WUTHERING HEIGHTS (Rumah Badaiku)

Wahyu Puspandrio
Chapter #23

BAB XXIII

Berlatar belakang sejarah yang membingakainya sampailah di sebuah kota, dimana kita mempertaruhkan beban berat seluruh rakyat Indonesia kendati lepas dari penjajahan ke bentuk penjajahan lainnya. Sebagaimana ladang baru yang harus digarap perlu mendatangkan investor. Mental buruk bangsa ini mencuat lagi ke permukaan. Mudah menyerah, ingin segalanya cepat mendatangkan hasil. Tidak perduli hasil pembangunan bangsa hanya karbitan, mengabaikan akar sejarah yang pernah menopangnya pada kehebatan pendahulu. Pilihan telak yang dijatuhkan kepada para rentenir menepis pertimbangan ide para pejuang terdahulu bahwa kita harus berdri di kaki sendiri adalah sesuatu yang absurd. Bagi Jakarta di tahun 1977 ide untuk memacu kreatifitas untuk produktif di segala lini kehidupan sangatlah muskil. Belum lagi minimnya gagasan yang harus ditopang mental yang kuat untuk memproduksi sesuatu hanya igauan mimpi di siang bolong. Maka dimulailah nego hutang-piutang dalam jangka yang menurut para ahli menyengsaran anak cucu.

           Kaki tersaruk-saruk memasuki halaman luas dengan menenteng koper sebelum mendapatkan hotel atau penginapan untuk kutinggali dalam waktu yang belum kutentukan waktunya. Keputusan meninggalkan Kalipang kuambil setelah semua persoalan ladang selesai. Panen yang cukup berhasil dengan membiarkan ladang tidak ditanami tidak membuatku kawatir. Justru tanah beristirahat dari aktivitas akan mengembalikan unsur-unsur kesuburan tanah pulih kembali. Surat-surat tanah berikut buku rekening bank dan tidak ketinggalan lukisan belum selesai sosok Halimah dengan pisau yang menancap di jantungnya. Semua berada dalam koper yang sedang kubawa.

           Biarlah tanah istirahat dari kejenuhan produksi. Panen berhasil sangat baik diluar perkiraanku. Kendatipun hujan yang jatuh terus menerus bisa menggagalkan panen. Memang itu di luar nalar tapi alam menghendaki lain. Ketika alam mendukung keinginan manusia sesuatu yang baik dia akan mensuportnya dan tak aka nada yang mampu menghalinya.

Dengan menyeret-nyeret koper nasib pada kakek tua di kepanya bertengger kopiah hitam yang selama itu tidak kugunakan ritual keagamaan yang kau selalu anjurkan dan tak kujalankan. Bersamaan nafas yang bikin dada turun naik kubelokkan langkah ke kedai tempat orang-orang berambut gondrong sedang ongkang-ongkang ngobrol. Obrolan yang meruncing kuamati dengan pendengaran yang mulai berkurang. Mereka tenggelam dalam persoalan budaya, kesenian yang merembet ke soal politik yang mengungkung mereka.

Lihat selengkapnya