Yang terbayang kesibukan di rumah. Anak-anak kita mempersiapkan pemakamanmu. Wuri yang melajang usianya sudah dua puluh sembilan tahun. Bersimpuh bersama duka yang bertahta diseluruh penampilannya. Tidak dapat menyembunyikannya bisa meraung-raung tangisnya. Teringat tidak bisa memenuhi permintaannya sesuatu yang ia pesan karena sifat pelupaku sewaktu pulang dari kota. Ketika itu ia sudah SMA. Nangis menggeru-nggeru seperti anak kecil kehilangan mainannya.
Anak perempuan satu-satunya yang selalu terbayang membuntutiku kemana aku pergi. Betapa berdukanya ia sekarang. Sampai maminya pergi untuk selamanya belum bisa memberikan sesuatu yang menjadi keinginan semua orang tua – cucu-cucu yang lucu. Anak-anak kita menyesal belum bisa memenuhi apa yang kau harapkan. Namun siapakah yang dipersalahkan dalam persoalan ini?
Pelayan kereta menyentuh pundakku. Kubuka mata perlahan. Ia menyodorkan beberapa jenis minuman di atas baki agar aku memilihnya. Kuambil segelas teh panas namun ia belum beranjak pergi – ia memandangku heran tidak mengambil roti yang ada di baki. Mempersilahkan aku supaya mengambilnya mengingat waktu hampir subuh, tetap kutolak. Perut tidak terasa lapar. Pemuda sudah tidak ada di sampingku membawa barang-barangnya. Ia sudah turun pikirku. Kusruput teh menyusuri kerongkongan dan menyandarkan punggung lagi.