Sampailah pada benih cita-cita yang kau tanamkan pada diri anak-anak ketika mereka beranjak dewasa. Samudro memberanikan diri menghadapku dengan keberanian yang ia paksakan. Suara yang keluar dari kerongkongannya ia jaga semantap dan sedalam mungkin agar aku runtuh mengabulkan permintaannya yang ia katakan sendiri sebagai haknya lima puluh hektar ladang.
Menghadapi anak yang melebihi besar postur bapaknya dan berhadap-hadapan di meja makan dengan masalah sensitif seperti itu, aku berusaha bijak supaya tidak terjadi kesalahfahaman – aku berusaha menghadapinya setenang dan searif mungkin.
Menyampaikan dengan kata-kata yang kuatur intonasi berikut nada lembut penuh kesabaran bahwa tak perlu terburu-buru untuk memiliki hak yang dimaksud lima puluh hektar yang dalam diri anak muda ini tak seberkaspun ingin memilikinya. Apalagi menghaknya. Aku bisa membaca dalam penyampainnya dari cara dia berkata-kata. Antara keinginan dalam benaknya yang disampaikan melalui bibirnya yang membiru lantaran ia yang suka menggigit-gigit bibir sebelum menyampaikan maksudnya dengan berusaha menahan gemetar tubuhnya dan akumulasi dari pengucapan yang belepotan pada anak kita yang sedang kasmaran ini. Jelas dorongan ingin memiliki sebagian ladang itu bukan kemauannya. Mudah-mudahan dalam tatap muka anak – bapak ini kau mengintipnya dari salah satu pintu atau dari kesibukanmu di dapur seusai makan malam yang baru saja bubar dengan kau memasang telingamu lebar-lebar. Dan ku yakin kau pasti memasang sensor telingamu dengan secermat mungkin. Aku merasakan itu dari kau yang tidak berkata-kata dengan anak ketiga kita, Wuri di dapur. Namun ruang makan yang cukup luas, berbagai hiasan interior dan beberapa pintu yang terbuka menghubungkan ruang lain, bisa jadi kau tidak bisa menangkap hasil dari pembicaraan kami. Terserap oleh rongga cepuk-cepuk yang terbuka satu set alat nginang. Beberapa bokor kuningan, bisa juga tertelan corong gramaphon yang mendongak tak ubahnya belalai gajah itu.
Yang kusayangkan kau kurang bisa mengarahkan akting anakmu ini berperan sebagaimana apa yang mesti diperankan. Suara yang dijaga agar tetap mantap dan tegar dengan gestur gerak tubuh bersumber dari kata-kata yang meluncur dari mulutnya ternyata runtuh berlelehan oleh tatapanku.
Kuhentikan saja bicaranya dengan tiba-tiba dan nyata sekali dia terperanjat. Lantas tanpa sadar menyandarkan punggungnya di kursi hingga menggelosor tak terasa hanya kepalanya yang nongol di permukaan meja.
“Samudro!” Bentakku lagi.