Lihatlah pagi begitu cerah. Tanaman kapas tumbuh subur, angin terasa mati namun udara pagi menyegarkan. Pemandangan yang kusaksikan bertolak belakang ketika tanah masih terbengkalai, usai panen yang gagal. Ladang memperlihatkan wajah aslinya. Masa dimana keputusasaan menyelimutiku. Sisa pohon kapas kubiarkan meranggas. Sebagian roboh diterjang angin pusar dari utara yang sering kita saksikan terbang di bawa angin bersama debu berputar-putar ke selatan. Permukaan ladang bergetar karena panas matahari yang memantul dari permukaan tanah. Jalan tersembunyi muncul kembali saat panen usai. Tempat dimana kau dan aku menghabiskan masa kecil berkejaran bersama teman-teman sambil mencari buah ciplu’an.
Ternyata kalau di runut-runut perjalanan kita mencatat banyak pengalaman. Jalan berliku di kiri-kanannya pagar hidup menjadi saksi dan sungai kecil yang setiap pulang bermain dari kampung sebelah kita melompatinya lalu di hadapan kita terpampang luas persawahan. Kita lalui galengan persawahan yang sering membuat kita terpeleset dan jatuh. Di atasnya sering kita menyeimbangkan tubuh agar tidak terjatuh ke sawah. Tawa kita berderai namun tak jarang tiba-tiba terdiam sunyi merambat bersama senja yang turun. Di usia kita yang makin menua kenangan itu terkadang muncul. Sering aku dibuatnya termangu mengenangnya.
Ternyata perjalanan hidup sejak mulai kecil sudah dihadapkan persoalan yang berat. Ayah meninggal pada usiaku masih tujuh tahun. Ambulan yang membawa jenazah ayahku diturunkan dan membawanya ke rumah. Bukan rumahku yang sekarang warisan kakek. Tapi rumah ayahku sendiri. Bersamaan jasad ayah diturunkan dari ambulan tangis nenek membelah suasana berkabung bertambah dalam. Aku si kecil melayangkan pandang ke nenek yang menjerit histeris tidak berjalan ke rumah ayah tapi bertolak ke rumah nenek sendiri. Sedang orang-orang berebut menggotong jasad ayah ke rumah. Pandanganku melayang ke nenek yang histeris dengan tangis dan jasad ayah yang ditururnkan dari ambulan bergantian dengan pandangan yang tidak kumengerti. Walaupun aku tahu ayah meninggal tapi apa arti meninggal itu aku belum faham. Teman-teman yang usianya di atasku mencandaiku. Bahwa ayahku sudah mati. Kalau aku sudah tidak punya ayah lagi dll. Biar aku dicandai seperti itu aku tidak tersinggung, teman lain justru membelaku. Dia tidak terima mencandaiku seperti itu.
Banyak orang datang memenuhi halaman. Sore yang kuingat waktu itu mendung, menambah suasana berkabung makin terasa. Baru kumengerti ketika SMP di tinggal mati orang tua muncul perasaan nelangsa. Sedih melihat ibu pergi pulang dari kerja yang segera menemuiku menghiburku dengan caranya. Membelikan sesuatu yang aku sukai. Sedang kakek sibuk dengan sapi-sapinya sebelum bisa mengambil alih kembali ladang dari ayahmu ke tangan kakek. Beliau sering menjengukku selesai bekerja bahkan menyempatkan menghampiri rumah menemaniku sebentar kemuaian pergi lagi. Aku yang suka bermain sendiri sampai jauh. Di luar menaiki sepeda. Sampai kulitku gosong terbakar matahari.
Kembali ke balkon sewaktu penduduk tidak bekerja di ladang kita bisa saksikan di jalan itu, bergerombol pergi pulang selesai bekerja sebagai buruh derep panen padi di desa lain. Gerak mereka terlihat lamban, hilang terhalang gerumbul semak dan muncul lagi. Begitu seterusnya sampai mereka menjadi titik-titik yang bergerak-gerak terhalang pendaran fatamorgana yang ditimbulkan musim kemarau saking teriknya, sampai titik-titik itu lenyap sama sekali.
Masih segar diingatan sesuatu yang mengejutkan, membuatku benar-benar kaget. Begitulah pancaran wajahku seandainya kulihat di cermin. Dengan bantuan teropong, keker, yang sering kubawa ke ladang, kulekatkan rapat-rapat di mata dengan tidak lepas-lepas ku arahkan ke depan rumah – di jalan yang tidak tersiram hujan beberapa hari mengepulkan debu dari bendi dan dua mobil di belakangnya tepat berhenti di depan rumah. Menyisakan debu mengepul di bawa angin ke arah ladang. Ayahmu turun dari bendi diikuti ibumu menunggu uluran tanga Sais tergesa-gesa menyusul repot dengan jaritnya. Kalian bertiga menghambur ke pelukan mamimu bergantian mencium pipinya. Sebentar lagi pasti engkau berpelukan dengan kedua orang tuamu dengan wajah sedih; misi belum menunjukkan titik terang.
Dari kejauhan di atas Headler sepeda motorku semua terus kusaksikan. Dapat kurekam dengan jelas dengan keker dengan jangkauan berkilo-kilo masih nampak jelas obyek di depan rumah. Tapi siapa tiga perempuan berambut pirang dan seorang lelaki turun dari mobil dan Wuri memperkenalkan kepadamu. Tiga perempuan demikian ceria seakan tidak merasakan udara gerah. Pasti malam nanti meja makan berubah menjadi ajang perdebatan. Topik apalagi menghias makan malam kita nanti. Aku tak takut lagi.
Perasaan terasa ringan walaupun rasa was-was pada bank yang kugunakan sebagai penyimpan emas dan gentong berisi uang itu. Kepercayaan masyarakat kepada bank masih minim. Budaya menyimpan uang di bawah bantal masih melekat kuat. Jasa bank bagi mereka hanya akal-akalan orang pintar yang akan menggondol pergi uang mereka. Akupun sebenarnya enggan mendepositokan uang sebesar itu. Bank bagiku sebagaimana sangkaan penduduk desaku. Kita setor uang kepada manusia yang belum kita kenal. Hal yang tidak mungkin dengan alasan apapun mereka bisa menerima. Saat kutulis kisah ini mulai bercokolan bank tumbuh di kota-kota provinsi dan kabupaten.
Sungguh diluar nalar kekuasaan dalam dua periode yang diemban pemerintahan Orde Baru mampu menumbuhkan banyak bank dengan dalih menopang aktivitas ekonomi. Naluriku mulai ikut berbicara melihat bank-bank mengiming-iming berbagai produk untuk menjerat nasabahnya. Menawarkan bunga rendah, pasti ada tujuan tertentu tanpa memeprtimbangkan ketentuan pengembalian ke bank sentral sebagai penyuntik dana. Walaupun itu sangat membahayakan kelangsungan bank dan nasabah sendiri manakala dihubungkan produktifitas dan infrastruktur yang masih lamban pengadaannya.
Bagi bank uang serupiah harus menjadi sekian kali lipat untuk digolangkan. Kita tidak menafikan memang demikianlah tujuan bank dalam mencari untung. Tapi mana kita bisa percaya bank yang dikelola oleh kebiasaan yang hidup dan lahir dari kesengsaraan yang baru siuman dari kenyataan sejarah yang menyengsarakannya. Muncul lembaga keuangan secara bersamaan tidak jauh persamaannya dengan kecambah yang mewarnai permukaan ladang dari benih yang kusebar. Sedang hukum belum diterapkan secara benar. Hanya satu tujuan yang menjadi targetnya: Mengeruk sebesar-besarnya keuntungan tanpa mempertimbangkan kepentingan nasabah. Yang kita bisa tebak endingnya dengan jelas yang pada saatnya membawa uang yang terkumpul membawanya kabur. Dampak yang lebih jauh ditimbulkannya bank-bank tersebut tidak dapat mengembalikan uang yang telah dikucurkan bank sentral tidak lain di sini adalah Bank Indonesia alias BI.
Menanggung dampak dari kredit macet bank-bank yang memberi kelonggaran kredit yang sengaja disebar di perusahaan-perusahaan yang tidak mampu mengembalikan pinjaman yang bisa jadi perusahaan-perusahaan itu kepunyaan personil-personil bank itu sendiri. Dengan rekayasanya bisa mendapatkatkan kucuran kredit yang akhirnya dengan akal bulus mereka beralasan bahwa perusahaannya pailit. Siapa yang dirugikan dalam hal ini? Tidak lain RAKYAT yang menanggung ulah mereka. Sehingga kehidupan mereka tetap miskin. Lalu mengapa aku tanpa ragu menyimpan uang di bank? Pertama menghindari jarahan kalian yang sewaktu-waktu kutingglkan rumah kalian bisa saja dengan cara yang kalian lakukan bisa membawa uang dan emas itu tidak perduli apa akibat yang menimpa.
Pak Seno sudah berkalang tanah. Jasadnya digerumuti cacing tanah. Tidak ada yang bisa diharapkan lagi darinya. Dan aku tidak tergiur iming-iming bunga rendah dengan berbagai hadiah. Cukup di bank pemerintah walaupun bunganya rendah dan simpanan selamat.
Kebiasaan memeriksa bawah dipan tempat tidurku sudah kubuang. Kebiasaan yang menyiksaku setiap meninggalkan ruangan tidur dan ruangan lain sering kulihat berkali-kali meyakinkan diri – apakah ada orang atau tidak di bawah kolong ranjang – sifat curiga yang melelahkan.
Sore sepulang dari ladang tadi terus membersihkan badan dan masuk ruang kerjaku lewat ruang makan. Suara gemberah mendadak terhenti sewaktu kaki melangkahi tangga. Aneh kalian tidak memperkenalkan orang baru yang berada di rumah kita. Ayah ibumu sudah tidak terdengar suaranya mungkin mereka sudah pulang. Aku sengaja menunduk untuk mengingatkan bahwa telah terjadi perundingan dahsyat membicarakan warisan di sebuah hotel, di kota yang dihadiri para diplomat dengan biaya yang tidak sedikit. Para utusan itu sekarang sudah di rumahku menikmati musim liburan panjang. Di rumah pemegang warisan yang sebentar lagi kalian koyak menggunakan taring kalian.
Langkah kubikin mantap menapaki anak tangga pura-pura tidak tahu kalau ada tamu sampai mereka menghentikan obrolannya. Orang baru mungkin juga teman kalian atau siapa mereka aku tidak tahu, memperhatikan sosok tua yang masih menyisakan kegantengan ini. Pasti akan terucap dan berbisik “siapakah dia?” Tapi Wuri mengambil inisiatif dari kegoblokan kedua kakaknya – membiarkan aku lewat bahwa dengan sikap seperti itu kalian tidak berniat membuat gencatan senjata sedikitpun. Langkahnya membuntuti di belakangku menaiki tangga tergopo-gopoh dengan perasaan bersalah.
“Papi, jangan naik dulu kenalkan dengan teman-temanku dari Netherland.” Terpaksa menghentikan langkah tetap dengan menatap ke depan tanpa membalikkan badan. Sebagaimana seorang aktor memantapkan wibawa seorang bapak sedang berselisih faham dengan kalian. Bagaimanapun aku harus menghargai mereka. Membalikkan badan menatap tajam Wuri, sedikit merubah wajah menyunggingkan senyum agar tidak kentara diantara kita ada persoalan akut.
“Mereka ingin menghabiskan masa liburan disisni, bolehkan?” Rengeknya sambil menggamit lenganku menuruni tangga. Perempuan goblok mana mungkin aku harus menyuruhnya pulang ke negerinya. Tapi, bisa saja dia tambah pintar mendatangkan berbagai taktik untuk mendapatkan warisan sampai membikin pusing. Membiarkan membawaku ke depan mereka. Respon mereka cepat berdiri menyambut kedatanganku. Seorang perempuan muda mengulurkan tangan bernama Helen. Yang kedua Laura. Menghentikan ucapannya sebentar dan menyambungnya cepat Gilbert. Laura Gilbert. Perempuan ketiga memakai kaos kutang. Lengannya terbuka dan pipih – tengkuk terbuka rambut yang seluruhnya disatukan ke atas menghalau gerah dan dijepit menyisakan rambut-rambut putih yang membuih di tengkuknya, setinggi aku dengan tonjolan buah dada sedang, tidak besar, tapi juga tidak terlalu kecil, sesuai dengan lengkung pundaknya. Proporsonal. Pundak yang kubayangkan kerangka sayap layangan yang kulengkung-lengkungkan agar seimbang kedua sayapnya sebelum membentuknya dan menempeli kertas, waktu aku kecil. Bentuk pundak yang memukauku milik seorang yang kuperkirakan dua puluh Sembilan tahunan usianya. Persis tengkukmu menyisir rambut yang kau satukan ke atas kau tahan dengan penjepit – hingga tengkukmu mengeluarkan anak-anak rambut yang membuih dengan tidak sadar aku sering meemelukmu dari belakang.
“Ini apa to, panas-panas begini kok . . .” Karena gerah kau berbalik mendorongku sambil gira-girap menghindar. Akupun melepaskan pelukan, bersiul meninggalkanmu untuk mengalihkan rasa “mau”ku.
Mengundang rasa terpesonaku dengan menanyakan nama – ia memperkenal diri dengan suara yang lembut dan ceria tidak jelas kudengar sambil tetap kujabat tangannya. Ia mengulangi dibantu Wuri. Memperjelas.
“Yoana Tuti, Papi?” Melirikku. Seolah tahu aku sengaja mengulur.
“Tuti? Seperti nama orang kita.”
Wuri menjelaskan kepada perempuan itu dengan bahasa Belanda bahwa nama belakangnya seperti nama orang Indonesia. Yoana terpekik tidak percaya mengerungkan kening dengan menahan tawa. Kujawab “yes” kalau benar adanya. Sampai ia tergelak renyah giginya sempurna dan putih memperindah dagunya. Lalu kupindahkan jabatan tangan ke lelaki jangkung kurus, muda, bernama Thomas.
Ingin cepat meninggalkan tempat tapi sosok Yoana memaksaku mengurungkannya. Kupersilahkan mereka duduk kembali dengan bahasa Inggris bahwa saya bapaknya Samudro, Landung dan Wuri. Mereka manggut-manggut. Sampai Wuri muncul dari kamarnya lepas dari penglihatanku kalau dia sudah tidak di sampingku. Menambahkan dengan suara cememplingnya kalau aku juga melukis. Mereka saling berpandangan mendengar penjelasan Wuri. Manggut-manggut lagi – kagum. Berbarengan engkau memanggil Wuri dengan keras. Tanpa ada keinginan mengurangi volume kalau sedang ada tamu. Kau meneriaki dia sekali lagi memberitahukan kalau jagung rebus sudah matang. Yoana terlihat penasaran dan bertanya, apa dirinya bisa melihat karya-karyaku? Kupastikan menjawabnya “bisa” tapi tidak sekarang dengan menambahi aku sedang capek habis dari ladang. Tidak masalah, kapan saja yang penting bisa melihat karya lukisku. Menebar senyum lega sejenak ke sekeliling lalu aku pamit memanfaatkan bahasa Inggrisku yang glothak-glathuk tidak lancar – mereka mengangguk hormat.