Keinginan menyelesaikan lukisan tiba-tiba hadir. Seperti biasa melangkahkan kaki menengok ibu di kamarnya. Mengangkat selimutnya yang belum ia kenakan sepenuhnya menutup tubuhnya.
Jangkrik dengan suaranya sedang bersimponi, berkolaborasi dengan lolongan anjing sesekali kudengar di seberang ladang mendamba menengadah selebar-lebarnya mengharap hujan. Bersanding bersama lesung yang ditalu – dialun gelombang angin malam. Di malam-malam tertentu suara lesung ditalu itu kerap muncul. Entah dari sudut kampung mana dan siapa yang yang melakukan aku tak perduli kendati membuat bulu kudukku meremang. Suatu perpaduan musik alam yang semrawut menghadirkan keindahan yang ganjil.
Menapaki tangga kamar penghubung lantai bawah dan kamarku. Agar udara sejuk masuk ke kamar yang merangkap studio lukisku dan membuka jendela.
Di angkasa purnama gilang gemilang – bundar begitu sempurna. Sinarnya cemerlang melembut menerangi permukaan ladang. Gugusan bintang-bintang pamer kekudusannya. Bau jerami dibakar penduduk dibawa angin lembah selatan menerpa lembut mengiringi waktu semakin kelam.
Membiarkan lukisan menunggu untuk disentuh. Tertunda keagungan malam. Enggan rasanya membiarkan malam demikian kudus untuk ditinggalkan.
Pak Seno di halaman menggelar tikar dengan istri tercinta sambil bertelekan lengan memandang tak lepas-lepas ladang yang di kejauhan sana bergerumbul pepohonan, terpencar membiru makin terlihat samar-samar. Kusesalkan tidak bersamamu malam ini, Indri? Aku melenguh dan bersandar pada kusen jendela. Menyandarkan antara beban dan sensasi kasih asmara kita. Antara ibu yang sendiri memikirkanku dan aku memikirkannya. Daripada semua itu membebaniku kugelosorkan saja tubuh di ranjang penat.
Tidak sengaja membalikkan badan dan terlentang mata tertatap bulan. Ranjang yang berdampingan dengan jendela mata tertumbur langit. Saling berpandangan dengannya melalui jendela yang terbuka. Dia yang tidak pernah berkedip memandang bumi. Benda milyaran tahun tidak bosan-bosannya menyaksikan perubahan semesta dan tingkah polah manusia.
Selamat datang bulan. Kau mengambang begitu bahagia. Begitu damai.
Tiba-tiba dari arah selatan muncul di bawah kilauan cahayanya segerombol titik-titik hitam melintas terbang beriringan ke utara. Sebaris noktah-noktah cita hitam jauh di atas sana dilatarbelakangi bulatan dengan sinarnya menembus udara. Apakah aku sedang menyaksikan migrasi burung garuda? Perpindahan dari satu tempat ke tempat lain diwaktu-waktu tertentu disaat purnama. Seperti yang diceritakan kakek? Betapa dahsyatnya semesta alam tanpa meminta bantuan manusia kehidupan mereka terus berlangsung lestari. Makhluk bernama manusia ini yang justru tidak memberi kontribusi dan bahkan mengganggunya. Menggedor-gedor kedamaiannya. Bumi tanpa manusia terjaga keharmonisasinya. Karena kurasakan ditenggorokan terjadi senggokan, nada mendengkur yang sering muncul agar aku mengubah posisi tidur agar tidak ngorok lagi, berusaha memiringkan posisi tidurku.