Sebengis apapun perseteruan kita aku harus mengirim telegram kepadamu. Apalagi kalau mengingat sebelum aku berangkat kau memperhatikan aku berkemas kau terus menyelidik dan terkesan merayuku supaya aku mengurungkan niat kepergianku. Dengan terus mengajakku bicara karena hati sudah mengkal tidak kujawab sekatapun.
“Kalau saya ngotot tentang warisan itu bukan karena apa, supaya jelas pembagiannya. Dan surat-surat wasiat itu penting bagi anak-anak.” Kau cepat mengakhiri permintaanmu. Kulihat kau menahan batuk yang kau tahan. Lalu berusaha melepaskan batuk itu tapi tidak keluar. Kau mengurut-urut dada. Kujawab saja permintaanmu dalam rongga dada ini; kerena aku sudah mendekati mati kau mendesakku. Terus dimana aku meletakkan dendam atas perilaku bapakmu dan ibumu yang hampir saja dalam peristiwa ’65 itu keluargaku habis di muka bumi akibat ulah orang tuamu. Seandainya kau jadi aku kupastikan kau akan menyimpan dendam ini kupastikan akan melestarikannya dengan rapi dalam hati dan ingatanmu.
Upaya melarangku pergi tidak menemui hasil – aku terus sibuk memasukkan pakaian dan barang yang kuanggap perlu untuk dibawa. Kau pikir aku sudah bertekat untuk pergi dan aku tidak menjawab semua pertanyaan dan himbauan darimu, kau meninggalkan ruangan dengan perlahan mengangkat tubuhmu dari tempat dudukmu perlahan sambil memegangi dadamu. Masih sempat kau tanyakan kepergianku dan kubaca pertanyaan itu mencegah dengan sangat agar aku tidak meninggalkamu. “Jadi, kamu berangkat sore nanti dengan kereta senja?”
Hampir mulut ini terbuka menjawab pertanyaanmu yang halus penuh pinta agar aku bersuara. Karena mulutku terlihat terkunci dan sikapku yang acuh, sibuk berbenah, kau dengan tanpa sepengetahuanku meninggalkan pintu – tinggal kusen pembingkai pintu melukiskan kanvas kosong kesunyian. Perasaan tiba-tiba kehilangan sesuatu menyentakku. Sampai ku hentikan berbenah memandangi pintu dimana kau tadi berdiri. Sama sekali tak menyisakan jejakmu.