Minggu, rumah Rido pukul 11.00
Rido, Yukio dan Mira sedang mengobrol-ngobrol santai di ruang tamu sambil menunggu Revan dan Rita yang belum datang. Katanya sih, Revan sedang ada urusan dengan keluarganya sebentar. Sedangkan Rita masih berada di jalan. Sebenarnya sih, Yukio ingin cepat dimulai saja rapatnya, tapi ia langsung mendapat ceramah panjang kali lebar Mira. Kan tidak enak kalau rapat tapi tidak lengkap orangnya. Begitulah repetan judes Mira.
"Tuh anak ngapain sih, lama bener." Akhirnya Yukio cuma bisa berkata begitu sambil melipat tangannya di depan dada. Sesekali, matanya melirik jam tangannya dengan wajah kesal.
"Sabar aja sih. Lo tuh ya orangnya nggak sabaran banget!" Balas Mira.
"Hahhaha...kalian emang selalu kayak gini, ya?"
"Hahaha...." Mira cuma bisa ketawa garing saat Rido berkata begitu. Bingung dan tidak tahu harus jawab apa kalau ditanya begitu. Mira hanya merasa kalau Yukio sudah keterlaluan, yaa harus dikasih tahu. Itu saja.
"Dulu waktu sama Shizuka, gue juga gitu, kok. Hahahha...gue selalu dapet pukulannya Shizuka. Apalagi pas ke rumahnya."
Keliatan, kok. Mira dan Yukio kompak melirik dengan wajah nyinyir ke arah Rido. Melihat wajah Rido yang kecokelatan dihiasi bekas luka-luka, tidak perlu cerita pun, mereka pasti sudah menduganya.
"Ngomong-ngomong, rumahnya Shizuka kayak gimana sih? Lo pernah ke rumahnya, nggak?"
"Pernah, Ra. Rumahnya itu super besar tapi aneh. Kayak klenteng gitu tapi gede. Luaaas banget! Terus pelayannya cewek cantik-cantik pake seragam pelayan gitu. Kalo bodyguard dan yang katanya pengasuhnya itu pake hmmm...apa tuh namanya...ki...ki..."
"Kimono?" Potong Yukio.
"A! Iya itu! Hebat lah pokoknya." Rido sesekali ketawa ngakak. Ternyata lucu juga kalau ketawa! Pikiran Mira mulai membayangkan rumah Shizuka seperti yang dikatakan Rido. Mira bergidik merasa aneh. Yukio sih bersikap biasa saja karena sudah terbayang seperti apa wujud rumah Shizuka. Otaknya ngasih gambaran kalo rumahnya Shizuka tuh model Jepang kuno dan banyak samurai-samurai disana. Apalagi pelayan-pelayan cantik....huwaaaah~.
"Maaf, ya gue telat." Tiba-tiba sebuah suara datang dari arah belakang Yukio dan Mira yang bikin mereka semua menoleh. Huh! Ngerusak khayalan gue aja. Yukio yang tadinya mesem-mesem tidak jelas karena sedang asik berkhayal dilayani pelayan-pelayan cantik, jadi cemberut saat melihat siapa yang datang.
"Ya, silahkan! Silahkan! Belum mulai, kok." Rido mempersilahkan Revan masuk.
"Heh! Lo kemana aja sih?! Janjiannya kan jam sepuluh! Ini udah jam sebelas lebih tau!" Yukio berkata begitu dengan nada kesal yang berapi-api.
"Udah sih, Ki, yang penting kan Revan udah dateng." Untungnya, Mira langsung angkat bicara. Mira tidak bisa membayangkan bakal jadi apa kalau Revan yang jawab. Bisa jadi tawuran di rumah Rido lah!
"Rita mana?" Revan bertanya sambil mengeluarkan notes dari kantong jaketnya.
"Sebentar lagi, kok katanya. Gue udah WA dia tadi."
"Hmmm...gitu ya. Gue nggak bisa lama-lama sih disini, Do. Gue ada janji sama nyokap." Mata Revan tetap terpaku pada notesnya dan sesekali melihat jam tangannya.
"Enak aja! Udah telat, nawar lagi! Nggak bisa! Pokoknya sampai rapat sele...AW!" Yukio tidak bisa melanjutkan repetannya gara-gara Mira mencubit lengannya.