Bandara Soekarno-Hatta, pukul 14.04
Sinar matahari yang menyilaukan dan udara kota Jakarta yang panasnya bisa disamain seperti berdiam di sauna berjam-jam, membuat cewek berambut panjang ikal itu berkali-kali mengibaskan tangannya saat turun dari pesawat jet pribadinya. Sayang, kekesalannya tidak sampai disitu saja. Saat masuk bandara pun, ia harus berjibaku melawan arus penumpang Arrival yang ramenya serasa seperti di pasar tumpah! Kok tumben sih bandara serame ini?! Begitu batin cewek cantik itu.
“COPEEEEEET! TOLOOOONG!” Tiba-tiba suara cempreng seperti kehabisan nafas seorang ibu yang sedang menggendong anak, sukses menyita perhatian semua orang termasuk cewek berwajah oriental itu. Sebelum satpam atau oknum keamanan lain beraksi mengeluarkan semua jurus bela dirinya, cewek itu sudah lebih dulu menyedot perhatian plus merebut rasa kagum dari semua orang dengan aksi kilatnya menendang jatuh punggung si pencopet brewok. Tentu saja si pencopet brewok itu tidak bisa melawan apalagi kabur, karena cewek itu menahan kedua lengan si pencopet dengan sangat kuat! Bikin si pencopet terheran-heran. Bagaimana bisa cewek secantik bidadari ini punya tenaga bak preman pasar?! Namun, rasa herannya langsung terputus karena aparat keamanan dan satpam sudah berdiri di depannya, dan siap menjebloskannya ke penjara. Sebelum dihakimi massa tentunya.
“Lain kali hati-hati ya, Bu sama barangnya.” Cewek berwajah cantik itu memberikan tas tangan coklat pada si Ibu. Si Ibu dan orang-orang yang masih setia berkerumun melihat aksi cewek tadi, ternyata masih setia juga diam melongo menatapnya. Bikin si cewel agak cemberut karena merasa omongannya tidak didengar.
“Bu?”
“Ah, iya! Maaf ya Ibu jadi melamun. Makasih ya udah nolongin Ibu. Kalo boleh tau namanya siapa?” Mungkin untuk menebus kesalahannya karena sudah mengacuhkan sang penolong, si Ibu berusaha berbasa-basi dengan menanyakan namanya. Cewek itu sempat terdiam beberapa saat memandangi uluran tangan si Ibu. Lalu tangan putih mulusnya membalas uluran tangan si Ibu dengan bonus senyuman yang ternyata tidak kalah bagus dengan senyum artis idola ibukota!

“Saya Shizuka.” Katanya dan setelah itu ia berbalik dan berjalan sambil mendorong koper pink nya, diiringi tepukan tangan dan suit-suitan tidak jelas dari ‘penonton setia’. Tapi sayang, Shizuka tidak peduli dengan tepukan tangan dan suit-suitan ramai nan berisik itu. Pikirannya sekarang ini sedang membayangkan acara reuni yang diposting Rido via grup Whatsapp. Pasti menyenangkan dan penuh haru setelah satu tahun tidak bertemu sejak kelulusan SMA. Tapi sayangnya Shizuka harus menunggu dua hari lagi untuk berkumpul dengan mereka. Memang, Shizuka harus menahan keinginan bertemu dengan mereka yang rasanya seperti bom siap meledak saking kangennya. Walau begitu, ia membiarkan pikirannya memutar pelan alur cerita masa-masa SMA bersama teman-teman Yakuza van Java. Revan yang kaku dan dingin tapi tegas dan perhatian. Rita yang kalem namun kekanakan. Mira yang cerewet dan galak tapi care banget sama temen. Rido yang santai dan hobi makan keripik kentang. Yukio yang tengil plus lebay minta ampun tapi keberadaannya bisa mencairkan suasana....
“Shizuka sama[1] ” Panggilan Shiratori san[2]—asisten pribadi Shizuka yang selalu setia segenap jiwa raga melayaninya, sukses membuyarkan alur kenangan yang sedang asyik dipikirkannya. Ternyata tanpa sadar, ia sudah berada di tempat parkir! Untung otaknya masih bisa sinkron dengan tujuannya yang memang harus ke parkiran—tempat Shiratori san menunggunya. Coba kalau otaknya ikutan hanyut dalam ‘film’ masa SMA nya? Waaah mungkin sudah hinggap di shelter busway kali ya! Di saat Shiratori san sibuk menaruh koper Shizuka ke bagasi, mata indahnya menatap awan-awan yang bertumpuk lembut di langit.
“Gue kangen banget sama kalian. Kalian sekarang lagi apa, ya....”
“Dou nasaimashita ka, Shizuka sama[3]?” Lagi-lagi, Shiratori san sukses bikin Shizuka salah tingkah plus mati gaya. Akhirnya ia cuma bisa menggelengkan kepalanya lalu buru-buru masuk ke dalam mobil.
****
Jakarta, pukul 21.00
“CUT! TAKE!” Suara seorang bapak bertopi dan berkacamata tadi, membuat suasana di sekitarnya langsung hingar-bingar mengungkapkan rasa lelah dan bahagia. Wajar dong! Adegan sudah berkali-kali diulang, dan memakan waktu syuting seharian full, akhirnya satu adegan terakhir berhasil disetujui sutradara! Beberapa orang ada yang lari sana lari sini tidak jelas. Ada juga yang sedang adu mulut. Tuh, antara penulis skenario vs sutradara dan asisten sutradara. Heuuh! Melihatnya saja sudah bikin pusing kepala!
“Rita!” seorang cowok bule ganteng yang tadi jadi lawan mainnya, tiba-tiba memanggilnya. Bikin cewek manis berambut panjang yang sepertinya ingin mengangkat telepon karena sudah daritadi bergetar, jadi harus menoleh ke arahnya.

“Iya?” Dengan senyum bete-terlihat capek dan malas sekali, Rita masih tetap menjawab panggilan Jevon—si cowok ganteng itu. Yaah, walau hapenya sudah berisik saja minta diangkat teleponnya.
“Kenapa, Von?” Rita malah makin bete karena bingung melihat tingkah Jevon yang malah garuk-garuk kepala, usap-usap lengan, lirak-lirik mata ke kiri-kanan. Duh! Pokoknya sudah seperti cacing mau digoreng deh! Sampai akhirnya Rita pergi meninggalkannya karena Jevon tidak juga angkat bicara. Rita tidak peduli wajah Jevon jadi cengok terlihat terbengong-bengong saat ia meninggalkannya. Mata bulat Rita sekarang ini sedang fokus dengan layar androidnya. Wajahnya yang tadi terlihat capek dan bete, seketika itu menjadi cerah ceria. Tentu saja, karena telepon itu dari....
“Shizuka! Ya Allah, udah lama banget! Aku... aku... kangen kamuuu....” Untung make up Rita mungkin make up kelas super kali yaa. Soalnya wajah ber make-up nya masih cling, utuh tidak berantakan gara-gara air mata yang mengalir di wajahnya! Pikirannya jadi melayang bebas ke masa-masa SMA dulu. Hati Rita jadi semakin terharu saat Shizuka bilang tidak sabar ingin bertemu dengannya. Shizuka juga mengingatkannya soal reuni lusa di atap sekolah SMA Widya Harapan. Tentu saja Rita masih ingat soal postingan Rido di grup Whatsapp itu. Rita sampai harus berantem dengan Ibunya yang merangkap sebagai Manajernya, gara-gara ia menolak semua tawaran main film dan iklan.
“Ritaaa, meeting syuting terakhir mau dimulai boo.” Suara bencis melengking yang sepertinya kru penata rias artis, sukses bikin Rita gelagapan dan Shizuka kebingungan.
“Ta? Lo... syuting? Lo... jangan-jangan....”
“Ah! Udah ya, Shi! Nanti lanjut lagi! Daaah!” Rita buru-buru menutup teleponnya dan berlari menghampiri si bencis yang Rita panggil Nok Ayu. Nok Ayu dengan logat cempreng mendayu-dayunya, memarahi Rita karena katanya wajah Rita sudah berantakan belepotan debu, keringet, kotoran mata, wah panjang deh repetannya! Aneh. Padahal tadi ia sempat berkaca di depan meja rias khusus artis, tapi masih terlihat cling kok. Ah, sudahlah Rita tidak peduli. Matanya memandang langit malam berbintang dari balkoni aula hotel yang menjadi lokasi syutingnya. Senyum tipis terus mengembang memikirkan kabar teman-teman Yakuza van Java lainnya. Duuuh, jadi kangen! Aku nggak sabar pengen ketemu kaliaaan! Begitulah teriakan batin Rita saat ini.
******
Kyoto, pukul 22.00
Yukio langsung masuk ke dalam setelah puas bersantai minum coklat panas di balkon apartemennya. Ia buru-buru menutup pintu geser kaca kamarnya sambil menepuk-nepuk lengan dan membuang napas ke arah kedua telapak tangannya. Rintik-rintik salju yang menusuk kulit karena musim dingin yang sedang menyelimuti Kyoto, bikin Yukio tidak bisa bertahan di luar lama-lama. Ia menyalakan lampu belajarnya lalu tangannya meraih pigura bergambar foto kelulusannya saat SMA bersama geng Yakuza van Java. Yukio jadi senyam-senyum sendiri memandang potret dirinya yang berwajah aduhai nyolotnya gara-gara pipinya dicubit Mira.

“Cubitan Mira... masih kerasa tuh sakitnya....” Yukio memegangi pipinya dengan mata tetap tertuju pada sosok Mira di foto yang merentangkan kedua jari tangan kanannya dengan wajah sangat cerah. Posenya ceria banget serasa puas mencubit pipinya. Tung! Yukio buru-buru menaruh pigura ke tempatnya semula karena tiba-tiba terdengar bunyi dari laptopnya. Matanya langsung menatap layar laptop yang ternyata masih menampilkan Facebook. Deg! Jantungnya serasa jogging plus sit up- push up mendadak. Ada chat dari Mira. Padahal sahabat sejak kecilnya itu cuma menanyakan kabar, tapi entah kenapa hatinya serasa berbunga-bunga. Wajahnya pun tanpa ia sadari mengukir senyum bahagia. Sayangnya, Yukio yang gengsinya segede gajah bengkak cuma bisa mengetik kata-kata ledekan untuk membalas chat Mira. Untuk mengalihkan hatinya yang saat ini sedang gempa skala seratus saking senangnya menerima chat Mira, ia membalikkan badan dan memandang koper-kopernya. Besok pagi ia harus naik Shinkansen menuju Chiba untuk ke bandara Narita. Tung! Lagi-lagi laptopnya berbunyi dan seketika itu senyum bahagianya berubah jadi senyum cengengesan ala anak usil. Kata-kata kemarahan Mira yang merespon ejekannya, bikin ia semakin tidak sabar ingin bertemu dan membuat cewek galak itu jantungan dengan kedatangannya. Ya, Yukio memang sengaja tidak memberitahu tanggal kedatangannya ke Indonesia, walau Mira sudah berjuta kali menanyakannya. Ia langsung menutup akun Facebook-nya setelah membalas ‘udah ya mau bobok’ ke Mira, dan setelah itu mematikan laptop. Yukio buru-buru naik ke tempat tidur, menarik selimut sampai menutup seluruh tubuhnya. Bukan karena suhu udara di Kyoto yang sampai minus tiga derajat, tapi karena dirinya sudah tidak sabar ingin menyambut hari esok.
*****