Revan berjalan menuju ruang klubnya yang jaraknya cukup jauh dari lapangan basket tempat ia bertemu Mira tadi. Masih kepikiran dengan ekspresi Mira saar mendengar nama Izantyo dan Raja Neraka tadi. Dia memang pernah mendengar nama Izan dari teman-temannya saat SMP dulu. Cowok yang katanya terkenal kuat dan kejam. Hmm...wajar saja ekspresi Mira jadi gitu dengar nama Izan. Mungkin....dia juga pernah dengar. Revan menghela napas sambil melihat langit berwarna oranye cerah. Matanya lalu melihat ke arah jam di pergelangan tangannya.
"Hmm...udah jam setengah lima, ya." Gumamnya sambil berjalan dan sesekali menendang-nendang batu kecil. Saat tiba di depan ruang klub seni dan membuka pintu, ia kaget melihat cewek berambut panjang bergelombang sedang berdiri mematung menatap sebuah kanvas.
"Shizuka?" Revan berjalan masuk ke dalam. Cewek cantik itu menoleh sesaat lalu siap-siap hendak kabur. Tapi senyum tipis Revan yang berdiri sedikit jauh di depannya, bikin ia mengurungkan niatnya untuk kabur dan menghentikan langkahnya. Dengan tenang, Revan mengambil dua kursi lipat dan menaruhnya di depan lukisan yang tadi dilihat Shizuka.
"Ayo, duduk." Dengan ramah, Revan mempersilahkan Shizuka duduk. Tapi yang ditawarkan, hanya diam berdiri mematung seperti ragu menerima tawaran Revan. Revan jadi ikut memandang lukisan yang tadi ditatap Shizuka.
"Lo suka lukisan?"
Shizuka mengangguk dan akhirnya ia melangkah pelan mendekati kursi dan duduk. Revan beranjak dari tempatnya berdiri, untuk membuat kopi. Suasana di ruangan yang sepi walaupun ada orang selain dirinya, tidak bikin Revan bosan karena sudah biasa.
"Nih." Revan menyodorkan mug bergambar lucu berisi teh. Shizuka terdiam menatap mug tersebut lalu menatap Revan.
"Gue udah buatin, lho. Jadi lo harus mau, ya.".
"Arigatou [1]." Shizuka meraih mug yang diulurkan Revan padanya.
"Sama-sama." Revan tersenyum tipis ke arahnya lalu duduk dan menyeruput kopinya. Shizuka menoleh heran dan Revan menangkap jelas raut kebingungannya.
"Ahahahha...nggak kok nggak. Bahasa Jepang yang gue tau cuma arigatou doang."
Shizuka menyeruput tehnya lalu kembali menunduk.
"Kenapa? Nggak enak, ya? Hahahha...sori ya disini cuma ada..."
"Enak kok. Enak banget." Mata Shizuka masih memandang lekat-lekat tehnya. Revan tersenyum dewasa memaklumi Shizuka yang bukan orang Indonesia pada umumnya. Cara ngomongnya ternyata agak aneh lho. Kalo seandainya bukan Shizuka yang ngomong, pasti Revan sudah senyam-senyum.
"Abisin aja. Kalo mau nanti gue bikinin lagi ntar."
Shizuka cuma diam dan terus meneguk tehnya. Suasana kembali hening karena tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Sesekali, Shizuka melirik ke arah Revan yang sedang menatap lukisan.
"Lukisan lo bagus. Maaf, ya. Gue...asal masuk aja." Shizuka akhirnya berkata pelan tanpa melihat ke arah Revan. Revan menggeleng pelan.
"Santai aja kali. Gue seneng kok ada yang sudi datang ke ruang klub gue. Dan...makasih pujiannya."
Sayangnya, Shizuka tidak merespon perkataan Revan. Tapi, hal ini tidak membuat Revan patah semangat untuk mengobrol dengan Shizuka.
"Shizuka..."
Cewek itu tidak menoleh dan terus saja menatap mug bergambar teddy bear itu. Namun, itu sudah cukup bagi Revan. Mengerti saat ini Shizuka sedang dalam kondisi 'anti teman'.
"Lo tau Mira sama Yukio..."
"Emang kenapa sama mereka?" Shizuka langsung memotong kata-kata Revan sambil menoleh dengan tatapan dingin. Ditatap sedingin es kutub seperti itu, Revan langsung keki.
"A! Ng...nggak. Mereka tuh pengen temanan sama lo. Kenapa sih lo nggak terima mereka?"
Shizuka menghela napas. Lagi-lagi pertanyaan kayak gini. "Gue...nggak suka punya teman."
"Kenapa?"
Kali ini Shizuka terdiam. Pegangan di mug nya jadi menguat.