aku berusaha menepis pikiran tentang semua hal yang mengganggu konsentrasiku. Tentang produktifitas ladang luas yang kini terbengkalai usai panen yang gagal. Memikirkan itu semua aku ingin tidur lagi. Semangat yang kubangun dari malam sebelum tidur, runtuh melihat ladang lunglai tidak tertanami. Tidak mudah mengelola ladang luas ini. Selalu saja menggelitik, mengusik suasana yang kuciptakan untuk dapat menikmati proses pencapaian supaya panen sukses. Namun diperlukan rentang waktu panjang dan liku tidak berkesudahan. Terutama yang terjadi di keluarga kita.
Sepertinya kita ditakdirkan mengikuti alur kehidupan. Bukan kita yang menentukan kehidupan. Menentangnya adalah sia-sia. Seperkasa apapun seseorang meraih mimpinya dia akan jatuh keharibaan takdir sebagai manusia yang kalah. Hanya Tuhan yang menang. Penyadaran itulah yang diminta. Hanya proses pencapaian itu yang membuat bahagia. Memacu adrenalin. Ketika mimpi tercapai semuanya biasa saja. Selebihnya hanya penantian.
Sebagaimana produksi kapas dari ladang peninggalan kakek ini yang menjadi andalan pabrik pemintalan benang yang tidak jauh letaknya dari tempat tinggal kami. Panen yang gagal ini menambah lebar nganga jurang rumah tangga kami. Gagal bukan berarti produksi kapas tidak dapat diproduksi lagi. Target pencapaian laba jauh dari perkiraan. Bila dikalkulasi dengan biaya produksi. Total jendral hanya balik modal. Penyebabnya perubahan cuaca. Bulan-bulan seharusnya musim hujan tiba, berbalik menjadi kemarau. Begitupun sebaliknya.
Bahan baku kapas tetap bisa memenuhi permintaan pabrik pemintalan benang itu. Bahwa panen gagal mereka tidak mau tahu.
Dalam suasana seperti ini seorang suami pemilik ladang luas itu memerlukan penyejuk untuk meredakan gejolak emosi yang setiap saat meledak. Tapi kau lebih memilih dekat dengan anak-anak. Membiarkanku sendiri memikirkan segalanya. Di mata orang tuamu dan dirimu aku sejenis binatang najis yang harus dijauhi. Semua kalian timpakan kepadaku. Sebagaimana kejadian yang pernah berulang panen yang gagal kalian putar kembali membenciku. Apakah terpikir di benak kalian kegagalan panen ini musim penyebabnya, atau hama? Aku yakin kalian tidak punya pikiran itu. Yang kalian inginkan hanya laba. Keuntungan dari benih kapas yang kusebar. Padahal orang tuamu tidak turut andil apapun dalam bisnis kapas ini. Ladang ini bukan milik kalian lagi, tapi milikku. Meskipun ladang luas tak bertepi ini sebelumnya milik kalian. Yang kupikirkan sekarang bagaimana membuka ladang kembali yang ditumbuhi rumput-rumput dan ilalang yang menutupi ladang. Ini tidak mudah dan tidak murah. Diperlukan puluhan pasang sapi untuk penyingkalan tanah. Membuka ladang kembali untuk berproduksi.
Basudewo, adikmu jurusan pertanian liburan kuliah pulang kampung sertamerta mencibir apa yang sedang kukerjakan. Menyepelekkan penanganan apa yang sebenarnya telah dipraktekkan kakek sampai dia berhasil memiliki tanah yang ia rintis sehektar demi sehektar dengan tata cara petani desa yang berpegang pada pengalaman. Berceramah dengan teori yang didapat dari bangku kuliah tidak luput dengan mengusung istilah-istilah asing. Kebanggaan yang diagungkan saat seorang mahasiswa menduduki awal bangku kuliahnya.
Sulit sekali mencerna teori-teori itu pada kondisi alam di musim seperti ini. Secara teori aku memang membenarkan tapi dalam prakteknya sulit dilaksanakan. Nyata sekali dia bukan tipikal seorang petani terlihat dari tingkahnya tidak betah kesiur hawa yang tak seberapa panas dibawa angin dari punggung bukit. Ia pun buru-buru pergi meninggalkan ladang dan menghindar dari pekerjaan yang semestinya dicintai.