WUTHERING HEIGHTS (Rumah Badaiku)

Wahyu Puspandrio
Chapter #8

BAB VIII

 Jasad kakek sudah dimandikan setelah sebelumnya dibopong menuruni tangga rumah. Sekarang disemayamkan di ruang tamu. Tidak kurasa para pelayat sudah memenuhi halaman. Meja kursi segala penghias interior sudah dikeluarkan. Hanya sepasang tanduk kijang yang tetap tercantel di dinding dan tidak mengganggu. Cabang-cabang tanduk itu menyerupai juluran-juluran ranting pohon yang mengering dihantam musim kemarau. Mahkota agung persembahan binatang, manusia tanpa merasa bersalah dengan bangga mengoleksinya.

Jenazah sedang dikafani dikelilingi beberapa orang. Duduk menghadap ke halaman rumah dalam ruang tamu yang disibuki orang keluar masuk. Tikar digelar untuk menyembahyangi jenazah. Para ibu menyerahkan roncean bunga di atas nampan, cukup sampai di pintu. Menyerahkan kepada kaum lelaki lalu kembali ke dalam ke ruang sebelah.

Kembang melati, mawar, kembang sundel dan wewangian berbaur dengan aroma daun pandan di iris-iris dan dirangkai dengan benang – menusuk hidung tidak kukenalali lagi mana harum bunga-bunga yang mempunyai ciri khas dan predikat keutamaan beserta keunggulannya masing-masing. Duduk di kursi sambil memandang nanar ke luar pintu – sementara pelayat di ruang tamu memenuhi ruangan. Mereka memaklumi apa yang sedang aku lakukan. Seorang cucu kesayangan sang kakek ditinggal untuk selamanya memandang keluar pintu kedua pipinya tiba-tiba di banjiri air mata. Menghapusnya lagi dengan sapu tangan yang sudah kuyup. Tak ada yang berani mengusikku. Bagi mereka aku adalah penguasa kerajaan ladang kapas tiada tandingan. Dari ladang itu aku bisa berbuat apa saja yang kini sedang dilanda kesedihan.

Pak Seno tergesa-gesa di tangga dari halaman menabrak pandanganku. Pertama kepalanya yang menyembul tidak lagi memakai caping petaninya berganti kopiah hitam. Tiba-tiba tanganku meraba kepalaku sendiri yang ternyata kopiah seperti Pak Seno sudah di kepala yang lama tercantel dikapstock sampai jamuran.

Ia sudah di depanku dan berbisik kalau dia memerlukan biaya untuk pembelian papan/sirap untuk pembatas liang lahat. Berfikir sebentar lalu kusuruh agar minta kepadamu lantas ia segera melangkah ke belakang untuk menemuimu.

Beberapa kelompok orang sedang melafatkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Aku mengenali ayat-ayat itu. Rangkaian surat Yasin dibacakan oleh wajah-wajah yang beberapa kukenal – pekerja ladang. Tidak lama kemudian kau mendekatiku berbisik di telinga mengatakan kalau sudah tidak memegang uang sepeserpun. Sisa uang belanja telah habis untuk membeli kafan, wewangian, bunga, untuk makanan para pelayat dan membayar para penggali kubur.

Lihat selengkapnya