Sumber catatan yang menjadi rujukan cerita dari lembaran kertas tulisan tanganku sendiri tertetesi air yang huruf-hurufnya berubah jadi tambah ambyar atau mblobor Sulit dibaca. Sedang kacamata bacaku selalu berembun disebabkan mataku yang akhir-akhir ini sering berair. Sering membersihkan dengan saputangan yang menyita waktu – memperlambat pengetikan. Kedua aku tidak bisa lagi meralat tulisan ini. Dimana bab satu dengan lainnya tidak berurutan saling tumpang tindih. Ingin menghapus dan mengetiknya kembali bab-bab yang terpenggal agar berkesinambungan – meletakkan secara berurutan bila harus memenuhi tatacara penulisan yang berlaku pada kebanyakan karya tulis yang sudah menjadi adab dan harus dipatuhi. Rasa tak sanggup melakukannya. Penyebabnya banyak sekali. Detik dimana aku sekarang sedang memindahkan tulisan tangan ke mesin ketik ini saja tanganku sudah minta berhenti bekerja. Jemari ini makin membengkak dan ngilu-ngilu dan kerap bergetaran tanpa perintahku.
Kendati sering putus asa dibuatnya salah menulis nomor atau huruf, lebih-lebih kalimat harus mengetiknya lagi dari awal manalah mungkin kulakukan. Aneh, keinginan menyelesaikannya begitu kuat.