Kekawatiran panen gagal lagi menghantuiku. Hujan yang terus menerus turun walaupun dapat dihalau dengan tersedianya parit yang menghubungkan satu dengan lainnya ke dataran rendah, membawa air menyerahkan pada curah yang menganga di tengah ladang. Ingin rasanya memayungi tanaman dengan sayap yang kukembangkan dengan rengkuhan kehangatan dari suhu tubuhku pada tanaman yang kedinginan. Terbayang ketika induk ayam melindungi anak-anaknya dari sambaran geledek dan guyuran hujan, sang induk mengembangkan sayapnya, merengkuh, menyelimuti dengan rengkuhan kasih sayangnya. Kebiasaan meneriaki Pak Seno pada hujan yang makin melebat agar memeriksa parit dari sampah yang menyumbat aliran air kini sudah tidak bisa kulakukan lagi. Ia sudah berkalang tanah.
Kutinggalkan balkon yang sejak tadi kita ngobrol sambil menikmati panorama ladang yang dalam segala cuaca meninabobokan kita. Keluar menuruni tangga dengan gugup kukenakan jas hujan. Wuri meneriakiku saat aku menstater Headler dari balkon ditemani tamu kalau ia tidak ikut ladang. Aku tidak sabar untuk segera di ladang ikut merasakan dingin sebagai rasa empati keterpanggilan hubungan batin seorang petani melihat tanamannya digambyor hujan tanpa ampun dari langit gelap bulan September.
Baru hendak keluar halaman Yoana menuruni tangga dengan tergesa memanggilku membiarkan tubuhnya diguyur hujan.
“Tunggu. Boleh aku ikut dnganmu? Air hujan di sini hangat.” Teriakan suaranya yang memohon – berlari dengan menyingkapkan rok tinggi-tinggi, langkahnya menghindari genangan air di halaman. Serta merta aku menginjak rem menunggu ia mendekat.
Alasan apa harus mencegahnya dia yang sudah kuyup dibasahi hujan dan kau bisa melihat sendiri dia yang langsung nyengklak ke boncengan. Melihat tingkah dari perempuan ini, teman-temannya hanya tersenyum-senyum menyaksikan. Sedang kau membisikkan sesuatu ke telinga Samudro mengerling ke arahku tidak senang.
Aku faham dalam pandangan kita hal seperti ini tidak pantas. Tapi mencegah seseorang yang hidup dalam budaya faham kebebasan, dalam kapasitas menempatkan aturan yang dilingkupi cara berfikir modern – dengan segala kungkungan yang mengelilingi kita, dalam adat ketimuranpun pasti orang yang bersangkutan tidak dapat menolaknya. Lihatlah dia mencengkeram jas hujan yang kupakai dengan kedua tangannya – sengaja membiarkan wajah menengadah ke udara seolah titik-titik hujan yang menimpa wajahnya adalah terapi yang didapat dari liburan yang akan menggenang dalam memori tidak bisa dihapus waktu. Air hujan di sini hangat katanya. Kau dengar sendiri demikian renyah kalimat yang keluar dari mulutnya. Yang mestinya kelincahan seperti itu muskil terungkap pada diri perempuan seusia dia. Kalianpun mereka-reka peristiwa apa yang sedang terjadi pada dirinya. Kita dapat menerkanya bahwa dia sedang mengalami guncangan dalam hidupnya hingga ia tidak bisa mengontrol sifat kekanakannya.
Dia bukan sanak saudara kita, dia dari benua yang berbeda. Jarak geografis yang terbentang sulit mendalami perilaku seseorang. Mungkin yang menyebabkan dia yang cepat berdaptasi sifat ketebukaannya. Menghilangkan sekat perbedaan bahwa dia Eropa kita Asia. Atau penyebabnya masalah lain yang kita tidak bisa ukur dengan rabaan pikiran.
Kita lupakan saja persoalan itu. Harapanku kau menghilangkan rasa curigamu. Aku yang kini memboncengnya walaupun sudah sampai beberapa titik kami turun dan aku mengangkat sampah penyumbat parit selama itu aku belum membuka mulutku. Entah apa yang membuat mulutku kelu. Ketakutan tanpa alasan pada lelaki yang sudah ia ketahui beranak-pinak ini. Menunggu ia menaiki boncengan ketika hendak melanjutkan perjalanan sambil mata melihat-lihat parit yang tersumbat sampah yang mengganggu kelancaran air agar tidak menggenang pada tanaman yang tidak banyak memerlukan air ini. Kaki panjang yang ia miliki memudahkannya mengangkangi selokan membantuku mengangkat sampah. Aku melihatnya ngeri seandainya kaki indah itu terpelest dan terkilir dan kubayangkan mungkinkah aku memijatnya di tengah kebun yang pohonnya sudah setinggi kami. Memijit kaki indah di tengah kebun yang disaksikan rimbunan tanaman kapas dan hujan. Hemm alangkah . . .
“Mengapa kau tidak bicara, apakah saya mengganggumu?” Renyah suaranya di telingaku. Aku hanya menggeleng. Ia tidak bisa menghilangkan rasa kagumnya – kebun ini begitu luas. Menurutnya aku tergolong manusia hebat, orang yang berfikir cemerlang. Aku termasuk orang berbahagia hidup bersama keluarga mendiskusikan segala sesuatu dengan terbuka. Ia menambahkan dengan ladang seluas ini bisa membuka usaha baru untuk berekspansi pada bisnis lain. Dia meneriakiku dekat telinga kalau hujan makin melebat dengan mengimbuhi bahwa aku punya anak-anak yang dapat diandalkan. Mereka semua diperguruan tinggi dapat mempraktekkan ilmunya pada sektor usaha yang akan dibuka.
“Apakah saya boleh memelukmu, saya takut jatuh.” Lagi-lagi tak bisa menolaknya. Kubiarkan saja ia melingkarkan kedua lengannya memeluk tubuhku. Tidak bisa kupungkiri aku merasakan hangat tubuhnya dalam pelukan bertendensi takut jatuh jalan yang memang licin. Ingin membuka mulut membeberkan kenyataan yang sebenarnya soal rumah tanggaku tapi apa gunanya. Kuhentikan sepeda motor tanpa kusuruh ia sudah melompat dari boncengan lalu mengangkangi selokan mengangkat sampah melemparkan ke tepian – air meluncur deras tidak mampat lagi. Hatiku juga mencair tidak menggumpal lagi.
Aku pandang dia untuk menelusuri ketulusannya, membantu sampai sejauh ini harus berhujan-hujan di tanah beletok dikala hujan tidak turun tanah berubah jadi keras dan tajam. Ia menatapku penuh tanya. Ingin tahu makna pandanganku yang menurutnya absurd dan dengan mata keheranannya ia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“Kamu lincah bagai kijang, gesit enerjig mengingatkan aku pada seseorang.” Kataku cepat tidak berkedip menatapnya. Ia pun menyambar dengan keriangannya menanyakan siapakah yang kumaksud. Kujawab bahwa itu ibunya anak-anak ketika seusia dengannya. Ia mengangguk-anggukkan kepala mengakui kau menurutnya wanita cantik. Seorang ibu yang bijak, sangat memperhatikan anak-anak. Aku turut membenarkan. Karena ia kuyup oleh hujan, kutawarkan jas hujan yang kupakai ia menolak menyandarkan pantatnya ke boncengan berdampingan denganku. Pandangan kami lurus mengikuti selokan yang makin samar ujungnya terhalang hujan yang tidak kunjung berhenti.
Dia dan aku terbawa suasana, hujan yang turun, tubuh kurasakan menggigil dan saling hat-hati mengeluarkan pernyataan agar tidak salah apalagi membuat dia tersinggung – sebentar itu kami terdiam. Dalam kediaman yang cukup lama ia terlihat murung. Aku jadi tidak enak sama Pak Seno yang kurasakan hadir di ladang – dalam hujan seperti ini ia tenggelam direrimbunan kebun menghalau air yang mampat. Manusia penuh jasa yang telah kumakamkan di pekuburan baru yang kupersembahkan khusus bagi pekerja – agar Ruh-nya tetap mengawasi kebun dari tangan jahil yang mengganggunya.
Meluncur pertanyaan mengapa mendadak diam. Ia balik bertanya dalam pertanyaan yang sama. Aku kelimpungan menjawab. Sedang jarak antara dia dan aku sudah tidak terpisahkan. Bahuku dan bahunya bersentuhan sejak tadi. seandainya aku menolehkan wajah kepadanya wajah ini akan menyentuh wajahnya.
Kuulangi pertanyaan yang sama dengan menambahkan diamnya mengandung beban yang menggelantung di wajahnya. Dia terkesiap mendengar pernyataanku. Dia berusaha tersenyum. Senyum yang dipaksakan tetap saja hambar. Perempuan dewasa yang sudah mengalami banyak peristiwa dalam hidupnya walaupun usianya setengah dariku, hal itu kupastikan dia yang dalam diskusi tempo hari memperlihatkan kematangan seorang Lady.
Dan mengejutkan dia balik menyatakan aku dalam pandangannya lelaki yang dalam kehidupannya menyandang beban berat terlihat dari sorot mataku yang berat. Mata yang mengungkapan kegalauan seseorang. Aku menarik nafas dalam dan kehembuskan – melempar pandang ke langit mendung dan memandang perempuan di sampingku kembali. Mendengar pernyataannya yang tanpa pertimbangan lain, bahwa aku bisa saja tersinggung dan marah dari pantauannya tentang diriku yang tidak harus ikut mencapuri urusan pribadiku. Jelas dia ingin menyatu denganku. Lalu dia menambahkan apakah menjadi keharusan untuk kita mengungkapkan kesedihan kita masing-masing? Ia menolehkan wajah kepadaku sebelum mengakhiri kalimatnya. Menatapku lekat-lekat.