WUTHERING HEIGHTS (Rumah Badaiku)

Wahyu Puspandrio
Chapter #15

BAB XV

Awan hitam digiring angin menggelantung membentuk garis bayangan tidak beraturan membagi dua bagian terang dan gelap permukaan ladang.

Tanaman kapas menurut Basudewo adikmu bernama latin Gossypium Spp sudah berumur dua bulan. Menurutnya kapas yang kutanam ini jenis Amerika; Gossypium Hersatum yang ia katakan dengan bangga – ucapan anak kuliahan di tingkat-tingkat pertama mengusung istilah asing adalah segala-galanya.

           

Perhatian yang intens diperlukan terhadap hama yang sering menyerang kata adikmu lagi, Basudewo, tanpa kuminta mengucapkan Hypomeois Aquamus sampai mulutnya menyong-menyong mengucapkan istilah latin itu. Yaitu sejenis hama pengganggu yang tidak lain adalah Uret. Sejenis ulat berwarna putih penuh lemak hidup dalam tanah memakan akar tanaman kapas yang menyebabkan tanaman menjadi lunglai, mongering dan mati. Hal itu kau jadikan kesempatan melapor pada ayah ibumu panen tahun kedua yang gagal, ribuan tanaman mati terserang uret.

Tanpa kuundang ayahmu mengajak ke rumah kita seorang Taoke dari kota untuk kongsi pengerjaan tahun kedua ini. Siapa lagi kalau bukan dirimu yang mengabari mereka bahwa aku akan jatuh pailit. Mengulangi gaya lama pendekatan yang pernah ia lakukan terhadap kakek. Kubiarkan ayahmu menjabarkan keuntungan yang kudapat seandainya aku mau bekerja sama dengan orang yang duduk disampingnya yang justru lebih banyak diam katimbang ayahmu dengan bangga membawa seorang broker kenalannya. Ayahmu menari-nari di depanku tak beda dengan burung jantan memikat betinanya. Memamerkan kelebihannya menjabarkan keuntungan yang akan aku peroleh. Dengan menambahkan fasilitas hotel bila aku berkunjung ke beberapa kota besar dan menyebutkan bintang hotel-hotel itu dengan pongahnya.

Keahian memikat seserang yang tidak kujumpai ketika ayahmu merayu kakek yang selalu gagal itu rupanya ayahmu pelajari dan pupuk. Dalam benakku orang lain pasti terpikat cara ayahmu mempromosikan jualannya. Kuperhatikan ayahmu lebih cocok menjadi makelar ketimbang sebagai orang yang harus pusing memproduksi satu barang komoditi berupa kapas ini. Ayahmu mengalami kemajuan dalam hal satu ini. Tapi hal yang membuatku terlena ia yang menyanjungku terus menerus mengatakan kalau aku menantu yang paling jempolan. Sangat perhatian terhadap keluarga dan aku adalah orang yang paling dermawan. Senjata itu yang ia tekankan sambil menyunggingkan senyum kepada taoke setiap akhir menyanjungku. Tapi tidak kepadaku. Tak bisa sanjungan itu aku terima dengan serta merta. Tapi kubiarkan sampai sejauh mana satu unsur merayu itu dapat mempengaruhi calon pembelinya.

Ternyata betapa nikmatnya mendengar sanjungan bahwa aku adalah manusia yang tergolong sebagai insan yang keberadaannya di masyarakat di hormati karena kedermawanannya. Baru kali ini kurasakan kakiku tidak menginjak lantai, tubuh terasa ringan menikmati semriwing kata-kata sanjungan dari mulut ayahmu yang kalian saksikan dari wajah kagum tamu kita yang terus menyunggingkan senyum yang tidak dibuat-buat. Setiap akhir dari penjelasan yang ia paparkan selalu menambahkan bahwa keuntunganyang akan kudapat bisa lebih meningkatkan sifat kedermawananku dengan pengaspalan jalan desa yang selama itu tak terperhatikan pemerintah daerah. Dan yang paling penting tanah tidak terbengkalai.

Tapi nanti dulu. Apakah kau juga dengar dari mulut kata-kata pengaspalan jalan desa dari mulut ayahmu? Terus terang Indri, kalimat ayahmu itu mengusik sanjungan yang tengah kuresapi dan kurasakan denyar nikmatnya. Anjuran pengaspalan jalan desa jelas akan menguntungkan kendaraan bendi ayah ibumu. Senang disaksikan penduduk yang berpapasan mengangguk hormat kepada orang tuamu melintas di jalan mulus semakin membawanya lupa diri.

Aku terbangun dari buaian angin surga yang membius sebagaimana ayahmu katakan dengan berlebihan.

Segera duduk tegak menyandarkan punggung ke kursi dengan memasang wibawa. Senjata yang sering kugunakan menghadapi saat-saat kritis bila aku terdesak tekanan yang kalian lancarkan.

Kukatakan kepada taoke apa yang dikatakan ayahmu tidak perlu dipercaya. Namun hampir saja aku menambahkan bahwa semua bantuan baik untuk desa dan masyarakat seputar desa ini, termasuk kebaikanku yang membuahkan keharmonisan pada keluargaku ini, adalah sesuatu yang harus ditiru, di contoh oleh orang kaya lainnya demi keberlangsungan dan kemanusiaan. Yang dibutuhkan dalam hidup ini, bagaimana membahagiakan orang lain. mau berkorban mendermakan kekayaan kita tanpa harus meminta imbalan. Menepis jauh untuk menerima penghargaan. Bukankah hidup ini hanya mampir ngombe? Mampir minum. Hidup ini hanya sementara. Oh, kalau itu benar-benar terjadi pada kehidupanku – pikirku. Betapa manisnya perkataan ayahmu sampai aku hampir-hampir terbawa dan lupa diri sanjungan kedermawananku yang pasti kau reka-reka aku belum pernah melakukannya. Kutaruh dimana wajah ini seandainya aku mengatakan hal itu. Namun seandainya kukatakan di depan taoke yang sedari tadi tersenyum seperti patung, kalian dengan lapang dada menyetujui pernyataan palsu itu. Nyata sekali perkataan seseorang yang piawai merayu, memanfaatkan unsur psikologi bila tidak hati-hati mencermatinya aku akan terbawa lupa diri.

Yang tidak bisa kulupakan kau dan ibumu selalu mengamini semua kalimat sanjungan yang meluncur dengan manisnya dari mulut bandot tua mertuaku ini. Kendatipun kau dan ibumu setelah itu membekap mulut kalian menghapus wajah sumringah berbalik masam sebagai tanda apa yang dikatakannya tidak benar adanya. Setelah itu cengengesan lagi mengiyakan apa yang disanjungkan tentangku. Tanda yang kubaca semua ini bentuk rekayasa keinginan bapakmu untuk merengkuh ladang kembali dengan memberi predikat baru kepadaku sebagai dermawan – betapa memuakkan. Aku muak oleh sifatku sendiri. Muak terhadap kalian yang menyanjungku dari kenyataan yang sebenarnya. Baru tersadar semua yang ayahmu sisipkan dalam penawarannya mengusung kelebihanku yang kalian karang.

Tujuh puluh persen keuntungan untukku tanpa aku mengeluarkan biaya sesenpun. Ditambah bonus kemudahan aku bisa meminjam uang apabila memerlukan tanpa bunga, tanpa agunan. Hal yang fantastis atas kemudahan yang dijanjikan yang teramat sulit di tahun-tahun ini terjadi pada setiap orang yang membutuhkan permodalan.

Aku manggut-manggut saja sambil jengkel melihat kau dan ibumu keluar masuk membawa dan mengambil makanan dan minuman dengan kalian terlambat menyuguhkannya. Hanya untuk melihat tanggapanku sampai sejauh mana yang menurutmu itu kabar baik yang harus disambut dengan pemikiran jernih, tidak perlu rumit-rumit menyetujuinya karena bantuan ini tidak datang begitu saja. Tapi kepedulian ayahmu yang harus turut memikirkan pasca panen yang gagal.

Kau yang ikut-ikutan nimbrung memberi saran kepadaku di hadapan tamu yang belum kukenal, yang dengan senyum berharap muncul dari mulutku “tawaran ini kusetujui” lalu meledaklah tawa kemenangan kalian. Dilanjutkan dengan kita berjabat tangan saling pelukan. Pengingkaran macam janji apalagi yang telah kutoreh dengan segala sumpah untuk tetap mengerjakan sendiri ladang yang dapat memberi kenikmatan dari segala sisi yang ditimbulkannya akan aku jual ataupun bekerjasama dengan saudara dekat sekalipun, aku tak tergiur.

Lihat selengkapnya