“WOOW!” Mulut Rita, Nana dan Rido menganga lebar, mungkin selebar mulut paus siap sarapan kali yaa. Wajar sih! Habisnya gerbang tinggi setinggi sengget mangga terpampang di depan mereka. Bola mata Rita sampai tidak henti-hentinya berputar-putar mengagumi rumah Shizuka yang bagaikan istana. Wow! Baru kali ini lihat pagar setinggi monster!
“Woy! Bengong aja. Yuk, masuk.”
Begitu Shizuka membuka gerbang, mulut mereka lagi-lagi dibuat menganga lebar. Di depan mereka, sepuluh eh bukan, mungkin dua puluh orang berpakaian Kimono dan cewek-cewek muda berpakaian ala pelayan-pelayan Eropa membungkuk dalam untuk menyambut mereka.
“Shizuka sama, okaeri nasai.[1] ” Busyet! Kompak banget deh ngomongnya! Bagai koor paduan suara!
“HAAAAAAAA?! A...APAAN, NIH? APAAN? PESTA RAKYAT? HA? TERUS COWOK-COWOK YANG PAKE BAJU HANDUK ITU MAU NGAPAIN?! HAAAA...”
PLAK! Shizuka memukul bahu Rido yang tiba-tiba teriak-teriak tidak jelas seperti sedang kesurupan setan. Tapi Shizuka tidak bisa menyembunyikan tawa kecilnya mendengar Rido berkata 'baju handuk' saat melihat samurai-samurainya. Itu kan Kimono bukan baju handuk! Hihihi....
“Berisik banget, sih lu! Kayak orang bego, tau! Tuh, kayak Nana dan Rita tuh di....”
Shizuka tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat berbalik melihat Nana dan Rita malah sibuk selfie di depan rumahnya. Hhh...yang ini lebih parah.
“Iiih! Kalian ngapain malah foto berdua gituuu!”
“Abis, kita nggak pernah liat klenteng sebagus dan seluas ini, Shi. Eh, Nana ayo foto lagi.”
“Enak aja klenteng! Ini rumah gue! Rumah gue tuh emang gaya Jepang jadul!” Shizuka menarik tangan mereka berdua dan berjalan melewati pelayan dan samurai-samurainya. Ya, rumah Shizuka memang bergaya Jepang kuno dengan hamparan halaman yang mungkin cukup untuk mengadakan pertandingan sepak bola tingkat Nasional! Kolam ikan yang menghiasi halamannya, menjadikan rumah Shizuka serasa sangat asri. Lho? Rido mana? Shizuka menengok kiri-kanan mencari Rido dan saat berbalik ke belakang, Shizuka melihat Rido yang masih melongo celingak-celinguk melihat rumah Shizuka. Malah sempat mengobrol segala dengan salah satu bodyguard nya yang berkimono! Ya, ampuuun!
“Eh, lo latihan Wushu? Karate? Atau Kungfu? Mau coba tanding sama gue nggak?”
Tapi sayangnya cowok berkimono yang diajak mengobrol dengan Rido itu cuma diam. Saat melihat Shizuka menghampirinya, ia buru-buru membungkuk dalam.
“A! Aduh! Aduh! Aduh!” Rido mengaduh kesakitan saat Shizuka menjewer sambil menyeretnya.
“Salah sendiri, siapa suruh bloon!” Langkahnya ditekan-tekan kuat saat berjalan masuk ke rumah. Tangan kanannya masih tetap menjewer Rido.
“Ya, ampun Shizuka! Sakit, nih! Udah dong lepasiiin!”
*********************
Walaupun mereka sudah masuk ke dalam, tetap saja kepala mereka celingak-celinguk begitu melihat bagian dalam rumah Shizuka yang ternyata seperti dugaan mereka.
“Hihihi...bener-bener sesuai dengan image Shizuka, ya. Jepang banget.” Bisik Nana pada Rita.
“Oh, jadi rumah di Jepang sana kayak gini, ya Na.” Bisik Rita juga.
“Iya, ya. Terus banyak cowok berbaju handuk kayak yang gue liat di film-film kartun gitu. Wah, gue pengen tuh adu kekuatan sama mereka.” Rido jadi ikut-ikutan nimbrung. Shizuka diam mengepalkan tangannya menahan kesal. Mau sampai kapan coba, mereka bisik-bisik tidak jelas begitu! Fiuuh!
“Hei, kalian! Gue denger, tau! Dasar kayak ibu-ibu arisan aja ngerumpi! Ayo, cepet masuk! Kalian mau ya sampe nginep disini?”
“MAUUUU!” Seru mereka kompak sambil pasang muka ceria. Shizuka kaget mendengar jawaban mereka. Dasar bego! Memangnya kenapa sih dengan rumah yang seperti ini? Hmmm... wajar kali ya. Mungkin di Indonesia cuma rumah gue yang seperti ini. Shizuka menghela napas sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka bertiga.
“Yuk, ke kamar gue.” Ajaknya sambil menaiki tangga dari papan kayu. Begitu mereka memasuki ruangan, lagi-lagi mereka dibuat planga-plongo melihat ruangan yang kali ini....biasa banget. Yaah, seperti kamar-kamar di sinetron gitu lah.
“Kalian…udah puas noraknya?” Shizuka langsung bicara spontan dan sukses bikin wajah mereka bertiga merah padam menahan malu. Sampai salah tingkah segala, lho!
“Ahahahahahahha…..kalian lucu banget, sih. Nggak kok nggak. Gue cuman bercanda. Habisnya, kalian diem tapi mikir kemana-mana lihat rumah gue. Mikir apaan sih?” Kata Shizuka yang disambut dengan gelengan kompak mereka bertiga.
“Tapi, Shi. Padahal tadi lorongnya, luarnya bergaya Jepang. Kok, kamarmu.....biasa banget?” Maksud Nana bertanya begitu sih untuk mengalihkan pertanyaan Shizuka.
“Yah, gue bosan lah kalo semua harus di set gaya Jepang. Jadi, begitu gue datang, gue bilang sama Mama kalo kamar gue nanti harus di set biasa aja gitu.” Mereka bertiga mengangguk-angguk polos. Kagum dengan Shizuka yang ternyata cewek sederhana. Acara tanya-tanya soal gaya rumah Shizuka jadi berhenti sebentar, saat tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.
“Shizuka sama[2] . Saya datang membawa cemilan buat Shizuka sama dan teman Anda.” Terdengar suara lembut seorang wanita dari luar pintu. Shizuka langsung berdiri dan membuka pintu. Begitu melihat gadis pelayan yang ternyata super cantik bak model Amerika di mata Rido, ia langsung melesat mendekati si pelayan. Sukses banget lah menyihir Nana dan Rita sampai bengong kompak membulatkan mulut saat menatap Rido!
“Halo, cewek. Ternyata bisa bahasa Indonesia juga, ya. Cantik-cantik kok jadi pelayan sih. Jadi pelayan hatiku saja….”
BUG! Lemparan buku Ensiklopedia tebal Shizuka, sukses mengenai kepala Rido yang bikin dia kelepek-kelepek jatuh sambil senyam-senyum. Shizuka langsung mendatangi pelayannya. Pelayan itu hendak mengambil Ensiklopedi yang tadi dipakai Shizuka untuk menabok Rido.
“Maaf, ya. Temen gue emang gitu. Agak-agak sarap.”
Pelayan tersebut membungkuk hormat.
“Sama sekali tidak masalah. Kalau begitu saya permisi.” Katanya sambil membungkuk sekali lagi dan pergi. Shizuka menutup pintu sambil membawa nampan berisi empat cake stroberi lezat dan empat gelas cantik berisi sirop seperti yang ada di sinetron-sinetron. Shizuka melirik sinis ke arah Rido yang masih senyam-senyum. Tidak menyangka seorang Rido yang sepertinya berwibawa, tegas, terlihat menyeramkan begitu, tiba-tiba berubah total menjadi tokoh Shinchan saat melihat cewek cantik.
“Ayo, dimakan. Nggak usah canggung gitu. Anggap aja rumah sendiri. Kan kita sahabat.”
“Gue…sahabat lo juga, kan Shi? Hehehehe…” Baru juga sadar dari pingsan, eh tiba-tiba cengengesan. Bikin Shizuka dan yang lain kaget melotot menatap Rido.
“Te...temee![3] Kok udah sadar?! Kepala lo kepala batu, ya? Ha?!”
“Nggak dong. Kan gue kuat. Nah, gue juga sahabat lo kan,? Jadi klub Karate…”
“NGGAK!” Kata Shizuka tegas sambil memakan cake nya bulat-bulat. Rita dan Nana senyum-senyum. Tapi dalam hati mereka berdua, masih tetap tidak menyangka ternyata Rido punya sisi yang tadi. Persis seperti pikiran Shizuka tadi.
Hhh…yang tadi itu pasti cuma khayalan aku, kan? Ya, aku pasti sedang melamun tadi! Masa sih? Rido yang ditakuti kedua setelah Izan ternyata bisa gitu? Ditambah lagi, planga-plongo tadi? Iih…padahal aku sempat suka. Rita melirik nyinyir ke arah Rido yang masih nyerocos membicarakan pelayan-pelayan wanita Shizuka.
What?! Rido kok berubah gitu, sih? Masak tadi lihat cewek yang memang cakep, langsung melesat mendekat gitu. Menggombal pula! Ih, amit amit. Nana sibuk memikirkan sikap Rido tadi sambil makan dengan wajah tidak berselera.
“Apa liat-liat?! Muka kalian kok nggak ngenakin banget sih liat gue!?” tiba-tiba saja Rido melotot garang ke arah mereka, yang bikin Nana dan Rita reflek menunduk. PLOK! Shizuka menepuk pelan pipi Rido.
“Shizuka! Sakit nih! Daritadi lo nganiaya gue! Salah apa coba gue?!”
“SALAH BANGET!” Seru Shizuka, Rita dan Nana kompak yang bikin Rido jadi bengong terus garuk-garuk kepala memikirkan kesalahannya. Tiba-tiba, pintu kamar Shizuka terbuka lebar sampai mereka semua menoleh. Rita, Nana dan Rido terkejut. Di depan pintu, muncul laki-laki tinggi besar berkimono dengan wajah garang. Terdapat pula sayatan di mata kiri dan keningnya. Rita dan Nana sudah saling peluk ketakutan. Tapi Rido dengan gagah beraninya langsung berdiri dan berhadapan dengan pria itu.
“HEH, JELEK! MAU NGAPAIN LO?! MAU BERANTEM? HA? AYO, SINI!” Rido sudah siap jotos tuh orang dengan posisi kuda-kuda Karatenya.
“Ri..Rido! I..itu…”
“Aah, Shizuka! Tenang aja. Dia pasti mau nyulik lo tuh. Dan pastinya, nih badut jelek udah ngalahin bodyguard-bodyguard lo itu. Hhh! Tapi gue nggak akan kalah.”
“Rido! Jang…”
Tapi sayangnya, Rido tidak mendengar peringatan Shizuka dan berlari maju menyerang pria itu. Dengan mudahnya bogem Rido ditahan hanya dengan satu tangan besarnya saja! Lalu setelah itu, membanting Rido dengan kuat.
“KYAAAA! TOLOONG! AMPUN, PAK! AMPUN! JANGAN BUNUH KAMI! SHIZUKA AJA YANG DICULIK! DIA ORANG KAYA PAK!” Rita jerit-jerit heboh sambil memeluk Nana yang juga ketakutan dan menunjuk-nunjuk Shizuka. Tuuing! Shizuka kesal plus kaget juga mendengar Rita menumbalkan dirinya. Tapi lagi-lagi ia cuma bisa menghela napas panjang. Tiba-tiba, Rido berdiri dengan susah payah siap menghajar bapak-bapak berbadan gede di depannya. Shizuka sampai beranjak dari duduknya. Cowok tiada banding, pantang mundur, gila Karate itu sepertinya harus didekati dan diteriaki dulu baru mengerti.
“RIDO! DIA TUH PAPA GUE!” Shizuka berkacak pinggang di depan Papanya. Rido yang tadi sudah ambil ancang-ancang siap jotos, jadi harus mengerem mendadak dan jatuh dengan wajah bengong karena kehilangan keseimbangan.
“Eh?”
Rita dan Nana juga memandang pria tersebut dengan mata tidak percaya. Pria seram itu tersenyum ke arah mereka. Hiii! Bikin Nana dan Rita jadi tambah bergidik ngeri.
“Dia beneran Papa gue, kok. Kan gue udah bilang Papa gue tuh mantan Yakuza. Wajar kan kalo serem begitu!” Shizuka agak kesal juga lama-lama dengan sahabatnya itu. Polos sih boleh saja, tapi tidak sungguh terlalu seperti gitu juga dong! Tiba-tiba dari mulut pintu, muncul seorang wanita cantik berpakaian elegan. Wajahnya yang putih bersih, sudah bisa disamakan dengan artis-artis Hollywood! Sangat cantik!
“Halo, selamat malam.” Sapa seorang wanita dengan senyum indah. Rido yang masih kesakitan karena jatuh tadi, langsung menoleh ke arah sumber suara. Seketika itu, mata Rido berbinar-binar begitu juga dengan Rita dan Nana. Ada setan ada malaikat. Begitulah yang ada di pikiran Rita, Nana, dan Rido. Set! Rido dengan cepat langsung bangkit menghampiri wanita itu. Sampai pegang tangan segala, lho!
“Seniorita cantik. Selamat malam. Pasti anda kakaknya Shizuka, ya. Malam ini Anda cantik sekali.”
Wanita itu cuma bengong terkaget-kaget melihat Rido tiba-tiba mendekatinya. Shizuka menjewer kuping Rido untuk menyingkirkan dia yang entah kesurupan apa bisa berubah jadi super aneh begitu.
“DUDUK SINI! ITU MAMA GUE BUKAN KAKAK GUE.”
“HAAH?! MA…MAMA?!” Yaah, mulai lagi deh koor paduan suaranya. Shizuka lagi-lagi harus menghela napas panjang. Sepertinya kekagetan mereka tidak akan ada habisnya selama mereka masih berada di rumahnya. Wanita yang dipanggil Mama oleh Shizuka itu, tersenyum hangat ke arah mereka. Bikin Rita, Nana, dan Rido yang tadi berekspresi tidak percaya, jadi ikutan senyum serasa terbang saking manisnya senyum Mama Shizuka. Mama Shizuka duduk di sofa di samping Papa seperti Shizuka dan ketiga temannya.
“Shizuka, sekarang kamu bisa jelasin kan sayang. Kenapa perban yang ada di tangan dan keningmu itu.”
“Oh, nggak perlu Shizuka, Kak. Biar saya yang akan menjelaskannya dengan penuh cinta untuk…”
BUG! Shizuka menonjok muka Rido dengan pedenya. Mungkin saking kesal dan bingungnya melihat Rido tiba-tiba bertingkah aneh seperti itu.
“Dibilangin dia itu Mama gue! M.A.M.A! Mama! Mama! Lo ngerti nggak sih? Dasar bego!”
“Shizuka! Kamu jangan kasar sama temen! Dia bermaksud baik, kok. Papamu aja nggak marah kan?” Tegur Mama yang diamini dengan melet-meletan Rido dengan maksud mengejek. Shizuka cuma bisa diam merengut. Huh! Awas lo ya!
“Shizuka…”
“A! i…iya…Mah. Ini…tadi Shizuka dan teman Shizuka dijebak sama penjahat. Pe...penjahat itu mau merkosa Shizuka, Mah! Shizuka dipisahin dari mereka bertiga ini. Un…untungnya..Shizuka jago bela diri tapi…ada salah satu penjahat yang mau nusuk Shizuka…terus…terus…iya, kan?”
Mereka bertiga malah saling lirak-lirik ditatap tiba-tiba oleh Shizuka. Sebagian besar ceritanya sih benar, walau ada yang dikarang-karang sedikit. Rita tahu kalau Shizuka sangat tidak berbakat bohong. Tapi yang paling bikin mereka kepikiran, kenapa Shizuka tidak cerita saja yang sebenarnya kalau selama ini ia diancam Izan? Malah mengarang bebas mau dibunuh plus diperkosa? Shizuka sudah memberikan sinyal kedip-kedip mata ke mereka. Tentu saja menyuruh mereka ‘kerja sama’ dengannya, dong.
“A…aa~! Bener Tante. Saya saking takutnya lapor polisi, deh.” Rita buru-buru memandang ke arah Mama Shizuka.
“Iya, Tante. Kalo Nana karena saking takutnya, Nana…Nana cuman bisa nangis.”
“Iya, saya juga kaget liat Shizuka dikunciin sama rombongan penjahat-penjahat itu. Terus, saya hajar aja mereka. Habis itu, Shizuka datang dengan tangan dan jidatnya yang terluka, jadi saya bawa ke rumah sakit deh.” Cerita Rido diamini anggukan Shizuka. Mama bicara sama Papa menggunakan bahasa yang tentu saja terdengar asing bagi teman-teman Shizuka. Papa cuma manggut-manggut mengerti duduk perkaranya.
“Hmmm…begitu, ya. Makasih, ya hmmm…siapa nama kalian?”
“Rita.”
“Rido.”
“Nana.”
“Makasih, ya udah temenan sama Shizuka. Sering-sering aja main kesini.” Kata Mama dengan senyum ramah. Melihat senyum Mama Shizuka yang sangat menghangatkan hati, mereka bertiga mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Puk! Tiba-tiba, tangan Mama memegang pundak Rido yang memang duduk di sebelahnya. Rido serasa melayang. Oh, ditepuk wanita cantik.
“Rido.”
“A! I…iya…Tante..iya?”
“Jaga Shizuka, ya. Kalo dia kelewat bandel marahin aja. Tante serahin deh ke Rido.”
“Haah? Ma….MAMAAA!”
“Oh, tenang aja, Tante. Untuk wanita paling cantik sedunia kayak Tante. Serahkan saja penjagaan Shizuka ke saya! Cowok terkuat se…”
DUG! Shizuka menginjak kaki Rido yang lagi-lagi ngomong melantur. Rido pasti sudah teriak-teriak mengaduh kesakitan kalau tidak ditatap Shizuka dengan sorot mata tajam setajam silet. Hiii! Bikin bulu kuduk reflek berdiri lah!
“Wah, makasih, ya. Rita dan Nana juga ya. Berteman baik sama Shizuka, ya.”
Nana dan Rita mengangguk dengan wajah sumringah. Sementara Shizuka menepuk wajahnya. Meratapi tingkah Mamanya yang kelewat ramah dengan ketiga sahabat barunya. Sudah begitu, Mama juga menyuruh Rido jadi bodyguard segala lagi?! Memangnya Shiratori san yang kuatnya bisa disamakan dengan Rambo, belum cukup apa?
“Waduh! Gawat! Udah jam sembilan! Tante, saya harus pulang.” Rita panik banget saat melihat jam tangannya. Mama dan Papa Shizuka bangkit dari duduknya. Shizuka menawarkan mereka bertiga untuk diantar pulang oleh Shiratori san dengan mobil. Tapi mereka menggeleng. Tidak bisa membayangkan orang tua mereka bakal pingsan melihat anaknya diantar cowok tinggi besar berkimono pula!
“Nggak pa-pa, kok Shizuka. Kalo dari sini, mah deket kok.” Rita buru-buru mengibaskan tangannya, begitu tiba di luar gerbang rumah Shizuka. Hiii, takut saja melihat Shiratori san! Matanya itu lho, berasa bersinar seram di tengah gelapnya malam! Tajam menusuk!
“Hmmm…oke deh. Hati-hati, ya.”
“Tenang aja. Rido yang kuat ini bakal…”
“Ya…ya…ya…ngerti…ngerti…” Tepis Nana yang mulai berani menyeret badan Rido untuk pulang. Shizuka terus memandang kepergian mereka sambil tersenyum.
“Yah, mau gimana lagi. Mereka emang polos. Sama kayak gue yang belum tahu apa-apa daerah sekitar sini. Yosh! Hari ini mau istirahat. Istirahaaat.” Gumam Shizuka sambil kembali masuk ke dalam.
***********************
Izan memandang langit-langit kamar yang gelap. Bukan di kamarnya, melainkan di kamar Rizal yang jauh lebih sempit dibanding kamarnya. Tapi, Izan seperti tidak terlalu memikirkan soal itu. Malah Rizal yang merasa tidak enak dengan Izan. Apalagi bos preman sekolah itu lebih memilih tidur di bawah tanpa alas apapun, bikin Rizal makin merasa tidak enak sampai tidak bisa tidur.