Menapaki tangga beberapa trap aku sampai di lobi. Trap tangga yang tidak begitu tinggi namun menambah anggun sebuah bangunan yang halamannya di terangi lampu taman. Sengaja tidak menyuruh sopir menurunkan tepat di depan lobi hotel tidak lebih berbintang dua, hanya menghindari perhatian orang.
Beberapa kali terakhir aku sering di kota ini. Mengalihkan kebosanan saat anak-anak kuliah dengan memilih hotel yang kurasakan cocok. Bagaimana aku tidak menyingkir dari rumah, berdua bersamamu dalam satu rumah tidak saling tegur. Masing-masing bernafas dipisahkan tembok. Kepalamu memikirkan aku – otakku memikirkanmu namun tidak pernah bersatu.
Berhari-hari kuhabiskan mengelilingi kota. Balik lagi ke hotel memang membosankan. Itulah sebabnya kupilih hotel paling murah tapi bersih. Berhalaman cukup luas dengan menu restorannya yang cocok untuk lidahku berikut harganya sepadan dengan menu yang kupesan. Tidak perlu memikirkan ladang. Pak Seno mampu menjaganya. Kutinggalkan beberapa uang dan nomor telepon hotel kalau ada persoalan yang memerlukanku kusuruh ke Kantor Kawedanan meminjam telepon menghubungiku. Telepon belum masuk kampung. Bisa dibayangkan kalau ada keperluan darurat menghubungi keluarga di kota atau sebaliknya orang harus menggunakan telepon Kawedanan yang cuma satu-satunya di desa. Kupesankan lagi kepadanya mewanti-wantinya agar menjaga gentong-gentong agar terhindar dari gangguan apapun.
Perut melolong untuk diisi. Kubelokkan langkah ke restoran menunda untuk masuk ke kamar. Menyeret kursi keluar dari kolong meja dan mendudukinya. Posisi meja yang terhalang sederet pot tanaman hias agak tinggi dan pilar bangunan aku merasa tenang. Menghindari perhatian orang yang sedang makan malam.
Seorang pelayan datang menyodorkan buku menu. Tanpa membaca daftar menu kupesan makanan kesukaan, dua tusuk sate komoh, sayur bayam dan sepiring nasi. Pelayan berwajah manis seragam batik berwarna kalem itu berbalik dengan cekatan meninggalkan suara empuk agar aku menunggunya. Sungguh diluar perkiraanku sebuah hotel di kota masih menjual makanan kampung. Tapi apa arti sebuah makanan – berasal dari kota ataupun dari pelosok desa terpencilpun pasti mempunyai citarasa yang khas, bisa jadi kita kesemsem karenanya. Menu yang kupesan sejenis sate, tapi daging sapi yang sudah direbus. Potongan dagingnya besar-besar dilumuri bumbu basah. Beda dengan sate yang dikenal banyak orang sate dagingnya kecil. Aroma wangi bumbu akan merebak bila tersentuh bara api. Tidak perlu berlama-lama memanggangnya cukup tersentuh bara api untuk memunculkan aromanya.
Yang kusuka dari hotel ini harga makanan sesuai dengan menu yang tersaji. Pelayanannya menyenangkan. Dan yang lebih menarik pemilik hotel mempertahankan arsitektur masa penjajahan nipon. Mempertahankan gaya asli masa lalu tanpa menambah-nambahi hiasan interior yang membuat pikiran tambah sumpek. Bersih, menghadirkan rasa nyaman. Pelayan perempuan rambutnya dikelabang dua. Citra dari sebuah peradaban dunia mode yang santun dari dekade empat puluhan mereka hadirkan kembali.
Selang beberapa saat makanan diantar ke meja oleh pelayan bersuara empuk. Tak tahan
aku segera menyantapnya. Kuangkat satu tusuk. Satu tarikan saja potongan daging itu sudah masuk ke mulut. Sesekali memandang orang lalu-lalang keluar masuk restoran hotel. Tidak sengaja pandanganku terhenti di salah satu kursi depan konter dengan satu meja bundar cukup untuk empat orang.
Memperhatikan dengan seksama ketiga manusia muda yang dalam tempo tidak terlalu lama aku kenal ketiga sosok manusia muda itu. Sebagaimana teman akrab biar direntangkan jarak perpisahan panjang kita masih dapat mengenalinya. Mungkin dari bentuk tubuhnya, pundaknya yang miring ke kiri atau mungkin cara berjalannya dapat kita kenali sosoknya.
Tentu saja perasaan sangsi dengan penglihatanku masih membayangi. Memusatkan sorot mata ke satu meja mereka makin tidak membuatku percaya dengan penglihatanku sendiri. Di depan sana, tersekat tanaman pot dan pilar ruangan mereka kupastikan tidak melihatku.
Seorang kakek sibuk sendiri memperhatikan obyek di depannya. Berdiri, mengintip dari celah rimbunan tanaman pot kemudian duduk lagi. Masih ragu dengan apa yang dilihatnya. Menggeser pantatnya pindah ke kursi sebelah untuk meyakinkan bahwa penglihatannya tidak salah. Samudro, landung dan adiknya, Wuri, sedang serius membicarakan sesuatu. Benarkah? Apakah mataku sudah buram. Ribut mengucek-ngucek mata sampai hampir tusuk sate menusuk mataku.
Tidak salah dan memastikan bahwa mereka bertiga itu adalah kalian, anak-anakku. Penglihatanku masih normal. Mengunyah kembali daging dan nasi dalam mulut yang tidak lagi kurasakan kelezatannya.