WUTHERING HEIGHTS (Rumah Badaiku)

Wahyu Puspandrio
Chapter #14

BAB XIV

Kumulai langkah tegas untuk merebut hati anak-anak. Dilibur semester ini harus lebih terbuka mengajak mereka lebih banyak di ladang. Membangunkan mereka setiap pagi, memperkenalkan bagaimana mencabut tanaman pengganggu, gulma-gulma yang menghambat pertumbuhan kapas. Bukan hal sepele mencabut rumput pengganggu. Mencabutnya memerlukan tehnik tersendiri. Menggenggamnya, mengerahkan tenaga yang harus dikontrol menggunakan perasaan agar rumput dapat tercabut semua secara bersamaan dan tidak tersisa.

Mereka harus rutin bisa membuka dua belas pintu air yang menempati empat titik yang lebih tinggi dari dataran setiap sudut areal. Bisa dengan sepeda motor yang sering kugunakan mengelilingi ladang. Dari jarak satu kilo meter suaranya sudah bisa didengar. Suara  keras berfungsi untuk membangunkan para pekerja yang bermalas-malasan.

 

Hatiku mekar semekar tumbuhan kapas yang sudah setinggi pundak Wuri. Anakku perempuan satu-satunya ternyata lebih cepat beradaptasi dibanding kedua kakaknya. Dia banyak mengambil inisiatif. Memakai topi cowboy sepatu boot setinggi lutut membuka pintu air dari tula’an kali yang tidak lebar tapi airnya mengalir deras dari danau – menggunakan  Headler motor keluaran tahun 1954 yang sering kugunakan mengantarmu saat ngidam melihat kereta api.

Wuri awalnya ditertawai pekerja ladang – mengangkangi motor antik dengan rok selutut tingginya, sepatu boot dan topi coboynya mengelilingi ladang. Tapi aku bangga dan sering mengikuti dari jauh melalui pandanganku yang tidak jarang dia memberi petunjuk dan instruksi agar para pekerja melakukan perintahnya.

Lihat selengkapnya