Yang tengah memenuhi kepalaku hanya mengira-ngira emas itu berapa nilai nominalnya. Berapa berat perbatangnya. Berapa harga pergramnya pada saat sekarang tepatnya tahun 1976, dan apakah ku uangkan atau membiarkan saja sampai nilainya merangkak naik. Taruh saja semisal harga emas seharga tiga ribu limaratus rupiah pergramnya. Dikalikan seperempat kilo gram perbatangnya. Dikalikan lagi dua ratus batang banyaknya – ditambah jumlah uang yang terkumpul sekian kali lipat dari tujuh gentong itu. Sedang harga beras perkilonya cuma tiga ratus dua puluh lima rupiah.
Untung semua warisan itu diletakkan dalam gentong. Yah, aku tidak menyesali tujuh gentong yang kalian sudah ketahui jumlah nominalnya. Tapi dua gentong berisi emas – yang dalam tulisan kakek hanya tertulis 2 gentong em – huruf “m” terakhir tertulis tidak jelas tapi aku tahu ciri-ciri tulisan kakek dalam kalimat yang tidak selesai disertai bentuk tulisan yang sempoyongan itu, aku yakin kalian tidak mengetahui maknanya. Bagiku satu keuntungan lain yang terselamatkan dari pengamatan Samudro karena hanya dia yang menyaksikan sewaktu kakek menulisnya.
Namun aku sering ngeri sendiri dikejutkan bayangan detik-detik terakhir kematian kakek. Andai kata emas dalam dua gentong itu disimpan di bawah tempat tidur kakek dengan cara menyusunnya, seperti menumpuk batu-bata yang diturunkan dari cikar alat tranpsortasi desa yang menjadi primadona itu – kemudian beliau menyuruh kita untuk mengeluarkannya satu persatu dari kolong tempat tidurnya, alasan apa yang harus kukatakan untuk melarang kalian ikut-ikutan mengeluarkan emas-emas dari kolong tempat tidurnya.
Mungkin aku akan mencegah kalian supaya diam saja di kursi tidak perlu harus tahu persoalan warisan orang lain karena itu adalah hakku. Kalian akan tertunduk di kursi sambil tidak tahan ikut merayap ke kolong ranjang dan mengacaknya karena tidak tahan segera ingin mengetahui berapa banyak emas itu adanya.
Kita akan berebutan menggambarkan gerombolan komodo sedang merobek-robek kambing yang dipersembahkan penjaga cagar alam. Mengambil batangan emas dengan nafsu tak terkendali. Berdiri, menaruh batangan emas ke atas meja kemudian menggelosorkan diri lagi ke bawah kolong dan berdiri lagi dengan rakusnya.
Kuhentikan kebrutalan kalian tanpa memperhitungkan kakek kaget. Dengan sekali teriakan sambil berdiri melotot kacak pinggang.
“Cukup, hentikan. Hentikan!”
Dapat kupastikan seketika setengah badan termakan bawah kolong ranjang dan kaki-kaki tanpa gerak tertelungkup.
Kaki ranjang yang cukup tinggi menyempatkan Wuri sedang meringkuk mau berdiri tapi kini ia seperti patung dengan mendekap batangan-batangan itu. Sebagaimana ketiga anak ini kubentak waktu masih kanak-kanak – tak bergerak sesentipun.
Kau juga tak kalah rakusnya. Apa kau tidak memperhitungkan bahwa emas-emas itu setelah kalian taruh di meja lalu bisa seenaknya membawanya kabur ke kamar kalian?
“Berdiri. Jangan membawa sebatangpun.” Pasti aku akan membentak kalian seperti itu.
Dan suara gemelotak batangan berjatuhan bawah kolong. Perlahan kalian dengan hati-hati mengeluarkan kepala agar tidak kebentur pinggiran ranjang dan berdiri melangkah ke kursi. Aku mengembalikkan batangan di meja yang kalian taruh seenaknya ke kolong sangat hati-hati menjaga suapaya tidak cuil atau terkurangi beratnya akibat benturan.
Aku dikejutkan kakek mendadak memiringkan badan. Kuhampiri dengan gugup yang tidak bisa kututupi. Yang sejak derita sakitnya makin parah tidak mampu lagi menggerakkan tubuhnya. Kulihat air mata mengalir dari sudut matanya dan kuseka sambil sesekali melihat kalian yang tidak memperhatikan kami lagi.