WUTHERING HEIGHTS (Rumah Badaiku)

Wahyu Puspandrio
Chapter #22

BAB XXII

Di ruang kerja bersamaan hujan mereda, menepis jauh keenggananmu menemuiku, kau muncul melangkah tertunduk duduk di depan mejaku. Kedatanganmu mengejutkan. Duduk di depan meja menatapku lembut dengan senyum yang kau kulum seperti itu memaksa sorot mataku meredup. Jauh dari perkiraanku penampilan seperti ini kau lakukan semenjak krisis maha panjang sampai anak-anak dewasa.

           Lama kau tidak membuka mulut. Gambaran putri malu yang ingin mengemukakan sesuatu sambil memandangi jemarimu yang kau remas-remas. Kuperhatikan kau ingin menyampaikan sesuatu sebagaimana yang kau lakukan ketika kupanggil untuk mengambil uang belanja dengan segala protes yang kau lontarakan.

Karena kau diam, aku juga diam. Menghela nafas kusandarkan punggung dengan tetap memperhatikan kamu. Sebagimana seseorang menunggu lawan kongsinya yang duduk di depannya menjawab jawaban perihal harga nominal yang ditawarkan. Aku menunggu apa yang hendak kau katakan dengan memandangmu penuh tanya dengan senyumku.

           “Mengapa itu kau lakukan di depan mataku.” Lirih suaramu tidak bersemangat. Membuka pertanyaan dengan menumpukan kedua lengan di atas meja menghalau gugup. Menunggu jawabanku, menatapku seolah aku seorang anak yang telah melakukan kesalahan dan sang ibu ingin mendengar penjelasan apa yang telah diperbuat tanpa harus memarahi.

           Kita saling pandang dan tidak bersitegang. Pertanyaan yang bagiku menusuk. Karena penyampaian pertanyaan yang tenang membuka pikiran kalau kau tidak ingin berselisih. Dari tatapanmu yang setenang bulan itu kau ingin mengajak berdiskusi menyelesaiakn persoalan dngan kepala dingin. Hal yang kupandang sebagai satu kemajuan – aku mengucap syukur dalam hati. Tapi jawaban apa yang harus kulontarkan dari mulut ini.

Kejadian gamblang Yoana yang langsung nyengklak di atas boncengan, sedang kau tahu dengan mata kepalamu kalau itu bukan salahku. Menolaknya dengan berbagai alasan apa dayaku. Dia yang sudah basah kehujanan, siapapun orangnya tidak mampu menolaknya. Dan tidak masuk akal sehat. Lha wong dia sudah kuyup kok. Ingin kulontarkan pernyataan itu tapi tidak kesampaian – tersekat di tenggorokan.

Lihat selengkapnya