Minggu berikutnya, pukul 18.45
Mereka semua tiba di depan rumah Rido tepat waktu! Yukio yang memakai jaket hitam dengan celana kargo tiga perempat, terlihat seperti siap tempur semangat empat lima. Begitu juga dengan Rido yang memakai kaos dipadu jaket serta celana olahraga panjang dan sepatu kets. Revan dengan jaket biru tua garis putih yang menjadi ciri khasnya, tetap keren walaupun tujuannya berantem.
"Hahahhaa....Mira! Lo ngapain pake baju seragam tim basket kayak gitu? Terus, itu? Hahahhaha...bola basket? Ngapain lo bawa-bawa begituan! Hey, cuy! Kita mau berantem cuy berantem. Bukannya...ADUH!ADUH!ADUH!"
"Lo bisa nggak sih nggak usah ngomentarin gue? Ini juga mikirnya seharian, tau!" Seru Mira sambil melepaskan jewerannya di telinga Yukio.
"Rita, lo nggak bawa apa-apa?" Tanya Rido melihat Rita yang memakai celana pendek dipadu kaos lengan pendek bertuliskan GO FIGHT! dan jaket berwarna pink. Bahunya memanggul tas ransel kecil.
"Nih, hehehhehe..." Rita menunjukkan semprotan obat nyamuk dan parfum ruangan dengan polosnya.
"Hahahahhahha....yang ini imut-imut bego. Kita kesini bukan mau bersihin ruangan..."
PLOK! Kali ini, Mira memukul bahu Yukio untuk menyuruhnya diam.
"Ya, udah kita cabut, yok! Gila, kalo terlambat kan kita dianggep kalah!" Revan langsung berlari diikuti mereka di belakang. Tepat jam tujuh, mereka tiba di tempat janjian. Gedung pabrik di malam hari ternyata lebih menyeramkan. Tidak ada lampu apalagi orang. Mira merangkul lengan Rita yang sedang sama-sama ketakutan. Begitu Revan membuka pintu, mendadak lampu di dalam ruangan menyala terang. Saat mereka semua telah masuk, dua orang berbadan kekar langsung menutup pintu masuk.
"Selamat datang! Selamat datang! Kalian hebat juga ya berani dateng." Tiba-tiba saja Izan muncul sambil bertepuk tangan yang bikin mereka berlima agak kaget. Saat itu juga, muncul sekitar belasan orang yang sebagian besar membawa tongkat kayu di hadapan mereka dengan mata siap membunuh. Ada juga yang senyam-senyum menyeringai jahat.
"HEH! CEMEN LO NGGAK BERANI SENDIRIAN! SINI LO MAJU! KITA DUEL SATU LAWAN SATU!" Yukio yang ada di baris depan bersama Rido dan Revan, sudah koar-koar kencang saja seperti monster ngamuk.
"Oh~ nyantai, bro. Ah! Lo yang waktu itu dateng ke rumah cewek gue, ya. Hmm...emang seharusnya gue bikin mampus aja waktu itu, ya." Kata Izan dengan santainya.
"Sayang, kamu janji kan nggak berantem lagi? Cuma kali ini aja lho."
"NANA?!" Seru Rita dan Rido bersamaan. Kaget juga melihat dia ikut-ikutan muncul di arena berantem seperti ini. Mendengar namanya disebut, Nana menoleh dengan pandangan jijik ke arah mereka. Malah merangkul Izan dengan mesranya lagi! Dasar nyebelin-cewek jahat!
"SIALAN! HEH, CEWEK SIALAN! LO HARUS TANGGUNG JAWAB UDAH BIKIN SHIZUKA JADI BEGITU!" Seru Rido yang bikin Rita jadi menoleh ke arah Rido. Rita baru kali ini sih melihat Rido semarah-seemosi itu. Rido tipe orang super sabar. Bahkan dibanting orang, dijahatin orang, dipukuli sampai babak belur oleh Izan saat SMP dulu pun, Rido tidak pernah berkata kasar. Tapi sekarang.....Rita sadar. Sesayang itu Rido pada Shizuka. Entah perasaan sayang sebagai teman atau....