WUTHERING HEIGHTS (Rumah Badaiku)

Wahyu Puspandrio
Chapter #6

BAB VI

Arak-arakan awan putih dari timur membagi dua bagian puncak dan lereng pegunungan Tengger. Puncaknya kemilau menerima sentuhan sinar matahari pagi. Sentuhan cahaya dalam posisi miring itu menyiratkan gradasi warna lereng dan lembah makin menakjubkan. Wajah dari persembahan alam dalam kemarau tak terperikan. Mengangkat wajah asli pegunungan dalam warna dan kmposisi yang lain. Terlihat mempesona walaupun gersang.

Julangan-julangan batu, ngarai dan hutan yang meranggas, asap mengepul dari beberapa pembuat arang yang tiada pernah berhenti siang dan malam. Wajah bopeng pegunungan musim kemarau, sering kita berdua dibuat terlena. Sementara ladang merana yang beberapa jam lagi didera panas bulan agustus yang ganas. Tak sampai hati aku melihatnya.

Walaupun masa kedekatan yang kita alami tidak pernah kita ulangi. Mungkin tidak terulang lagi. Kalau melihat kau semakin sibuk memperlihatkan pengabdian kesempurnaan seorang ibu di depan anak-anak.

Kau mempunyai keinginan tersembunyi yang harus kupantau dalam suasana apapun. Walaupun dalam kesulitan melilitku sekarang. Tahun 1976, enam bulan setelah kakek meninggal, disertai panen yang gagal, aku lelaki yang dikucilkan dari keluargamu. Lelaki yang sendiri menggenggam setumpuk surat tanah berupa warisan ladang membentang yang memisahkan beberapa desa yang sedang berjalan di tengah padang pasir siang dan malam mengundang bahaya. Dikitari ular, kadal dan binatang berbisa yang tidak diketahui dimana mereka bersembunyi. Sendiri membawa kekayaan demikian besar membahayakan diri sendiri. Bisa mendatangkan pikiran jahat orang lain untuk berbuat kriminal dan menghantam urat syaraf, memungkinkan manusia berubah menjadi miring daya pikirkannya.

Kalian tidak tahu dengan siapa kalian berhadapan. Manusia dengan ketajaman panca inderanya dapat merasakan gerak-gerikmu mengumpulkan anak-anak untuk mendengarkan petuahmu memburu warisan di tanganku.

Tanah leluhur ini akan kujaga dengan kemampuanku. Akan kupagari tanah menghampar itu dengan hati dan menjaganya dengan kewaspadaan dari jarahan tangan berikut tipu muslihat yang pernah hampir-hampir berpindah tangan ke tangan keluargamu.

Yang membuat pusing disebkan rumah kita dan orang tuamu yang berdekatan. Segala  yang kukerjakan orang tuamu terus memantau dengan sorot mata dan bathinnya. Rumah berposisi berdampingan berjarak setengah kilo meter, sama-sama mengghadap ke ladang adalah malapetaka itu. Perasaan terus diawasi kedua orang tuamu setiap aku turun ke ladang sungguh mengganggu. Tak jarang mendongakkan kepala ke rumah bergaya musim panas peninggalan kejayaan masa pendudukan kolonial itu, ketika aku sedang jongkok membersihkan rumput pengganggu pada tanaman yang mulai bersemi dan menolehkan wajah ke arah rumahmu sambil mereka-reka di sebelah jendela mana dan pintu yang mana ayah ibumu berdua sedang membicarakanku. Rasa tidak bisa menghindar dari pantauan perasaan ini risih dibuatnya. Rumahmu adalah magnet penebar lingkaran listrik, benda yang ada dalam lingkaran tidak bisa keluar dan terjaring – yang setiap saat menjerat seolah aku ini serangga yang tersedot dan terkapar tak berdaya di dalamnya.

Sepulang dari pemakaman kakek para pelayat banyak yang masih singgah ke rumah. Mendampingiku agar tidak merasa sepi sendiri sepeninggalnya. Ayahmu tidak hadir dalam pemakaman itu berbarengan dengan urusan lain di kota katanya. Sore itu mendatangiku, menjabat tanganku dengan erat. Kusambut uluran tangannya dengan hangat pula. Sebagaimana lawan yang pernah bertarung mengadu kekuatan, didorong dendam kesumat turun temurun, turut sedih dan berbelasungkawa sesuatu hal yang sedang menimpa musuhnya. Aku biarkan dia memelukku erat. Rasa sedih dan sangat kehilangan seorang pelindung dalam perjuangan mempertahankan warisan seorang diri terkadang muncul ketakutan, tanah seluas itu benar-benar jatuh ke tangan kalian.

Sedang kakek meninggalkan sembilan gentong besar berisi uang berbagai macam nilai nominalnya setiap lembarnya. Orang-orang kita jaman dulu sebelum ajal menjemput mereka, mengetahui kapan mereka harus berangkat ke alam seberang mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat. Mengiklaskan semuanya takdir baik maupun buruk ketika menjalani hidupnya. Tinggal akhir dari semuanya menghadapi hari H. Hari dimana dunia ini akan ditinggalkannya. Dalam penantian yang tidak seberapa lama itu, intensitas penyatuan dengan Al Khalig dilakukan dengan sangat khusyuk dan pasrah. Sebagaimana layaknya lahir dan berjalan lalu kembali ke tempat asal adalah ketentuan yang tidak bisa diganggu gugat dalam sejarah lahirnya alam semesta yang pada akhirnya seluruh alam akan keos pada saatnya kelak dan konon akan lenyap.

Sembilan gentong itu mengingatkan aku saat masih kanak-kanak. Nenek sering membiarkan aku sembunyi di dalamnya ketika bermain petak umpet bersama teman-teman. Perlindungan nenek dalam gentong wujud dari kasih sayangnya kepadaku agar terhindar dari pencarian teman-teman sepermainan. Padahal gentong-gentong yang mirim perut gendut Buto Galak dalam cerita pewayangan itu adalah tempat penyimpanan beras dulunya.

Itulah sebanya kita dikumpulkan. Sewaktu aku memberitahumu bersama kesedihan yang tidak dapat aku sembunyikan bahwa kakek sudah gawat keadaanya supaya anak-anak kita dikumpulkan untuk menjenguknya di kamar. Kau serta merta memelukku dengan rasa iba yang belum kuketahui ketulusannya. Beberapa kali melepas dan memelukku, merapikan rambutku yang jatuh di kening. – rambut yang selalu kusisir miring – kemudian kau memelukku lagi.

Sempat kuteteskan air mata kepedulian yang kau peragakan. Pelukan hangat yang setelah sekian lama tidak kurasakan, kecuali hanya pelepas hasrat kebutuhan badani yang tidak bisa kita hindari. Setelah itu kita berbalik masing-masing memunggungi membuat jarak ke tepi ranjang. Melupakan segala sesuatu yang baru saja kita lakukan.

Dengan apa aku harus menguliti satu persatu lapisan karat makin menebal yang melingkupi hati, pikiran dan perasaanmu agar terbuka dan terlihat dasarnya sebagaimana manusia itu “baik.”

Sungguh aneh bila dirasakan dua makhluk berlainan jenis saling membutuhkan berseteru lestari hidup dalam satu selimut. Kekuatan apa yang memicu sehingga anak-anak kita sampai dewasa terbawa turut merawat dengan seksama perseteruan ini. Bergerak dengan grafik yang makin meninggi kurvanya. Mengiringi waktu yang bergulir dengan anginnya yang semilir. Berlayar bersama perahu yang tidak pernah pecah, hanya retak-retak. Betapa makin bikin penat saja.

Kau melepaskan pelukanmu dan rasa ibamu membiarkan aku berdiri di sisi perapian, persis seorang kekasih kepergok pacarnya lalu membiarkan aku begitu saja. Kemudian kau berteriak memanggil anak-anak agar segera ke kamar eyang kakungnya dengan tidak dapat menyembunyikan rasa girangmu.

“Anak-anak, cepat ke kamar eyang kakung. Beliau sudah menunggu kita. Cepat sedikit anak-anak.” Kau tidak menyadari berjingkrak senang. Pengumuman yang kau teriakkan terdengar begitu riang. Seriang guru TK menyuruh murid-murid segera berkemas – bis yang membawa mereka sudah tiba untuk berangkat piknik.

Kau panggil mereka “anak-anak” padahal mereka sudah dewasa.

Perempuan memang seutuhnya pengabdi kasih sayang kepada anak-anak yang mereka lahirkan. Tapi terkadang sangat kelewatan bahkan bisa menjerumuskan. Untung saja kau tidak memanggilnya, “bayi-bayiku, cepat ke kamar eyang kakung, beliau sudah .. ehm ehm ..

Yaahh begitulah. Semua terus berlangsung tidak beringsut dan makin menginti pada persoalan harta warisan dalam pikiranmu. Aku tahu akhir dari panggilanmu kepada mereka yang … ehm ehm .. sebetulnya kau akan tambahi dengan kata ..sekarat. Tapi entah kenapa engkau urungkan.

Samudro, Landung dan adiknya, Wuri, termasuk engkau Indri, kalau kau masih ingat, duduk agak menjauh dari ranjang kakek dengan sorot mata menunggu seperti srigala menunggu sisa singa memakan buruannya. Tak ingin sepotong kalimat yang muncul dari bibir kering, seonggok tubuh yang berbaring mirip mumi dengan tonjolan tulang belulangnya yang beberapa minggu sebelumnya hanya mampu mengeluarkan desisan bila ingin mengemukakan sesuatu yang kau pantau dengan seksama kalimat yang akan meluncur dari jasad yang nyawanya sudah di kerongkongan. Dari manusia renta yang menyimpan harta warisan yang sebentar lagi akan dibagi-bagikan. Tidak “dibagi-bagikan” Indri, cukup satu kata saja “dibagikan” hanya untukku saja. Kau mengerti? Aku bergumam sendiri.

Hanya gerak mata kakek yang bisa kita tangkap apa yang ia maksud dan inginkan. Kita berharap kakek bisa mengeluarkan suara agar apa yang ia maksudkan dan inginkan itu bisa kita dengar. Tapi suara itu tidak kunjung mampu menggerakkan bibir kering itu. Ketakutan akan tidak mengerti maksud yang diucapkannya kau menyuruhku membangunkan kakek dalam posisi duduk. Ketakutan yang ditimbulkan ketamakan tanpa mempertimbangkan derita manusia sedang menghadapi maut. Mana mungkin aku harus memperlakukannya seperti kehendakmu.

Kakek berusaha keras agar bisa menggerakkan tangan. Gerakan tangan dengan sangat lamban menunjuk-nunjuk satu tempat sambil menggambarkan bentuk sesuatu benda kepadaku yang kita tidak mengerti maksudnya. Kau tidak sabar lantas mendekatinya – menuntunnya dengan kata-kata dekat telinganya. Persis dalan kuiz program televisi tebak cermat yang kedua belah pihak tidak mengerti. Kakek pendengarannya yang sudah tidak berfungsi sedang engkau tidak efektif memberikan simbol tanda-tanda benda dengan kata-kata yang membuatnya semakin tidak sabar, makin tidak dimengertinya.

Landung mengambil alih. Dalam pikirannya ia yakin dapat mencairkan kebekuan harapan bahwa wasiat yang disampaikan eyang kakungnya bisa terpecahkan dari soal tebak menebak gerakan ini. Berkali-kali ia kusaksikan menyeka keringat di dahinya dengan kesal lalu berupaya lagi memberi tanda-tanda apa yang dimaksudkan eyang kakungnya. Dengan gerakan yang miskin improvisasi dan perlambang, tentu makin membuat bingung eyangnya. Engkau yang mengekspresikan gerak seperti konduktor paduan suara dengan gugup telah gagal begitu juga Landung. Menyerah dengan menghempaskan pantatnya di kursi.

Kualihkan pandanganku ke Samudro kalau saja dia punya ide yang lebih cemerlang. Ia hanya mengangkat bahu dan melengos memandang kaki meja sambil menaikan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Menyerah agar aku saja giliran berikutnya. Wuri tiba-tiba berdiri di kaki eyangnya. Tinggi tubuhnya dengan mudah memandang ke bawah seonggok tubuh kakek yang tergolek. Memandanginya sebentar, dan … tapi … baru saja kulihat hendak menggerakkan tangan dan mimiknya menyampaikan sesuatu yang ada dalam benaknya, ia justru cepat-cepat kembali ke kursinya. Tersipu sendiri bercampur kesal – dia gagal putus asa.

Menyaksikan peragaan berikut misi yang gagal di hadapanku, aku berdiri seraya menahan geli dan sedih. Komunikasi dua arah diperagakan dua manusia yang mendadak bisu tanpa tahu metode gerakan bahasa baku kaum tuna-rungu memerlukan kerja keras dan kesabaran. Sebenarnya tidak sampai hati melakukan pemaksaan kepada orang yang sedang sakit parah bahkan menunggu ajal agar mengatakan dimana menyimpan harta bendanya supaya segera diwariskan kepada anak cucu. Dari sudut pandang manapun hal itu tidak etis. Apalagi melakukan pesta setelah kematian orang yang telah berjasa terhadap kehidupan kita. Keterpaksaan ini di luar kehendaku. Bagaimanapun halusnya pancingan melalui gerak, ekspresi dan kata-kata agar kakek dapat menyampaikan wasiat atau kalau memang ada sesuatu harta warisan yang akan di wariskan hal ini adalah perlakuan yang tidak manusiawi. Tapi desakan psikologis dari mata kalian yang memaksa agar melakukan suatu, aku tidak tahan. Terpaksa kulakukan demi mengabulkan keinginan srigala-srigala yang siap menerkam.

Sekarang giliranku.

Sambil tetap menahan geli atas episode ini, aku beraksi layaknya seorang pesulap. Memandangi kakek beberapa saat. Lalu memulai dengan mempertemukan kedua tangan kemudian menggosok-gosokkan keduanya. Tentu saja kalian memperhatikan aku. Gerakan menunjuk-nunjuk mataku yang semua gerakan harus diulang. Kemudian mengarahkan telunjuk ke suatu ruangan di bagian atas, di dapur, mengikuti isyarat sebagaimana isyarat kakek yang tidak kalian mengerti tadi dengan embel-embel aku membentuk bulatan besar menyerupai gentong dimana benda itu pernah kusaksikan di pawon atau dapur – beliau menaruhnya di atas di depan tungku pemasak tepatnya di pogo atau atap ruangan yang diberi rongga untuk menyimpan barang.  Tidak kusangka kakek mengangguk perlahan senang. Namun aku belum yakin betul dengan pertanyaanku sendiri. Apa benar isyarat berupa gerakan yang kubuat tadi? Kuulangi sekali lagi bahwa maksud dari isyarat yang kubuat apakah kakek menyuruh kami melihat satu ruangan di belakang, di dapur, lebih tepatnya lagi di atas tumang? Semacam kompor penanak terbuat dari tanah. Kutanyakan kepadanya, apakah di langit-langit dapur. Kakek mengangguk memaksakan senyum. Ketika kutanyakan lagi apa isi dari gentong itu? Kakek dengan gerakan marah menyuruhku supaya cepat melihat benda itu. Semua mata mengarah antusias menyaksikan dialog yang membutuhkan kecerdasan demi mengulik penuh nafsu peninggalan seseorang yang sedang sekarat. Betapa menyedihkan sekaligus memalukan.

Tidak perlu bertanya-tanya lagi pintanya dengan menggerakkan tangan berkelebat menyuruhku segera melihatnya. Tanpa ancang-ancang hanya digerakkan reflek aku melesat ke arah dapur. Kalian berdesakan mengikuti. Bahkan kudengar gemelodak kursi roboh kalian terjang. Langkah kita menuruni tangga loteng ke ruang bawah menimbulkan suara langkah orang yang sedang dikejar sesuatu yang menakutkan.

Sampai di ruang bawah beberapa kali melewati pintu pemisah ruangan maka sampailah aku di dapur. Berhenti sebentar dengan apa aku mesti naik ke pogo. Sebuah tangga membujur tercantel di dinding dapur segera aku mengangkatnya – kalian berebut ikut membantu. Tangga bambu terlapisi jelaga aku tak perduli. Sibuk tidak mengerti melepas tangga dari centelannya yang kalian ikut-ikutan sibuk justru mengganggu. Ikut-ikutan memegangi tangga tidak tahu apa yang harus kalian lakukan. Kubentak saja semuanya agar menjauh. Takut tangga bambu kugamparkan ke kalian, kalian berhamburan menyingkir. Namun tidak lama mengerubutiku lagi.

Mendirikan tangga dan beberapa kali menaiki anak tangga mata tertatap samar-samar gentong-gentong besar dalam kegelapan ruang pogo. Kalian mendongak menanti apa isi gentong-gentong itu. Tepatnya menunggu seekor kera agar segera menjatuhkan buah kelapa yang akan dipetiknya.

Lihat selengkapnya