Keliling kota menggunakan taksi siang malam hanya pemborosan. Berniat mencari hiburan malam urung dengan sendirinya manakala terbayang seorang kakek berkumpul dengan kaum muda dipertunjukan musik rock. Kesasar di pagelaran musik hingar bingar di Surabaya di bulan-bulan yang lewat. Kalau mengingat itu aku malu sendiri. Jangankan berniat meninggalkan kamar, baru saja aku terhuyung memasuki toilet sampai tanganku menggapai-gapai mencari pegangan dan tersangkut di gagang pintu menimbulkan suara gemberodak pintu menghantam tembok terdorong badanku yang limbung, dengan tanganku sebelah memegang kepala yang kurasakan mendapat hantaman berulang-ulang serasa berputar sampai tubuh terpelintir.
Kupaksakan untuk sadar. Dan aku memang sadar. Bangun dari serangan penyakit yang tidak tahu apa penyebabnya. Kalau mengingat aku tidak pernah jatuh kepala terbentur. Meloncat dan menanduk bola ke gawang memanfaatkan umpan kawan kemudian jatuh bergulingan di tanah yang tidak jarang aku mencetak gol-gol indah dengan tandukan kerasku. Aku yakin bukan itu penyebabnya.
Merangkak ke arah ranjang menggapai-gapai permukaannya lalu menggelosorkan diri di atas kasur. Memijiti kepala memaksa mengambil nafas dan kukeluarkan – kulakukan berkali-kali dan berusaha tersenyum. Senyum yang kupaksakan untuk menghibur diri ternyata aku masih bisa bernafas. Bangun lalu kutidurkan lagi – begitu berulang-ulang di atas ranjang memastikan bahwa aku masih sadar – lebih jauh lagi meyakinkan diri aku belum mati.
Maut sering mengintipku. Kurasakan dia mengendap-endap di bawah ranjang kala aku sedang tidur. Mengintaiku menunggu celah di antara keterjagaanku yang terus dalam pantauan. Seperti aku terjatuh tadi dia menyerang kepala menelusup ke pori-pori yang kurasakan tusukan belati mengarah ke syaraf otakku membuatku oleng. Waspada serangan yang tiba-tiba terulang kembali kubuka gordeng dalam malam berbaur pernik lampu warna-warni kota menghias jalan lurus tepat berada di depan hotel. Dalam terang lampu kamar hotel orang di halaman dapat melihatku dan aku juga dapat melihat tamu datang dan pergi.
Terdengar ketokan pintu. Segera melangkah ke pintu membukanya, seorang pelayan sudah membawa menu makan malam di atas dolly bertaplak putih bersih amplop telegram. Kusuruh masuk dan meletakkan di meja. Pelayan itu mengucapkan selamat makan malam sambil berlalu menutup pintu.
Belum ada niat makan. Tangan tiba-tiba bergetaran meraih amplop telegram dan membuka lalu mebacanya bahwa kau dirawat di rumah sakit. Yang mengirim telegram Landung.
Berusaha menghilangkan rasa terkejut sampai tidak terasa tangan menggapai koper dan membukanya. Kukeluarkan sosok Halimah dan mendirikan sandaran untuk meneruskan lukisan sosoknya yang belum selesai. Aku tidak memikirkan lagi sepenting inikah menyelesaikan lukisan Halimah di sebuah hotel berbintang. Tapi itulah yang terjadi sambil tanganku bergerak membuka tube cat mencapur warna dan menyapukan kuwas, menggoreskannya di bagian-bagian yang belum rampung menurutku. Kendati pikiran melayang ke Kalipang sebisa mungkin harus menyelesaiakan yang bagiku menyimpan kenangan tersendiri. Walaupun aku dan Halimah tidak melakukan hal yang kau curigai hingga kau menusuk jantungnya dalam lukisan itu. Ide spontan muncul waktu itu meneruskan aksimu – kulukis saja ingatan gerak tanganmu dengan pisau yang kau ayunkan menusuk jantungnya. Sungguh aneh wajah dengan tusukan pisau tepat di jantung tapi tidak menunjukkan ekspresi kesakitan. Kubiarkan saja wajah Halimah dengan pose wajah setenang kolam dengan tangan seorang perempuan menusukkan pisau dapur ke jantungnya. Sedangkan lukisan asli dengan pisau yang masih menancap di kanvas masih kusimpan di studio – di Kalipang.
Tidak terasa aku sudah sebulan di Jakarta. Pasti selama itu kau kutinggalkan selalu memikirkanku dan tentu saja anak-anak kita.