WUTHERING HEIGHTS (Rumah Badaiku)

Wahyu Puspandrio
Chapter #17

BAB XVII

Sudah lama aku bersahabat dengan kesunyian. Kesunyian telah mengajari pada diri seseorang simpul-simpul syarafnya mudah menangkap sesuatu. Peka terhadap rong-rongan dan lilitan tipu daya yang kalian rencanakan hingga mampu menghalaunya. Sekuat apapun daya keinginan kalian mengucilkan membuatku goyah. Penempaan selama itu mengkristal dengan sendirinya menjadi benih berharga. Seperti anak siput gelisah memikirkan sebutir pasir yang tertinggal dalam tubuhnya, membuat meriang seluruh organnya. Namun sang ibu menguatkan batinnya – menasehati agar tetap bertahan dalam derita yang tak mampu ia tanggung; percayalah anakku, sebutir pasir itu akan menjadi mutiara.

Bagimu kesunyian tidak bermakna apa-apa. Tapi bagi pertapa, menyingkir dari keramaian hingar-bingar kehidupan yang mengambang di awang-awang yang selalu mengitarinya akan berubah menjadi hambar dan menguap tiada arti pada segala pijakan yang dikerjakan manusia adalah hidup tanpa makna itu. Tanpa kau tahu, ia telah mengajari satu raga, satu jiwa yang menurutmu berotak miring ini. Tahukah kau sebagai seorang bapak dari anak-anak dan sebagai seorang suami dari istri yang didambakan semua upayanya mendapat sambutan, justru tidak diperolehnya. Sebagaimana semua ide yang dicetuskan seseorang mustahil orang bersangkutan menafikan keinginan karya-karyanya dihargai orang.  

Sebuah aksi sekecil apapun orang pasti menginginkan respon orang lain. Sifat bawaan manusia untuk mendapatkan pengakuan di masyarakat. Sebagai bukti bahwa seseorang itu masih hidup, eksis, pernah ada dan hidup mengikuti alur takdir yang mencatatnya sebagai warga bumi yang satu orang dengan lainnya saling berlomba menunjukkan eksistensinya. Seperti salah satu perilaku yang tidak kusengaja mendapatkan respon negative darimu. Tarikan kuat memanfaatkan momen menciptakan sebuah peristiwa yang bila tidak direalisasikan menggangguku dan terpaksa harus menunggu berbulan-bulan. Maka kumulai sesuatu. Tukang sigkal sangat tersanjung ketika kuacungi jempol hasil singkalannya bagus. Mereka mengangguk hormat kepadaku seraya mengucapkan terim kasih telah mendapatkan penghargaan yang lain dariku. Demikian juga tukang tanam benih aku bariskan melalui Pak Seno sebagai komandannya, membariskan mereka dengan aba-abanya yang membuat mereka tidak jarang membuatnya terpingkal. Bukan sebagaimana tentara menyiapkan barisan yang sudah mereka ketahui aturannya. Tapi berjalan ke sana kemari, berbalik lagi sambil berlari, gugup melakukan hal yang tidak biasa ia kerjakan. Isyarat Pak Seno terasa janggal di benak mereka, makanya mereka sulit melaksanakan perinahnya. “Cepetan baris . . . baris seperti membuat larik-larik yang akan ditanami itu lho . . . lho jangan begitu yang lurus jangan  belok-belok”.

Mereka bingung, Pak Seno juga demikian. Mengapa mesti dibariskan sedangkan mereka bukan hansip. Pak Seno melirikku jengkel. Kubiarkan saja barisan itu tidak lurus alias menggak-menggok. Tidak lama ia menghampiriku melapor barisan sudah terbentuk. Layaknya seorang komandan pleton melaporkan kepada inspektur upacara. Akupun segera menaiki satu tangga kursi naik ke atas meja dan duduk di kursi yang sudah tersedia di atas meja itu. Sambil sedikit menyampaikan sepatah dua patah kata layaknya seorang yang sedang memberi sambutan yang didengarkan undangan yang hadir tatapan mereka mengarah kepadaku – dengan mendongak itu, setengah melongo mengungkit pikirannya mereka-reka sebenarnya apa yang kukehendaki segala perilaku yang menurut mereka aneh ini. Yang kukerjakan ini selalu pada akhirnya membuahkan tawa yang mereka sembunyikan yang tak jarang mereka ledakkan. Bisa jadi mereka menyamakan seorang pengkotbah sedang menyampaikan petuah keagamaan yang aku sampaikan di hadapan para budak di perkebunan perkebunan kapas dalam film-film produksi Amerika abad 18. Seperti yang mereka pernah saksikan di televisi bergambar hitam-putih di Kawedanan.

 

Sepuluh hari usai penanaman benih tanaman mulai berkecambah. Target delapan puluh persen sudah tercapai dalam penanaman benih berarti termasuk normal. Dua puluh persen yang gagal tinggal menyulamnya yang tidak memerlukan waktu lama dan banyak tenaga serta biaya yang tidak besar.

Setelah itu aku menyalaminya dari sekian puluh tangan bergantian sampai tanganku terasa pegal. Tidak ubahnya komandan memberi ucapan selamat kepada serdadu anak buahnya menang perang. Sesekali menepuk-nepuk pundaknya sebagai ucapan selamat dari lubuk hati yang paling dalam. Hanya bedanya dalam peristiwa ini tak ada air mata yang menetes seperti prajurit-prajurit teringat teman-temannya terbunuh di medan tempur. Mereka malah cengengesan menerima uluran tanganku yang dimasa mendiang kakek hal seperti ini tidak mereka temui. Perilaku aneh menurut mereka. Sedang urat syaraf kalian melihat adegan itu sama sekali tak terangsang. Hanya cekikikan yang kalian tahan di balkon tepatnya beranda loteng kita yang denga jelas menyaksikan pagelaran ini. Pekerjaan orang sinting yang tidak perlu diperhatikan. Padahal pekerjaan ini kulakukan bertujuan supaya mereka tetap krasan bekerja di tempat ini. Mengalihkan sejenak rutinitas salah satu bentuk penyegaran agar mereka lebih giat menyelesaikan pekerjaannya. Ladang maha luas ini memerlukan tenaga mereka untuk membendung mereka tidak terserap tenaganya ke pabrik gula yang cerobong pabriknya mengepulkan asap hitam mengotori udara yang terlihat jauh di kaki cakrawala melintasi beberapa desa bagian barat waktu musim giling tiba.   

Kau dari halaman rumah mempercepat langkah menemuiku. “Ya, tapi ‘kan tidak perlu harus membariskan mereka dengan kau duduk di kursi di atas meja. Seperti Napoleon saja, kamu. Kalau ingin main ludruk jangan di sini, di Panti Budaya sana.”

Lihat selengkapnya