Kejadian demi kejadian selalu tercatat dengan sendirinya tanpa harus mengunggulkan diriku sendiri.
Meskipun pada kenyataannya segala yang kukerjakan menurut orang lain aku seorang yang bakhil, pedit alias pelit, tidak berprikemanusiaan. Itu anggapan mereka dalam hal menilai sesuatu cenderung tidak adil. Hanya mendapatkan informasi dari satu pihak, tidak kedua belah pihak. Sehingga jauh mendapatkan predikat sebagai hakim yang adil. Bagiku yang penting tidak merugikan orang lain. Anak-anak tetap aku kuliahkan. Tiga orang di jaman sulit masih bisa menghirup bangku kuliah di kota besar. Bisa dihitung berapa yang kukeluarkan untuk keberhasilan masa depan mereka. Aku ikhlas. Tidak ada keinginan orang tua anak yang dilahirkannya hidup menjadi kere. Dan peristiwa enak tidak enak, nyaman tidak nyaman aku catat dalam buku harian. Menghindari memposisikan diri yang paling kampium dalam segala hal sedang orang lain inverior. Apa adanya aku tulis. Perkara kupanjangkan ceritanya supaya pantas dibaca layaknya sebuah cerita bersambung yang bagaimanapun juga memerlukan endingnya. Bersama jari jemari yang mulai kurasakan bergetaran layaknya orang terserang parkinson bila tekanan emosi yang termaktub dalam kalimat yang hendak kupindahkan ke mesin ketik terasa memuat makna yang dalam.
Itulah yang dapat kutulis di atas mesin ketik kuno yang tangkai tuts-tutsnya karatan dengan huruf-hurufnya memudar dan memperjelasnya dengan cat lukis yang sering nempel di jari-jari seusai mengetik. Keinginan menulis yang baru bisa terlaksana setelah sekian lama tertunda oleh hal-hal yang sepele yang menurut pandanganmu kubesar-besarkan.
Betapa melelahkan memindahkan tulisan tangan sendiri yang terkadang banyak kata-kata yang tidak tertulis jelas apa maksudnya, ke mesin ketik yang terhenti mereka-reka apa arti kata itu yang sering membuatku dongkol – tidak kuteruskan. Melanjutkan tulisan di hari lain dengan was-was menemui kata di kertas yang buram sangat mengganggu. Terkadang tulisanku sendiri sering justru aku sendiri tidak dapat membacanya. Sungguh Ironis. Ironis yang lucu. Apakah harus belajar menulis lagi agar tulisan tangan ini dapat terbaca. Pelajaran menulis halus yang pernah kita dapatkan dari Sekolah Rakyat sangatlah membantu kalau dipikir-pikir. Membimbing tangan menerakan huruf menjadi kata dan kalimat dengan hati-hati dan rapih. Ajakan guru Sekolah Dasar itu sebenarnya mengajari murid-muridnya supaya dalam melakukan segala sesuatu berakhir baik. Meskipun sebagian besar murid bentuk tulisan yang dihasilkan hampir mirip satu dengan lainny. Namun hasilnya sama – jelas dan artistik.
Tapi mana mungkin harus memulai belajar menulis halus di usia yang sudah lima puluh lebih ini. Asal jangan seperti seorang dokter yang dilaporkan pegawai apoteker kepada sebuah Jawatan yang membawahi perkumpulan dokter itu, yang sering dibuat bingung karena tidak mengerti apa maksud tulisan dalam resep-resepnya. Bahkan ketika resep itu dikembalikan kepada dokter yang bersangkutan, si dokter tidak bisa membaca tulisannya sendiri. Akhirnya apoteker tidak bisa memenuhi obat yang diminta. Alhasil keputusan kepala Jawatan dokter-dokter menyuruh supaya dokter yang tidak dapat membaca tulisannya sendiri itu belajar menulis lagi.
Kerja dua kali mengerjakan satu hal yang sama, harus menggerakkan leher ke kiri, membaca tulisan di kertas, menghapalnya sebaris kalimat, bisa lupa dan menengokkan lagi leher ke atas kertas membacanya lagi dan cepat-cepat kutekan tuts-tuts mesin ketik, sedang ketrampilanku mengetik sangat memprihatinkan. Tertatih-tatih seperti hujan pertama jatuh satu-satu di atas genteng.
Kukerahkan seluruh kekuatan mentanl dan kesabaran memindahkannya ke mesin ketik yang kubeli di pasar loak. Enggan membeli yang baru hanya menambah pengeluaran. Walaupun jari-jari tanganku sering dibuatnya bengkak. Penyebabnya aku harus menekan hurufnya keras-keras agar tertera huruf yang jelas di kertas.
Benda yang kukagumi. Hasil dari kesungguhan manusia mengerahkan mental dan kecerdasan menghadirkan ketelatenan mencipta satu gerakan pikiran dan kehendak seseorang yang dapat terealisasikan melalui gerakan menekan satu huruf dan angka. Simbol-simbol dari satu gerakan yang memerlukan kerjasama semua elemen dari sebuah kenjlimetan instalasi. Bukankah kegunaan satu barang lebih dilihat fungsinya? Berteman dengannya menyemangatiku untuk terus menulis. Getar untuk terus mengetik bersama benda kusam karatan memunculkan semangat tersendiri. Kebiasaan masa kecil terulang kembali – membungkuk di depan meja tulis yang kerap membuat dadaku nyeri, tengkuk terasa tegang.
Menekan lagi huruf-hurufnya setelah mengurut jari-jari tangan yang pegal mengikuti catatan harian yang tertera di kertas buram yang kuamati semakin suram.
Kalian lupa tentang gentong-gentong penyimpan warisan terakhir yang kuterima. Menurut pikiranmu gentong-gentong itulah yang barangkali bisa kalian koyak. Setelah ladang yang kini merana tak berproduksi terhampar lunglai. Dalam perkiraanmu aku akan jatuh bangkrut setelah panen kwartal ke dua gagal. Perhitunganmu salah, aku masih punya simpanan untuk kujadikan modal membiayai penanaman di kwartal ke tiga yang tersimpan di gentong. Emas dan uang itu belum terusik sedikitpun. Aku tidak pusing sebagaimana kalian perkirakan. Suamimu ini kaya Indri, pengaspalan jalan yang ayahmu hayalkan bahwa aku yang kau harap akan membiayainya memang sedang kurancang. Kau bisa lihat sendiri jalan mulus yang mengitari ladang. Juga jalan yang membagi ladang menjadi beberpa bagian dalam sketsa yang sedang kubikin yang tergambar di atas karton, selalu tergelar di atas meja kerjaku. Kalau saja ketika kau masuk ke ruang kerjaku dan sedikit menolehkan wajahmu ke meja yang di atasnya terus kugelar sketsa gambar kau pasti mengagumi rancangan yang akan kuciptakan melalui obsesi yang tersimpan dari mulai aku remaja yang sering tidak tahan aku ingin segera mewujudkannya.
Jalan beraspal membagi ladang menjadi beberapa bagian. Dapat kau bayangkan betapa menyenangkan berjalan di atasnya ketika sore bersama anak-anak kita. Atau kita berdua lari pagi untuk mengurangi berat badanmu diselimuti udara bersih dilatarbelakangi pegunungan Tengger yang membujur. Dan berlama-lama di jalan itu sambil senam dan bercengrama membicarakan tentang hal yang tidak-tidak. Atau hal yang muskil sekalipun. Manakala hal yang kita bicarakan itu tidak terjangkau kita kerjakan lalu bicara kita terhenti tiba-tiba. Dilanjutkan kita saling pandang dan tertawa – Menertawakan hidup dan kehidupan ini.
Itu cita-citaku. Demi menurunkan intensitas daya kerjamu di dapur yang aku lihat perlu adanya hiburan lain. Agar hidup ini seimbang. Tidak hanya berkutat di dapur. Bolak-balik sumur dan dapur, paling jauh ke halaman menjemur baju. Balik lagi meneriaki Mbok Seno supaya menyogokkan kayu di tumang yang di atasnya berdiri dandang besar alat penanak makanan untuk pekerja. Aku ingin kau melepaskan diri dari persoalan dapur. Jangan kau kira walaupun aku orang kampung faham bahwa istri harus meladeni suami habis-habisan. Tapi kalau sampai itu menjadi penghalang untuk lebih harmonis dalam menata hidup yang bersuamikan seorang petani kapas yang terpandang kurang elok dipandang. Kau bisa beraktifitas seperti ibu-ibu yang lain, agar kamu bisa guyub, bergaul dengan mereka. Mungkin mengadakan arisan atau kegiatan lain.
Kau yang sulit bergaul tapi berusaha untuk terus beradaptasi dengan mereka merupakan kemajuan yang menyenangkan buat keluarga kita lebih-lebih untuk dirimu sendiri.
Lalu semua menjadi cair bergabung denganku membicarakan segala sesuatu untuk dirembug bersama. Suami mana yang tidak merindukan duduk bersama dengan istri yang dicintai. Sekalipun pertengkaran itu menimbulkan nganga lebar hubungan keduanya. Bukankah jurang pemisah itu bisa direkatkan kembali, dilandasi sejarah panjang kehidupan yang terbentuk dari mulai anak-anak belum lahir. Seandainya semua sudah kembali normal perseteruan hendaknya dijaga hingga tercipta suasana harmoni, saling menghormati. Menjaga jangan sampai konsleting lagi mengingat usia sudah semakin uzur.
Namun kusayangkan langkahmu yang terdengar setiap memasuki ruang kerjaku tanpa menengokkan muka apalagi berhenti. Dengan kepala yang kau tegakkan ke depan lalu menghilang di balik pintu. Sampai pernah kulakukan sesuatu bermaksud agar kau menghentikan langkah sekedar menyapaku dengan nada marah sekalipun; Kenapa pintu ruang tengah ditutup? Atau kau berteriak lain; Terus-terusan di ruangan apa tidak bosan! Barangkali letusan sedahsyat gunung Krakatau pun berangsur sedikit terdengar mereda seandainya itu meluncur dari mulutmu.