Turun dari bis antar kota aku disambut dokar.
Seorang kusir yang mengenalku menyeberang jalan tergesa menyambut. Meraih koper yang kubawa menyeberang lagi jalan di atas aspal jalan Daendels sambil menuntunku ke arah dokarnya. Bau jerami dibakar menyergah nafasku – bau khas desaku.
Kusir mengatakan jenazah akan meninggalkan rumah duka jam sepuluh. Kulihat dengan gugup arloji di tangan menunjukkan tepat jam sepuluh. Menaiki dokar bersama kecamuk pikiran dibantu tongkat penyangga tubuh yang kubeli di toko souvenir di stasiun Pasar Turi. Kusir Kusuruh mempercepat laju kudanya. Ia mencambuk-cambuk kuda yang sebentar melangkah cepat saat menerima cambukan namun melambat lagi. Begitu berulang-ulang sampai terlihat di depan agak jauh gelombang arak-arakan bersamaan dokar memasuki jalan desa menuju rumah.
Kusir mengisyaratkan dengan kata-kata yang sulit mesti bagaimana mengucapkan kata – menyampaikan sesuatu yang ia tahu perkataan yang ia akan sampaikan itu membuatku berduka. Ia hanya menunjukkan gerakan tangan, arak-arakan di depan itu pelayat yang mengantarmu ke peristirahatan terakhir. Aku mengangguk dengan pandangan lurus ke depan tidak berkedip. Tidak kurasa air mata mengguyur krah bajuku.
Arak-arakan itu makin mendekat seiring dokar menyongsongnya.