Istri Pak Seno memecah keheningan dari pintu samping. Pemberitahuan rutin menjelang makan malam. “Pak makan malam sudah siap. Ibu dan anak-anak sudah menunggu.” Aku mengangguk tanpa melihatnya.
Kalian telah menungguku makan malam. Siasat apa lagi yang hendak kalian gunakan mengoyak pendirian yang bisa jadi menurutmu sangat liat untuk digoyahkan. Enggan melangkahkan kaki ke ruang makan. Dengan melonjorkan kaki menimpakan kedua tungkai ke atas sandaran kursi yang kutarik untuk menahannya.
Suara langkah mendekat lagi. Metolehkan wajah ke arah suara ternyata Landung. Dengan suara yang monoton intonasinya malas merubah susunan katanya dari ajakan setiap makan bersama yang sering kudengar di setiap rumah tangga. Baik melalui teriakan ibu rumah tangga kepada anak-anaknya. Pelayan kepada majikannya, ajakan anak-anak kepada ayah ibunya tak pernah bergeser seperti yang diucapkan istri Pak Seno. Kalimat yang tidak saja verbal tapi sudah mentradisi tidak ada keinginan merubah susunan kata paling tidak membolak-baliknya barangkali? Rasanya lebih pas kalau panggilan makan malam itu ditandai dengan pukulan keloneng. Kuhenyakkan pantat meninggalkan suasana santai melangkah ke ruang makan – menghadapi pertempuran baru yang belum tahu apa wujudnya.
Di hari-hari kemarin tidak seperti malam ini. Makan tersedia menu yang menurutku luar biasa meriah dan satu hal yang mengejutkan kalian begitu sumringah – wajah-wajah tak merengut lagi. Kuikuti saja alur yang kalian buat. Kau menyidukkan nasi untukku sambil menawarkan ada menu istimewa malam ini. Bumbu pecel jantung pisang pedas yang semenjak perseteruan makin meningkat grafiknya tidak pernah tersaji di meja. Kau meletakkan tepat loyang berisi menu itu di depanku. Wuri mengambilkan wadah sayur terbuat dari anyaman bambu, bentuknya mirip dengan bakul nasi tapi agak kecil. Sayur beluntas disatukan pupus daun papaya kesukaanku.
Kuambil sedikit meletakkan satu bumbu dengan jantung pisang. Kau menunggu tidak sabar saat aku menunggu sayur yang diberikan Wuri untuk menambahkan daging panggang ke piringku. Samudro juga tak kalah sibuknya menuangkan air putih ke gelas untukku. Kemana Mbok Seno yang biasa meladeni kita? Wira-wiri bolak-balik meja makan dan dapur, tidak jarang gugup memenuhi permintaan kalian? Kurasakan pelayanan berlebihan kuangkat kedua tangan dengan gerakan halus agar kalian menghentikannya.
“Cukup, cukup, terima kasih. Duduklah kalian di kursi masing-masing dan makanlah. Aku bisa mengambil sendiri.” Sebentar itu aktivitas terhenti. Kalian sadar pelayanan itu berlebihan dan tidak seperti biasanya kalia lakukan.
Satu poin telah kukantongi. Dari gerakan yang kuperhatikan nampak penyesalan. Untuk tidak larut dalam penyesalan itu kalian mulai dengan cara lain. Memanggil Mbok Seno soal sambal terasi yang belum tersaji di meja. Mbok Seno muncul terburu-buru sepersekian detik dari panggilanmu. Sinyal radar kecurigaan ini mulai aktif bergetar menangkap segala yang terjadi dan memberitahu secara otomatis hanya dengan konsentrasi dia bekerja sendiri memantau yang tercucap dan bergerak.
Mbok Seno muncul dari pintu dapur jelas dia telah kau persiapkan menunggu panggilanmu di balik pintu dapur. Sama dan sebangun dengan film-film kita yang mengesampingkan perhitungan logika seorang pembantu yang akan menyuguhkan sesuatu muncul dari pintu tanpa mempertimbangkan terlebih dulu bahwa kemunculannya terlalu cepat atau lambat. Paling tidak dia harus mengambil terlebih dulu cobek terasi yang sudah tentu memerlukan waktu meskipun itu beberapa tel atau detik yang kini meletakkannya di depanku – apalagi masih menggerusnya di dapur berarti memerlukan waktu sebelum melangkah ke ruang makan. Sayang hal itu luput dari perhitunganmu yang kutangkap dengan logikaku.
Mbok Seno kembali ke dapur tanpa berani menatapku. Perempuan paruh baya sangat hormat kepadaku telah melakukan kesalahan mulai menuruti kemauanmu yang menurutnya apa yang kalian lakukan itu tidak patut. Kau telah mengaturnya dengan rencana yang tidak masuk akalnya. Membawa cobek sambal sambil berdiri lama menunggu instruksimu di balik pintu dapur, aku yakin baru kali ini dia melakukan suatu pekerjaan yang menurutnya sangat janggal. Pasti kau memotong pertanyaan yang muncul dari pembantu setia kita itu dengan nada tidak senang. “Mbok tidak perlu banyak tanya, lakukan saja.”
Sambil makan pikiran terus bekerja. Wuri menawari krupuk makanan kesukaan yang tidak terpikirkan. Pikiran sibuk mengantisipasi segala sesuatu yang datang dari kalian yang kulihat dari cara makan kalian yang sambil berfikir itu. Sampai lepas perhatianku krupuk yang berdampingan dengan makanan lain. Wuri mengangkat tempatnya menyilahkan aku mengambilnya dan langsung menggigitnya menimbulkan suara gemeretak yang biasanya kalian langsung memprotes munculnya suara itu yang menurutmu tidak sopan. Mengapa kali ini kalian tidak terangsang memprotesnya?
Tiga poin telah kukantongi lagi. Tapi kau tetap tidak betah krupuk yang menimbulkan suara sangat mengusik upacara makan yang rutin kalian lakukan melanggar sopan santun tatacara makan yang kalian junjung tinggi. Akupun mempercepat menghabiskan krupuk dengan cara menenggelamkannya di bumbu pecel lalu melahapnya. Hanya untuk meninggalkan kesan aku yang tidak punya sopan santun padahal itu kulakukan untuk memancing semua rutinitas yang kalian lakukan demi memantau aksi yang kalian timbulkan dari tindakan yang boleh jadi ada maksud-maksud tertentu yang tidak pernah beranjak menggoyang warisan.