Pintu yang masih terbuka usai kalian lewati terlihat kepala pak Seno muncul. Tekanan langkahnya menaiki tangga memperlihatkan rasa gembira. Makin nyata sosoknya kulihat lengkap bertelanjang kaki. Mendekat dan mengabarkan kalau mendung tebal sebentar lagi akan menutupi ladang berarak dari utara.
Aku belum sepenuhnya percaya laporannya. Langit masih terang, sinar matahari telak memanggang ladang.
Berita apapun dari orang yang terus memegang amanah dengan tulus tidak perlu meragukannya. Aku bangkit dengan tersenyum kepadanya tanpa berucap sepatah katapun. Dan kulihat dari jendela mendung tebal menghitam terlihat dari utara yang sebentar lagi memayungi ladang dan menjatuhkan diri membasahinya. Seperti seorang gadis yang lama dalam penantian pemuda pujaannya tiba-tiba sosok yang ia rindukan itu muncul di ujung jalan. Rasa tak percaya namun itu nyata. Pak Seno pun menghambur ke halaman menyambutnya dengan luapan suka cita.
Aku juga ke halaman menyaksikan kebenaran itu. Mendung bergumpal-gumpal yang seharusnya melalui proses sedikit demi sedikit mendatangkan gerimis lalu berhenti. Disusul esoknya turun lagi hujan. Demikianlah proses awal turun hujan terjadi. Tapi kenapa sampai dapat terbentuk gumpalan awan yang fantastik seperti ini. Sebagai proses alam yang sekarang mengalami perubahan yang sulit dipantau, aku pikir wajar kalau mendung bergerak dari utara – dari penguapan Laut Jawa yang berjarak kurang dari sepuluh kilo dari ladang.
Masa penanam benih telah aku lakukan. Mengerahkan separuh penduduk desa yang masing-masing batas-batas desa itu mengelilingi ladang.
Panggung maha luas tempat dimana aku setiap tahun dua kali mengadakan pagelaran ini. Mengkomandoi para penanam bibit yang terdiri dari perempuan dan laki-laki dengan ketukan kentongan – memakai kode-kode yang sudah mereka pahami untuk mengatur gerak mengambil benih yang mereka bawa dalam keranjang kecil dan menanamnya. Mengikuti para lelaki berjalan di depan menancapkan tumbak yang terbuat dari kayu sebesar tongkat pramuka dengan ujungnya diruncingi untuk membuat lubang dimana benih akan ditanam.
Selebar separuh lapangan bola dikomandoi seseorang yang memberi kode-kode tertentu yang sudah aku anjurkan agar dipatuhi menggunakan kentongan. Lima orang mempunyai anak buah menanam bibit setengah lapangan itu dengan suara kentongan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Dan yang tercipta adalah harmonisasi gerak langkah disertai menunduk dan berdiri dengan nyanyian penyemangat yang aku ciptakan.
Aku dikejutkan ciptaanku sendiri. Lima kepala regu yang masing-masing membawahi satu regu itu mustahil gerak masing-masing regu bisa sama dengan yang lain. Namun justru tercipta konfigurasi dan irama yang saling melengkapi gerak masing-masing regu. Dibarengi koir tumpang tindih suara meraka yang tidak senada dan seirama – justru menghadirkan keindahan tersendiri.
Aku ingin membuatkan pakaian seragam setiap regu dengan warna berbeda yang mencolok. Tidak perduli harus mengkoposisikan tanah berwana coklat maha luas yang mendasarinya. Rasanya sendratari ini akan terlihat menarik dan eksotis.
Begitulah setiap masa penanaman benih itu berlangsung hingga bibit tersebar seantero ladang. Walaupun tanaman kapas tidak memerlukan banyak air tapi hujan sebelum penanaman benih sangat diperlukan. Aku menengadah ke langit. Mengembangkan kedua lengan menyiratkan pancaran kegembiraan tak terkira. Dimana hari-hari akan terlewati dengan harapan rasa optimis seiring bertumbuhnya benih yang telah ditanam dan bersemi. Sebagaimana harapan setiap petani yang membuatnya berumur panjang. Pak Seno kutoleh tidak di sampingku lagi. Dia sudah di ladang dengan gembira memperhatikan tanaman yang mulai berkecambah.
Selang beberapa minggu ayah ibumu datang menjenguk kalian. Kuperhatikan dari jarak seratus meter sewaktu aku mengawasi para pekerja menyiangi tanaman yang sudah sepaha tingginya. Kalian berpelukan cium pipi kiri pipi kanan, ritual yang sulit hilang seolah keduanya datang dari tempat yang jauh – padahal rumah kita dan orang tuamu bila pandangan disapukan dari kanan ke kiri posisi sembilan puluh derajat dari tempatku berdiri di ladang dengan cepat mata ini mempertemukan dua rumah kembar peninggalan pendudukan Belanda itu.
Ayahmu berkacak pinggang. Kebiasaan yang tidak bisa hilang walaupun Belanda sudah hengkang tidak menjajah kita lagi. Tapi nafsu untuk memiliki tanah kembali tidak pernah surut. Mondar-mandir sambil berbicara denganmu. Pastlah kalian sedang menikmati sore yang hangat ini dengan secangkir teh tanpa gula dan kue kering yang tidak jarang kue-kue bawaan ibumu terlalu keras untuk gigiku. Selera tinggi ayah ibumu tidak disertai dengan membuat kue berbahan berkualitas bagus sesuai trah yang kalian agungkan. Kentara sekali hidup memaksakan diri dengan gaya yang sudah tidak kalian mampu untuk memanggulnya – mengapa kalian paksakan.
Kalian tertawa menunjuk kesana kemari ke arah ladang dan kau sebagai pemandunya. Tak ubahnya kalian bukan keluarga yang sudah pailit saja. Seperti bukan keluarga yang bangkrut saja.
Aku juga merasakan kesenangan yang kalian sedang lakukan. Bercengkerama tentang sesuatu yang sederhana bahkan sampai serius ditemani udara sore yang telah sekian minggu, belum ada sebulan tanah dibasahi hujan benar-benar indah, menyegarkan. angin terus berhembus lembut – menggerakkan daun-daun tanaman kapas menggelitik pekerja untuk menembang.