WUTHERING HEIGHTS (Rumah Badaiku)

Wahyu Puspandrio
Chapter #26

BAB XXVI

  Di gerbong kereta menuju Surabaya berikut telegram kedua yang kuterima siang tadi di hotel masih dalam genggaman. Untuk meyakinkan isi telegram yang sudah berkali-kali kubaca ini, seorang pemuda di sampingku terkejut akan permintaanku agar membacakan telegram yang kuberikan kepadanya. Aku menafsirkan tatapanya yang tidak percaya akan penampilanku. Seorang penumpang naik kereta kelas satu dengan penampilan necis dan parlente serapi itu tidak bisa membaca. Ia terpaksa menerima surat telegram itu. Ia membukanya dengan suara keras membacanya. Gerbong yang biarpun kelas satu tapi suara dari luar masih leluasa masuk mengganggu kenyamanan.

           Aku mendengarkan kalimat yang dia baca di bagian tengah “Jenazah Mami sudah dibawa ke Kalipang.” Menghentikannya tiba-tiba pemuda itu membaca membuatnya mengerungkan kening dan menatapku bingung dengan mengatakan masih ada kalimat lain. Kumohon lagi sampai di situ saja dan kuminta surat telegram dengan mengulurkan tangan tanpa melihatnya sambil kuucapkan terima kasih. Surat telegram dalam genggaman tanganku lagi dan memasukkannya ke dalam saku. Aku meliihat dari sudut mataku, Pemuda itu masih memperlihatkan keheranannya. Menganggukkan kepala kepadanya dengan takzim sambil mengulum senyum tanpa melihatnya ia faham maksudnya bahwa dalam telegram itu terdapat cerita besar dan sangat rahasia yang tidak perlu orang lain mengetahuinya. Iapun makfum, menyandarkan punggung dalam kebisuan kami berdua.

           Ternyata mataku masih normal. Kalimat yang dibaca pemuda di sampingku persis apa yang kubaca dalam telegram itu bahwa kau telah meningglkan kami untuk selamanya.

           Duduk tercekat dengan pandangan ke depan. Membiarkan badan digoyang gerak kereta tak ubahnya sebuah patung yang teronggok – onggokan benda tak bernyawa menyerahkan diri sepenuhnya lokomotif membawanya. Dari sudut mata dapat kulihat pemuda itu memperhatikanku. Terletup juga ucapan bela sungkawa dari mulutnya. Kuanggukkan kepala kepadanya dengan sangat hormat sebagai ucapan terima kasih dia yang turut berduka.

Hati dan pikiran sibuk. Kalau tidak bisa dikatakan kalut. Lalu-lalang pernyataan dan pertanyaan muncul dari rasio dan kebenaran pernyataan hati berseliweran, gaduh. Tak ubahnya pasar tempat jual beli itu dipenuhi pembeli dan pedagang saat menjelang Idhul Fitri dan Natal. Orang bergerumut. Para kuli angkut keluar masuk pasar dengan barang bawaannya dan suara-suara manusia.  

Penyesalan memang tidak datang di muka – yang pasti selalu datang terlambat. Seperti malam yang datang menutup seluruh cerita siang hari dan tirai penutup cerita di panggung-panggung pagelaran tamat menyelesaikan kisah hidup manusia. Tentang cinta dan penyesalan. Kau benar-benar mendahuluiku.

Lihat selengkapnya