Sembilan gentong itu kini berjejer di tengah meja memanjang. Yang beberapa kursinya masih utuh. Yang kini kita duduki menghadap ranjang kakek. Pikiran kita sudah tidak ingat lagi dengan siapa berhadapan. Dalam kepala kita di penuhi isi gentong. Karena aku belum memulai percakapan, kalian tidak berani memulai. Tidak berbeda dari replika satu peristiwa bersejarah yang dibuat menjadi gambaran sebuah diorama. Kami pun menyerupai patung-patung. Kakek seperti patung seolah sebongkah mumi yang dimakan waktu, tidak ubahnya sebuah patung. Aku patung – kalian juga patung-patung.
Yang menggelikan kalian membiarkan tangan dan pakaian yang kalian kenakan juga wajah yang tercorengi jelaga sampai tidak kalian sadari. Aku yakin semua itu karena dorongan dari sifat ingin memiliki hingga kalian kehilangan kontrol. Sekalipun warisan itu akan jatuh ketanganku sampai kalian lupa membersihkannya. Jangan kalian kira bapakmu ini satu species dengan manusia yang tidak punya rasa iba, rasa kemanusiaan. Kepada siapa lagi warisan ini akan jatuh kalau tidak kepada kalian. Yang tidak aku suka demikian dahsyatnya kalian memikirkannya hingga muncul rasa takut yang begitu menyita waktu sehingga lupa kalian harus memikirkan masa belajar sebagai seorang pelajar yang harus fokus kepada ilmu yang tengah kalian pelajari untuk bekal masa depan. Agar punya cakrawala pemikiran yang cerdas melakukan langkah-langkah kongkrit untuk kemslahatan hidup secara universal.
Kegilaan apalagi yang akan tergelar dari pikiran manusia yang diributkan warisan setiap detik setiap saat. Apakah tidak ada kegilaan lain selain iri mengiri, curiga mencurigai, rebut-merebut, intai mengintai, hak menghak? Ingin rasanya menekuni profesi lebih inten. Melukis yang telah aku temukan baik tehnik maupun pencampuran warna berikut genre yang aku pejari belajar secara otodidak terbengkalai begitu saja. Disibukkan kesibukan mengurus harta benda warisan yang sebenarnya tidak perlu membuat kepala pening karena semua telah menjadi hakku sepenuhnya. Tapi malah justru menguras energi sedemikian banyaknya.
Melangkahkan kaki ke arah jendela yang terbuka sepenuhnya menghadap ladang yang merana. Menggigil saking teriknya membuatku tertunduk sedih.
Kalian serentak berdiri menghadap ke arahku bermaksud memanggil tapi aku sudah mendengar terlebih dulu dan seketika berbalik melebarkan langkah mendekati ranjang. Mendekatkan wajah mencoba mengerti apa yang dimaksud dalam isyarat tangannya.
Kalian juga ikut mencermati. Mereka-reka maksud yang terkandung. Hampir bersamaan mulut kalian mengeluarkan tanggapan dalam persepsi yang berlainan menerjemahkan isyarat dan berakhir salah. Kakek merasa terganggu bahkan beberapa kali mengurungkan niatnya untuk menyampaikan sesuatu dengan putus asa.
Suasana tambah gaduh. Kuhentikan saja dengan meletakkan telunjuk ke bibirku sambil membelalakkan mata dan mulut-mulut nyerocos itu terkatup seketika bahkan berjalan mundur dengan tetap menatapku – cemberut. Kamar berubah senyap bahkan tegang. Salah satu unsur kondusif yang diperlukan dalam menyimak pesan terakhir detik-detik menegangkan. Dari seorang pemegang hak penuh atas kekayaan harta benda. Kita pewarisnya sedang berharap-harap cemas kekayaan itu akan jatuh kemana dan ke tangan siapa. Dalam pertimbangan hal-hal tertentu aku masih bisa tenang. Ladang yang telah menjadi milikku sepenuhnya berikut rumah ini dan isinya. Tapi yang membuat kalang kabut dari mana aku bisa membiayai untuk memulai menananm kapas di ladang seluas itu kalau tidak tidak berusaha sepenuhnya untuk mendapatkan uang kontan dalam perut buto galak itu, yang kini bertengger rapi di atas meja di sebelahku di musim paceklik ini.
Kusuruh kakek menyampaikan keinginannya sampai-sampai aku belepotan sendiri bagaimana membuat satu isyarat agar ia mau berbicara bahkan mungkin untuk yang terakhir kalinya barangkali. Kulihat ia susah payah mengangkat kedua tangannya sangat perlahan. Berusaha sebisa mungkin mencermatinya dan menerjemahkannya. Ketika aku menanyakan apakah kakek memerlukan alat tulis dan kertas, terjemahan itu aku sampaikan dengan isyarat mengambil dari gerakan tangan beliau yang mengangkat tangan kanannya menggambarkan gerakan mencoret-coret telapak tangan kirinya. Kakek langsung mengangguk.
Wuri segera kusuruh mengambil bolpoin dan kertas. Tapi mendadak kuhentikan langkahnya. Bukankah di dalam kantong bajuku selalu tersimpan bolpoin dan notes kecil? Alat yang bagiku sangatlah penting untuk mencatat segala pengeluaran. Termasuk belanja kebutuhan dapur dimana kau harus memintaku setiap hari kalau kalian hendak berbelanja di pasar. Berapa kau harus beli minyak goreng, cabe, garam untuk berapa hari dan kebutuhan lainnya – harus tercatat secara tertulis.
“Kenapa tidak sekalian untuk belanja satu bulan? Biar tidak setiap hari harus menghadapmu di meja ini. Kayak aku ini buruh harian lepas seperti mereka. Dasar fiodal.”
Kau tidak sadar kata “fiodal” adalah sebagian darah yang mengalir di tubuhmu. Kalau ku buka sedikit longgar pengeluaran, kau akan besar kepala. Aku tidak menjawab dan tidak ingin mengomentari kejengkelanmu atau melawannya dengan argumenku.
Fiodal atau bukan fiodal adalah persoalan menejemen. Hasil dari daya kritis seseorang yang mempunyai kekayaan lebih dan harus dimenet secara ketat. Bagi seorang pebisnis satu sen harus bisa menggandakan ber-sen-sen. Sebagaimana prisip dagang, sepincuk dua pincuk lama kelamaan menumpuk menjadi setinggi gunung semeru.
Kukeluarkan notes dari saku dalam baju. Saku yang sengaja kubuat untuk pasangan benda ini – bolpoin dan notesnya. Kakek meminta benda yang kupegang dengan tidak sabar – aku memberikan. Dengan tangan gemetaran ia susah payah menerakan tulisan dan angka-angka. Keringatnya bermunculan di dahi dan lengannya. Aku sedih melihat keadaannya.
Samudro dengan mudah melihat apa isi tulisan di atas kertas notes itu. Posturnya yang jangkung tanpa berkedip melengkung di atas kepalaku. Ku ikuti goresan di kertas itu. Bertuliskan huruf dan angka bengkok-bengkok tidak eksak akibat dari tangan yang bergetaran: 7 gentong = Rp. 120.000.000,- beberapa kali ia istirahat menuliskan angka-angka dengan posisi miring. Tulisan orang jaman dulu. Jumlah yang sangat banyak untuk ukuran waktu itu; Seratus dua puluh lima juta rupiah.
Kakek berusaha menulis lagi. Mata tidak sanggup membuka kelopaknya dan terlihat sangat lemah; 2 gentong em … (tidak sempat ia teruskan) tangannya jatuh lunglai. Menyerupai adegan-adegan film yang sering kita saksikan menggambarkan seseorang menghadapi sakaratul maut, setelah menyampaikan pesan atau mengucapkan dua kalimah sahadat kemudian kepalanya terkulai lemas. Perilaku klise cermin mampetnya kreatifitas.
Melihat kakek tidak berdaya, kuraih notes dengan kecepatan yang tidak kalian sangka dalam genggamannya – menyelipkan ke dalam saku bagian dalam baju sesamar mungkin sebagaimana tukang sulap dengan segala trik yang ia punyai sampai penonton tidak merasa dibohongi.
Meskipun demikian kalian masih menyiratkan kecurigaan gerakan yang aku lakukan. Didorong rasa berkabung yang mendesak tidak dapat kita elakkan, kitapun bertangisan. Membingungkan seorang dirijen paduan suara yang muncul dari tangis yang tidak selaras sesuai partitur. Yang satu rendah suaranya dalam nada bass lalu menghilang dengan waktu yang agak lama. Ditenggat tarikan nafas kemudian muncul lagi ada lolongan di sana lalu makin menghilang dan makin terdengar sember. Itu tangis Landung. Ada suara muncul tangisan dari sudut kamar, itu tangisan Samudro melengking ia lepaskan tanpa penghalang menangis sejadi-jadinya. Sementara Wuri memelukku. Suara tangis yang timbul bernada datar terjaga ritmenya. Ndrenginging panjang lalu terhenti. Tidak lama ndrenginging lagi.
Sedang kau tanpa suara. Laiknya perkusi yang disentuh sangat hati-hati dan sangat perlahan. Yang keluar hanya senggukan sangat halus namun air matamu deras membasahi pipi yang lembut itu sambil memandangi jasad kakek yang bagaimana pun dia bagimu adalah lelaki bijak kendati tegas yang berlebihan tapi rasional tindakannya. Di lain hal kau juga termanjakan sebagai pendamping cucu yang sangat dimanjakannya. Semua muncul kenangan-kenangan perjalanan hidup itu, tergambar kembali sehingga kau dalam keterbengonganmu yang sejenak itu membuatmu misek-misek lagi.
Baru kusadari sepenuhnya kakek telah tiada.
Setelah pikiran diliputi angan yang memabokkan tentang peninggalan kakek yang sangat banyak – kulepaskan pelukan Wuri dan mendekati jasad kakek. Aku tak perlu menangis dengan mengeluarkan suara seperti kalian. Tapi rasa kehilangan ini sangat memukulku. Tangis dalam hati yang kutahan meledak tapi dapat kutahan tanpa suara. Sehingga yang nampak hanya guncangan tubuhku yang keras sampai aku terduduk sendeku, bertekuk lutut di samping jasadnya. Wuri dari samping memelukku tetap dengan rasa harunya. Samudro memandang keluar jendela entah apa dalam pikirannya tentang ladang luas tak bertepi. Setahuku ia bukan tipe orang yang mudah dan suka akan memandang alam apalagi berdialog dengannya. Alam yang kerap menampakkan keindahan yang muskil tidak terdaftar dalam indra perasaannya. Lelaki dewasa yang masa kecilnya sangat gemar membunuh semut rang-rang sedang meniti pagar bambu pembatas pekarangan dengan nyala obat nyamuk di tangan setelah pulang sekolah. Tanpa merasa berdosa ia terus lakukan sampai lingkaran obat nyamuk itu habis. Binatang merah sejenis semut tapi lebih besar itu jatuh berserakan, bergeletakan di tanah.
Di suasana berkabung ini sebelum orang lain tahu tentang kematian orang yang kita junjung keberadaannya. Masing-masing kita tak ingin berpisah denganya. Samudro terlihat masih merasa kehilangan yang sangat. Entah apa penyebabnya. Bisa jadi dalam hal-hal tertentu ikatan bathin itu ada antara kakek dan cucu sebagaimana ia adalah juga titisan darah dagingnya. Anak lelaki pertamaku itu menyaruk-nyarukkan sandalnya ke lantai sambil tersandar di sudut dinding tidak beranjak dari tadi setelah ladang dalam pandangannya tidak memberi warna apa-apa.
Landung masih terduduk sedih. Mengorek-ngorek lengan dengan perhatian yang lebih. Ketakutan titik noda yang ada di kulitnya berkembang menjadi kurap di kulitnya yang bersih ia ia lap dengan kain. Aku tahu dia sedih. Pemuda polos bila mengemukan sesuatu ini sering menarik nafas panjang dan menghembuskannya ke udara mengusir pedih.
Dan dirimu Indri, menggigit-gigit kuku sambil melemparkan pandangan ke luar jendela – jauh mengenang sesuatu yang pernah terjadi di belakang kehidupan kita bersama kakek yang mendapat perhatian lebih sebagai seorang menantu.
Kematian selamanya memaksa orang tertunduk sedih. Tahapan manusia menuju alam seberang yang harus dilalui, yang tidak habis-habisnya kita saksikan. Kematian menggenaskan atau wajar adalah batas seseorang yang telah ditentukan perjalanannya di dunia. Pengadilan yang sempurna.
Orang dihentikan aktivitasnya. Apakah ketika masih muda atau usia lanjut. Semua di luar kemampuan manusia untuk merekanya. Bisa jadi orang itu masih muda tapi harus meningglkan dunia ini, walaupun dia masih mempunyai potensi besar untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk kepentingan dunia ini, tetap saja manusia tidak memperoleh jawaban. Mengapa dia semuda itu harus mati? Dan mengapa orang berumur panjang. Mungkin jawaban yang mendekati kebenaran bahwa seseorang dicukupkan aktivitasnya di dunia ini pertimbangannya adalah, setiap orang punya sifat baik-buruk dalam dirinya. Bila di panjangkan usia mereka yang mati muda bisa jadi dia tetap baik. Atau sebaliknya dia akan merusak merugikan kehidupan orang lain dan dirinya sendiri selamanya hingga umur panjangnya. Hanya Tuhan semesta alam yang mengetahui. DIA menyukai hal-hal ganjil. Disebabkan hal yang ganji tak jarang menginspirasi orang. Semua tidak lepas dari keganjilannya mencipta semesta hingga orang harus terus melakukan pencarian terhadap diriNYA. Keganjilan bisa terjadi pada sifat dan perilaku manusia. Makanya dunia filsafat menghasilkan produk para filosof yang sampai dunia ini berakhir terus mempertanyakan segala hal yang menurut mereka terdapat keganjilan di sana.
Hidup ini sebenarnya anugerah. Demikian pula kematian. Kita tangisi dengan rasa duka yang mendalam sampai kita tersiksa karenanya, toh tidak akan hidup lagi. Seperti yang pernah engkau katakan sepeninggal ibu bahwa tidak baik membiarkan kesedihan berlarut-larut. Aku setuju pendapatmu itu. Tapi yang terus meminta klarifikasi tentang apa yang ditulisnya di atas kertas notes beberapa saat kakek meninggal tadi, sedang kau mengatakannya di depan jasadnya yang masih hangat dan baru saja rohnya lepas dari raga? Apa hal yang sedang kau lakukan itu tidak menggolongkan dirimu sebagai perempuan yang kebangetan?