Begitulah cerita ibu sering terpancing pertanyaanku yang terus nyerocos menjelang tidur sambil terkantuk-kantuk beliau menceritakan ihwal keluargamu. Sampai tingkat Sekolah Guru Atas pun aku masih sering tertidur di samping ibu.
Mengira-ngira dengan perkiraan sendiri, mengapa ibuku kasihan kepada kalian? Tidak lain karena ibu merasakan bagaimana menjadi orang yang pernah jaya, kaya raya, dihormati, kemudian bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Bagi ibu itu tragedi memilukan perjalanan manusia. Bukan ibu tidak menaruh dendam sebagaimana kakek perlihatkan sikapnya yang sakleg menghadapi ayah ibumu dan keluargamu yang lain, terhadap peristiwa masalalu. Isu yang dihembuskan ayahmu itu masih membekas. Ibuku melihatnya dibarengi nalar yang menurutku jernih. Masalalu telah berlalu masakini adalah kenyataan sekarang katanya.
Memang tidak terjadi apa-apa terhadap keberlangsungan hidup kakek hingga tahun 1975 terhadap isu yang disebarkan ayahmu. Namun aku sebagai orang yang turut mengalami rentetan peristiwa perlakuan manusia terhadap apa yang disebutkan sebagai pengikut partai terlarang dan menghabisi mereka dengan cara biadab, aku tidak menyukai sikap ibu. Kalau kuingat-ingat sakit yang diderita kakek akibat tekanan lingkungan sosial yang menjauhinya. Kakek jadi terkucil dalam kehidupan bermasyarakat dan tekanan psikologis itu ia alami hingga meninggalnya.
Ibu tidak meyadari berbekal kasih kepada orang yang mempunyai sifat iri-dengki seperti ayahmu lalu memberi peluang kepada orang yang pernah hampir menghabisi kita semua, untuk lebih banyak memberi kelonggaran menguasai kekayaan kita? Oh, sekali-kali tidak, ibu!
Aku tekankan dengan emosiku kepada ibu demi membela kakek yang dalam bayanganku isu yang dihembuskan ayahmu sangat berbisa.
Orang pada masa itu mudah beringas, gampang menerima kabar burung tanpa menimbang-nimbang lebih dulu kebenarannya. Rentan akan hasutan. Menganggap apa yang dilakukannya adalah kebenaran itu.
Suasana waktu itu orang sering salah sasaran. Peristiwa penyembelihan Pak Simun lantaran seseorang melihatnya berada di seputar acara yang diadakan partai tersebut. Padahal dia waktu itu hanya numpang lewat mengunjungi keluarga dengan sepeda pancal yang jerujinya beberapa sudah bertanggalan. Dengan berkopiah dan ringkih tubuhnya, sepedanya menyisakan suara kreyat-kreyot karena roda yang tidak lurus perputarannya, berikut pedalnya yang somplak – lewat di samping lapangan perhelatan itu diadakan. Eeh, esok malamnya dia sudah digorok di sumur mati dekat ladang kakek. Gara-gara isu yang disebarkan kalau “dia ikut hadir” di acara tersebut. Biadab, sangat biadab. Kala itu negeri benar-benar dihuni para jagal.
“Ibu, seandainya …” Kuhentikan sejenak kalimat meneliti respon ibu. Lalu menekankan sekali lagi kepada ibu yang tanpa berkedip menyaksikan cerita monolog yang sedang aku perankan.
Bila aku ingat hal itu aku geli sendiri. Melakonkan sesuatu peran disaksikan seorang penonton disemangati penerangan lampu tempel yang sering tidak kami sadari menghitamkan lubang hidung kami. Asapnya yang berjelaga memenuhi kamar.
Aku tidak malu atau menyesal walaupun hanya beliau orang yang mau mendengar semua yang ada dalam pikiranku. Ibu adalah pendengar dan penontonku yang setia. Kuhampiri mesin jahit di sudut kamar tidur ibu dan kutenggak gelas teh susu yang dari tadi belum tersentuh. Bersamaan turunnya cairan menyegarkan dikerongkongan kembali ke hadapan beliau menyambung kalimat yang belum kututup tadi.