Kau mulai menanamkan tentang hak-hak mereka soal warisan. Sesuatu hal yang sama sekali mereka tidak fahami. Mendudukkan mereka di kursi dan kau berbicara di depannya menggambarkan lokasi berikut luas ladang kapas di papan tempat anak-anak belajar menulis dan berhitung mengerjakan pekerjaan rumahnya. Yang lebih menggelikan kau berlagak seorang guru ilmu bumi. Hal itu aku pergoki dan mengintipnya dari celah pintu. Gambaran coretan dari kapur tulis mirip peta sebuah pulau sering membuat mereka mengerungkankan kening. Tapi kau terus mengoceh dan berujung bahwa tanah seluas itu mereka akan mendapat bagiannya berikikut rumah kembar peninggalan Belanda saat menduduki negeri yang mereka namai Hindia Belanda ini.
“Aduuuhh, betapa!” Aku mengaduh menyayangkan. Betapa piciknya engkau dalam mendidik mereka. Kau arahkan anak-anak bukan pada apa yang mesti dijalani di masa pertumbuhan mereka dengan bekal memupuk inner beauty mereka secara benar. Kalau kau ajari mereka ilmu berdagang aku masih mahfum, sangat kuhormati. Tapi mengasah kepala mereka membidik ladang yang kita punya kepada anak yang masih duduk di Sekolah Rakyat, agar membagi-baginya di saat aku masih segar bugar, sungguh perbuatan tidak waras.
Apa yang membuatmu takut sebenarnya. Apa kalian pikir aku tidak memperhatikan kesejahteraan anak-anak?
Samudro diusia lima tahun sudah bisa mengendarai sepeda kecil beroda dua. Disusul Landung dengan trampil keduanya menguasai kendali sepeda pancal itu. Pergi-pulang sekolah dibuntuti teman-temannya beramai-ramai dengan berlari. Mestinya kau sadar bahwa aku dengan membelikan sepeda itu agar mereka dapat belajar mengatur keseimbangan. Bukankah salah satu unsur yang diperlukan dalam hidup ini adalah keseimbangan? Kuakui perkembangan tubuh mereka normal dan sangat baik bila dibandingkan teman-teman sebayanya. Itu semua karena perhatianmu yang besar terhadap keberlangsungan pertumbuhannya. Namun apa lacur hendak dikata, kau mendidik anak-anak dengan cara yang sangat ketat. Seketat krah baju kedua anak kita meskipun udara panas kau suruh agar tetap mengancing krah baju itu rapat-rapat. Alasanmu agar tidak masuk angin.
Aku tidak habis mengerti segala tindakanmu. Yang kemasukan angin itu hanya pikiranmu. Mana mungkin anak tidak mau diam dan selalu berkeringat itu masuk angin. Angin dari luar mental tertepis geliat tubuhnya yang terus bergerak dan berkembang. Kecuali perutnya kosong!
Segala bentuk alasan yang dicari-cari hanya untuk agar terkesan tidak mau kalah denganku dalam mendidik anak-anak. Mengapa kita harus bersaing dalam segala hal hanya untuk memperlihatkan siapa yang lebih hebat. Apa karena usia kita sepantaran? Ngaku saja kau tidak tahu soal mode. Tentu saja mereka berteriak-teriak memprotes ketika krah baju anak kita itu terlepas karena mereka yang tidak mau diam dan kau buru-buru mendekati kemudian mengancingnya lagi. “Mami panas mami, tidak usah dikanciiing! Lengkingnya. Tapi Kau tidak peduli.