Dikejutkan ketokan pintu aku gerageban bangkit dari lamunan. Surat yang kubaca dua hari setelah pengiriman – entah melalui jasa pengiriman apa, yang mengirim toh orang serumah yang dikirim ke ruang sebelah – ruang kerjaku. Lucu sekali.
Segera mengemasinya memasukkan surat ke dalam amplop lantas melemparkan ke dalam laci dan menutupnya.
Ketokan pintu berbunyi lagi dan kusuruh masuk. Pintu terbuka seperti tirai penutup panggung dalam pentas ketoprak muncul sekawanan itu dilatarbelakangi cahaya matahari dari awang-awang ladang.
Langkah kaki yang telah direncanakan diatur sebelumnya, derapnya serempak, dada yang kalian busungkan wajah tegak mengarah kepadaku. Kusaksikan tanpa berkedip layaknya empat jagoan yang akan menantang musuh dalam duel maut tangan kosong yang akan berlangsung sebentar lagi.
Kau paling depan. Di belakangmu ketiga anak kita. Tanpa menunggu perintahku kalian menyeret kursi lalu duduk tanpa bicara. Sementara aku masih berdiri. Sorot mata kalian mengarah ke wajahku dengan marah yang kalian tahan. Aku duduk tidak menyandarkan punggung meletakkan kedua tangan di atas meja. Menunggu aksi yang hendak kalian gencarkan.
Tidak perlu basa-basi atau pandanganku yang harus kalah dari tatapan kalian. Dengan mengalihkan sorot mata ke satu persatu melalui sudut kacamata bacaku dengan wibawa yang harus kujaga intensitasnya dan terpaksa harus kumulai perundingan.
“Apa yang kalian inginkan sebenarnya.” Bolak-balik pandanganku kusorotkan dari kiri ke kanan dan berhenti di wajahmu.
Suara yang kubuat serak dan dalam tidak menggoyahkan tubuh maupun tatapan yang kalian arahkan ke wajahku. Ini pasti kau yang mengarahkan gaya dan akting anak-anak yang biasanya suka bergurau dengan kakak adiknya dan tertawa-tawa bila sedang tidak memikirkan warisan. Kini mereka hadir dengan karakter yang kau bentuk menjadi karakteristik tokoh-tokoh gangster mafia Al capone.
Aku mengerti dalam otak kalian menghendaki bahwa persoalan ini tidak memerlukan pertanyaan yang kulontarkan dengan isi pertanyaan seperti itu. Persoalannya sudah gamblang tidak memerlukan pengulangan yang hanya membuang-buang waktu.
Menyambung pertanyaanku, apakah pantas dalam satu keluarga yang kepala keluarganya sedang pusing bagaimana menghadapi musim yang garang seperti ini, biaya yang tidak sedikit awal penanaman kapas, ditambah sifat tidak mau tahu bagaimana beratnya proses pertumbuhan tanaman ini yang memerlukan perhatian khusus, sebagaimana orang tua memperhatikan pertumbuhan bayinya, mestinya kalian tidak perlu menjadi mahasiswa dengan berbekal semangat bela negara. Tapi kalian justru mengingkari kenyataan yang terjadi di depan mata kalian bahwa kaum pekerja yang membungkuk menyiangi tanah di perladangan, kemudian berdiri mengamati satu persatu larik kapas yang membujur, membungkuk lagi kemudian berdiri dan mebungkuk lagi seterusnya seperti itu. Hujan kehujanan, panas kepanasan, kalian anggap itu persoalan biasa?
Kalian bilang itu pekerjaan mereka dan sudah semestinya mereka melakukan tanggung jawabnya karena mendapat upah. Menukas pernyataan yang sembrono dan menghapuskan kesan bahwa kalian adalah manusia yang tidak punya kepekaan perasaan memandang pekerja sudah merasa cukup hanya memberi imbalan, dari unsur yang keliru itulah sampai kapanpun kita sebagai bangsa akan dipandang oleh dunia sebagai bangsa mlarat dari segala sisi.
“Papi maaf, kami tidak mengerti apa yang papi bicarakan.” Samudro menukas lagi bicaraku.
Aku tidak perduli buntu otaknya yang terus dipelihara itu. Terus saja aku nyerocos menguliahi mereka.
Memperlakukan pekerja hanya sebagai buruh, tidak lebih. Nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi kesadaran utama penghargaan terhadap mereka, hubungan saling menguntungkan majikan dan pekerja kalian kesampingkan.
Kuperhatikan kau mengambil nafas dan melengoskan wajah sedikit sekali menyunggingkan senyum.
Manusia harus kalian pandang sebagai sosok pertimbangan tindakan untuk menghindarkan mereka dari rasa rugi dari perlakuan kalian, supaya kalia diselamatkan alam. Memperhatikan manusia berarti memperhatikan seluruh hajat hidup seluruh alam. Artinya ketika focus perhatian itu tertuju kesana akan berdampak pada kepentingan lingkungan lainnya. Didorong perilku kepedulian itu perhatian terhadap lingkungkungan akan selalu mendapat perhatian khusus demi kepentingan manusia itu sendiri.
Kuteruskan saja perkuliahan ini dengan mengacaukan pikiran mereka yang bisa jadi perkataanku tidak fokus atau pun menyimpang kemana-mana. Aku tak perduli. Dan kuteruskan.